Sejarah Pers Indonesia Tersimpan di TMII

Editor: Koko Triarko

356
JAKARTA – Memori perjuangan Pers Indonesia tersimpan apik di Museum Penerangan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Museum ini menempati lahan seluas 10.850 meterpersegi, dengan luas bangunan 3.980 meterpersegi. Bentuk bangunan dirancang unik, berupa sudut lima yang melambangkan Pancasila dan lima unsur penerangan.
“Museum Penerangan dibangun atas prakarsa Ibu Negara Tien Soeharto yang berpikir ke depan, agar kita  tidak melupakan sejarah bangsa. Museum ini diresmikan oleh  Presiden Soeharto pada 20 April 1993,” kata Tafsirun, pemandu Museum Penerangan TMII kepada Cendana News, Sabtu (6/10/2018).
Tafsirun berkisah tentang uniknya bangunan museum yang desainnya bermakna  nilai sejarah pencari kebenaran perjuangan bangsa Indonesia, itu. Saat memasuki halaman museum, pengunjung disuguhi tugu penyangga lambang penerangan “Api Nan Tak Kunjung Padam.”
Pengunjung Museum Penerangan TMII sedang melihat sejarah penerangan di Indonesia dengan peran pemberitaan media masa dalam program pembangunan Presiden Soeharto. -Foto: Sri Sugiarti.
Penyangga ini dikelilingi lima patung juru penerang dan air mancur. Tergambar jelas, pertemuan antara air dari atas tugu dengan air yang memancar dari bawah, sebagai lambang timbal balik sinergi pemerintah, masyarakat dan media masa.
Desain puncak gedung berbentuk  silinder bermakna kenthongan sebagai bentuk penerangan tradisional. Sedangkan penyangga menara antena yang merupakan sarana modern.
“Museum Penerangan adalah wadah informasi mengenai sejarah penerangan di Indonesia. Generasi milenial bisa belajar sejarah pers masa lampau di sini,” ujar Tafsirun.
Ada pun fungsi lembaga penerangan pada masa penjajahan hingga kemerdekaan, jelas dia, yakni untuk memberikan informasi tentang pemerintahan kepada masyarakat luas.
Kegiatan penerangan sendiri dimulai pada 20 Mei 1908, dengan didirikan gerakan Boedi Oetomo oleh Dr. Soetomo. Gerakan ini dalam perkembangannya dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Pergerakan Boedi Oetomo dijadikan sebagai titik tolak operasional penerangan melalui media tatap muka.
Sebelumnya, Dr. Wahidin Soedirohoesodo dan kawan-kawan mendirikan surat kabar “Retno Doemilah” di Tanah Jawa pada 1898. Surat kabar ini merupakan surat kabar pertama kaum pribumi.
Ragam kegiatan penerangan ditandai munculnya surat kabar, seperti Java Post dan De Banier di awal abad 19. Kemudian proganda menentang pemerintahan kolonial terus berkibar.
Sepeda motor tipe 49 cc Cyrus Sundapp yang berjasa memperlancar tugas-tugas kantor berita Antara di bawah pimpinan Adam Malik ditampilkan di Museum Penerangan TMII, Jakarta. -Foto: Sri Sugiarti.
Selain itu, lanjutnya, kegiatan penerangan di Indonesia ditandai hadirnya Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11 September 1945, dan Televisi Republik Indonesia (TVRI) pada 24 Agustus 1962.
Sejarah terukir lagi pada dua hari setelah merdeka, yakni tepatnya 19 Agustus 1945, dengan dibentuk Kementerian Penerangan hingga dibubarkan pada 1999.
Lebih lanjut,  ia menyebut koleksi yang ada di dalam museum dibagi menjadi lima bidang, sesuai sejarah lembaganya. Lima bidang tersebut meliputi pers dan grafika termasuk media massa cetak, penerangan umum, film, televisi, serta radio.  Tujuan pembagian lima bidang adalah untuk memudahkan pengunjung melihat koleksi sejarah penerangan di museum ini.
“Total koleksi museum ini tercatat 400 buah lebih meliputi lima bidang,” ujar pria kelahiran 46 tahun ini.
Ratusan koleksi tersebut disajikan dalam museum berlantai tiga yang menggambaran kehidupan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.
Memasuki lantai satu, tepatnya di atas pintu tertulis “Dahana Ambuka Wiwaraning Bumi”. Artinya, api atau sinar yang membuka kegelapan dunia. Ini bermakna penerangan berperan dalam mencerdaskan bangsa.
Saat memasuki gedung lantai pertama, jelas dia, koleksi museum yang disajikan adalah benda-benda yang memiliki nilai sejarah informasi dan komunikasi dari film, radio, televisi, media tatap muka, media tradisional, perkembangan media pers dan grafika.
Di lantai ini pula, 17 patung setengah badan beberapa tokoh informasi dan komunikasi juga menjadi koleksi. Tersaji juga empat diorama kecil operasional penerangan di bidang pependes, pencerdasan kehidupan bangsa, penanggulangan bencana alam, dan kelompencapir.
Terdapat juga koleksi tertua, yaitu mesin ketik huruf Jawa yang digunakan sejak tahun 1917 oleh Keraton Surakarta. Pada masa kemerdekaan, mesin ketik ini digunakan untuk mengetik pengumuman perintah dengan huruf Jawa yang disebarluaskan di daerah Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Timur (Jatim) hingga tahun 1960.
Pemandu Museum Penerangan TMII, Tafsirun. Foto : Sri Sugiarti.
