Sejak 1986, YDGRK Siti Hartinah Soeharto Aktif Beri Bantuan Korban Bencana

Editor: Koko Triarko

2.597
MAKASSAR – Puluhan tahun didirikan, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) Siti Hartinah Soeharto, telah berkiprah dalam membantu korban bencana alam di berbagai daerah di Indonesia.
Sekretaris YDGRK, H. Muhamad Yarman, SE., mengatakan, pemberian bantuan bencana alam gempa bumi, tsunami kepada warga Palu, Sigi, dan Donggala di Sulawesi Selatan, merupakan upaya untuk meringankan beban korban bencana alam.
Yarman menyebut, sejak yayasan berdiri pada 23 Agustus 1986 hingga 2018, sesuai rekapitulasi data bencana alam di Indonesia, YDGRK sudah melakukan pemberian bantuan kemanusiaan di 1.082 lokasi bencana, dan 802 kejadian bencana alam yang ada di 34 provinsi di Indonesia.
H. Muhamad Yarman, SE., (topi kuning) Sekretaris Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan Siti Hartinah Soeharto, memberikan arahan kepada tim setelah penundaan penerbangan dengan pesawat Hercules dari Lanud Sultan Hasanudin, Makassar, Sulawesi Selatan. [Foto:Henk Widi]
“Bencana alam yang terjadi di Indonesia, di antaranya gempa bumi, tsunami, banjir bandang, gunung meletus, tanah longsor yang memberi dampak kerusakan pada masyarakat yang terkena musibah dan menimbulkan kerugian material dan immaterial,” terang Yarman, di lokasi posko bantuan Palu, di Lanud Sultan Hasanudin,Makassar, Rabu (10/10/2018).
Sejak berdirinya pada 1986, YDGRK yang diinisiasi oleh Ibu Negara Siti Hartinah Soeharto, didukung oleh Presiden Soeharto selaku pribadi, dikhususkan untuk membantu korban bencana alam yang ada di Tanah Air.
Nilai bantuan atau sumbangan yang diberikan, sejak awal berdiri hingga 2018, tercatat sebesar Rp58,3 miliar. Yarman mengungkapkan, banyak warga yang terbantu dengan adanya bantuan yang diberikan melalui yayasan yang didirikan oleh alm. Ibu Negara Siti Hartinah Soeharto, tersebut.
Pada setiap kejadian bencana alam, kata Yarman, yayasan melakukan sejumlah langkah dengan melihat kondisi korban, kerusakan fasilitas, serta dampak bencana yang ditimbulkan.
Sejumlah relawan yang akan diberangkatkan ke Palu terpaksa menunda perjalanan akibat pesawat yang belum bisa mendarat di Bandara Palu [Foto: Henk Widi]
Upaya pemberian bantuan pada masa tanggap darurat, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten/Kota, sehingga pelaksanaan pemberian bantuan bencana alam dari yayasan semakin cepat dan lancar.
“Semakin baiknya koordinasi dan mekanisme kerja pengurus yayasan, maka bentuk dan penggunaan sumbangan yayasan semakin tepat waktu dan tepat guna,” beber Yarman.
Pascakejadian musibah bencana alam gempa bumi 7,4 SR dan tsunami yang terjadi di kota Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah, YDGRK Siti Hartinah Soeharto juga memberikan bantuan senilai Rp300 juta.
Sesuai dengan informasi resmi dan hasil koordinasi BNPB, kata Yarman, dampak bencana gempa bumi tersebut telah menimbulkan banyak korban warga, serta kerusakan infrastruktur.
Pengurus YDGRK Siti Hartinah Soeharto bersama Yayasan Dharmais, Damandiri dan DAKAB, kemudian menyepakati pemberian bantuan kepada korban bencana gempa bumi dan tsunami langsung berupa kebutuhan pokok. Pemberian bantuan tersebut sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan dari YDGRK, dan sejumlah yayasan yang didirikan oleh Presiden HM. Soeharto.
Pesawat CN 2906 milik TNI AU yang akan membawa rombongan relawan dan Tim YDGRK pada Kamis (11/10), dari Lanud Sultan Hasanudin menuju ke Palu, Sulawesi Tengah [Foto: Henk Widi]
Melalui pemberian bantuan tersebut, Yarman menyampaikan rasa simpati serta rasa prihatin yang mendalam, atas penderitaan yang dialami oleh para korban musibah gempa dan tsunami.
Ia berharap, bantuan dari yayasan tidak dinilai dari besarannya, tetapi dari makna yang terkandung di dalamnya sebagai wujud kepedulian yayasan kepada para korban musibah bencana alam, sesuai dengan misi pendirian yayasan.
Ia juga menyebut, sejumlah bencana alam selalu menjadi perhatian yayasan dalam upaya membantu meringankan penderitaan masyarakat terdampak bencana. Dalam penanganan bencana, YDGRK mengirimkan sejumlah tim secara bertahap ke sejumlah lokasi bencana alam. Beberapa kejadian bencana yang berskala besar, di antaranya bencana tsunami di Aceh, gempa serta letusan Gunung Merapi di Yogyakarta, banjir bandang di Garut, Jawa Barat, gempa Lombok serta musibah lainnya.
Tim kemanusiaan YDGRK, lanjut Yarman, semula akan diterbangkan menggunakan pesawat Hercules pada Rabu (10/10). Namun akibat kondisi landasan bandara di Palu yang tidak memungkinkan untuk melakukan pendaratan pada malam hari, petugas dari TNI AU memutuskan tim kemanusiaan YDGRK bermalam di sekitar Lanud Sultan Hasanuddin, dan diberangkatkan pada Kamis (11/10) sekitar pukul 04.00 WIB, bersama sejumlah relawan lain yang tertunda keberangkatannya, menggunakan pesawat CN 2906 milik TNI AU menuju ke Palu, Sulawesi Tengah, dan sebagian menggunakan pesawat Hercules TNI AU.
Baca Juga
Lihat juga...