Saut Situmorang Serukan Pemimpin Bersikap Zero Tolerance

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

223

MALANG — Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Thony Saut Situmorang menyebutkan, seorang pemimpin harus memiliki sikap zero tolerance terhadap tindak korupsi sekecil apapun.

Menurutnya, korupsi dimulai dari pintu-pintu yang sangat kecil. Tapi ketika seorang pemimpin tidak bisa menjaga, maka akan menjadi besar sehingga potensi terjadinya korupsi juga akan menjadi besar.

“Jadi yang dimaksud dengan zero toleransi adalah bahwa pemimpin harus memegang pedang untuk kemudian dijaga agar tetap tidak toleran terhadap sekecil apapun tindakan korupsi. Bung Hatta sudah memulai contoh itu, dan di negara-negara besar pemimpinnya juga seperti itu,” ujarnya saat menghadiri acara diskusi anti korupsi di Balai Kota Malang, Selasa (2/9/2018). Jangan toleran dengan keluarga sendiri, partai sendiri maupun teman sendiri, imbuhnya.

Oleh karenanya, memberantas korupsi sangat ditentukan oleh gaya dari seorang pemimpinnya. Seperti halnya juga di dalam rumah tangga. Ketika anak-anak disuruh mematikan televisi, pasti akan dimatikan. Tapi kalu dibiarkan saja, hingga malam mereka juga akan terus menonton televisi.

“Untuk itu, KPK dalam pencegahan korupsi banyak berinteraksi dengan pemimpin-pemimpin agar mereka dapat memegang pedang perubahan menuju lebih baik,” akunya.

Dikatakan Saut, saat ini di Indonesia sebenarnya banyak orang baik. Hanya saja ketika mereka ingin melakukan sebuah perubahan, sering kali tidak konsisten.

Padahal kalau mau jujur, sebenarnya semua sudah diatur di republik ini. Dalam hal membuang sampah saja sudah ada Peraturan Daerahnya (Perda). Tapi pernahkah ketika seseorang membuang sampah sembarangan kemudian dihukum.

“Inilah yang tadi saya bilang tergantung bagaimana seorang pemimpin harus bisa melakukan perubahan itu. Jadi kalau ada Perda atau Undang-undang yang dilanggar seseorang, kita harus masuk pada penindakannya. Karena hidup itu ada hukuman dan ada penghargaan,” terangnya.

Banyak orang yang sebenarnya ingin berubah baik, tapi kemudian dia tidak bisa berdiri sendiri karena takut orang lain tidak ada yang mau menolongnya. Perubahan-perubahan seperti ini tidak hanya terjadi di daerah-daerah, di pusat juga terjadi.

“Ketika kita berani zero toleran, ketika kita berani melawan kebatilan pastilah ada orang lain yang mau menolong, asal dikomunikasikan,” ungkapnya.

Baca Juga
Lihat juga...