Ditampilkan pula kamera Perekam Rapat Kabinet Rl pertama, dan Radio Oemoem tahun 1040. Selain itu, terdapat mesin cetak seberat 3,5 ton, mesin ketik perintis kemerdekaan, dan surat kabar harian Andalas pada 1917, yang merupakan beberapa peninggalan di bidang pers cetak dan grafika.
Tersaji juga benda-benda yang berhubungan dengan percetakan dan peninggalan, yaitu satu unit sepeda motor tipe 49 cc Cyrus Sundapp. Sepeda motor ini telah berjasa memperlancar tugas-tugas kantor berita Antara di bawah pimpinan Adam Malik.
Selain peninggalan pers dan grafika, ada juga koleksi bidang penerangan lainnya, yaitu kentongan berukir, terompet To’is, dan wayang suluh. Sedangkan untuk bidang film peninggalannya berupa megafon dan proyektor film dari tahun 1940.
Untuk bidang radio dan televisi, memiliki koleksi menarik. Di bidang radio, ada peninggalan berupa gramaphone, alat pemutar piringan hitam. Sedangkan di bidang televisi ada kamera film yang digunakan untuk meliput Asian Games pada 1962.
Sementara, sebut dia, sarana pendukung lainnya yaitu perpustakaan dan teater mini.  Teater ini dilengkapi dengan tata suara modern yang digunakan untuk menyampaikan informasi secara audio visual dan pemutaran film dokumenter.
“Teater ini mampu menampung 60 orang pengunjung yang ingin menyaksikan film dokumenter dan sejarah perjuangan,” kata Tafsirun.
Kemudian beranjak ke lantai dua, didapati relief sepanjang 100 meter dan lebar 1,5 meter, yang menggambarkan sejarah penerangan Indonesia, selama lima periode.
Di lantai ini juga terdapat tujuh  diorama kegiatan penerangan dalam membangkitkan nasionalisme, menyatukan bangsa dan mengisi kemerdekaan, termasuk percetakan koran Retno Dhoemilah.
Diorama yang tersaji juga ada yang  menceritakan mengenai perjuangan penyiar RRI yang melawan pasukan PKI.
Tampil juga koleksi lukisan wajah Dr. Wahidin Soedirohusodo. Lukisan  karya Sumidjo dengan ukuran 8 x 7 meter ini meraih rekor MURI sebagai lukisan terbesar.
Diorama operasi penanggulangan bencana alam ditampilkan di Museum Penerangan TMII, Jakarta. -Foto: Sri Sugiarti.
Berlanjut ke lantai tiga, terdapat studio mini PFN, studio mini RRI, TVRI dan display foto transparan. Di tempat ini terdapat display peran serta masyarakat yang turut menyumbangkan koleksi dalam pengembangan museum. Seperti sumbangan dari Ismail Marjuki, Djamaludin Adinegoro, Ismail Marjuki dan Adam Malik.
Menurutnya, museum  terus berupaya menambah koleksi penerangan, baik itu dengan membeli benda sejarah penerangan tersebut, maupun menerima sumbangan masyarakat.
“Ada beberapa koleksi yang kita beli, misalnya kamera TVRI gempa bencana Aceh, kita beli dari pemilik kameranya. Insyaallah ada penambahan koleksi ke depannya,” ujarnya.
Koleksi sejarah penerangan juga tersaji di halaman gedung museum. Di antaranya kendaraan yang dipakai TVRI untuk siaran luar, mobil panggung penerangan, mobil unit sinerama PFN, mobil siaran RRI, dan mobil siaran luar TVRI.
Mobil siaran luar TVRI ini digunakan  pertama kali untuk meliput Asian Games IV di Jakarta, pada 1962. Mobil tersebut adalah inventaris pertama di awal berdirinya TVRI.
Berdasarkan koleksi yang disajikan, Tafsirun berharap, pengunjung akan mendapatkan perspektif mengenai kehidupan berbangsa yang tidak melupakan sejarah.
Untuk menarik pengunjung lebih banyak lagi, menurutnya, pihak museum kembali akan menggalakkan program “Museum Penerangan Goes to School”. Tujuannya untuk  memberikan informasi terkait peran museum penerangan kepada sekolah-sekolah.
“Sistemnya, kita jemput bola menjelaskan sejarah bagaimana peran penerangan saat memperjuangakan kemerdekaan Indonesia. Sejarah penerangan ini kan budaya yang harus dipertahankan,” tandasnya.
Dari kunjungan ke sekolah-sekolah tersebut, menurutnya, banyak pelajar yang berkunjung  ke Museum Prnerangan setiap bulannya secara rombongan. “Dalam sebulan, tercatat 6.000 pengunjung anak sekolah dan umum, bahkan turis mancanegara,” tuturnya.
Alfina, siswa kelas 5 SDN di bilangan Kalisari, Jakarta Timur mengaku mendapatkan wawasan baru tentang sejarah penerangan Indonesia. “Ada mesin ketik huruf Jawa, unik digunakan untuk menyampaikan berita,” ujarnya.
Begitu juga dengan Gina Puspitaningrum. Siswi kelas 5 SD ini mengaku senang berkunjung ke Museum Penerangan, karena mendapat pengalaman baru.
“Saya sering kunjung ke museum ini, yang menarik sepeda motor tipe 49 cc Cyrus Sundapp yang memperlancar tugas media Antara. Sepeda itu bernilai sejarah,” ucapnya.
Kedua siswa tersebut mengaku bangga bisa paham sejarah penerangan perjuangan penyampaian kebenaran bangsa Indonesia, dengan ragam koleksi yang disajikan di Museum Penerangan TMII ini.
Baca Juga
Lihat juga...