Serangan Burung Paksa Petani Panen Padi Lebih Awal

Editor: Koko Triarko

220
LAMPUNG – Padi milik petani di wilayah Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, pada masa panen ketiga (MT3) dipanen lebih cepat, akibat adanya hama burung.
Legiman (40), salah satu pemilik lahan padi varietas Ciherang, mengaku terpaksa memanen padi miliknya pada usia 85 hari sebelum usia panen normal selama 95 hari, untuk meminimalisir semakin berkurangnya jumlah bulir padi akibat dimakan hama burung.
Menurut Legiman, sejak padi memasuki masa berbulir (meratak) mulai diserang hama burung emprit atau pipit (Lonchura leucogastra). Serangan burung yang kerap datang bergerombol pada pagi dan sore hari tersebut berpotensi mengurangi hasil panen padi. Penurunan produksi panen padi seperti tahun sebelumnya, dampak hama pengganggu jenis burung pipit bahkan mengurangi hasil panen gabah kering panen (KGP).
“Serangan hama pengganggu burung emprit kerap datang bergerombol, ratusan bahkan ribuan ekor, sehingga bisa mengurangi bulir padi pada setiap rumpun,” terang Legiman, Sabtu (6/10/2018).
Legiman menyebut, pemanenan sepuluh hari lebih cepat terlihat dari jerami yang masih terlihat menghijau. Meski demikian, bulir padi yang dipanen sudah cukup tua, sehingga tidak akan pecah saat dilakukan proses perontokan serta penggilingan pascadijemur.
Masa menunggu dan menghalau hama pengganggu burung pipit diakui Legiman membuat ia harus menghabiskan waktu minimal delapan jam per hari.
Hama burung tersebut sudah mulai diantisipasi oleh sejumlah petani termasuk dirinya, dengan menggunakan alat penghalau burung berupa bendera, jaring, senar serta kentongan.
“Saya dan istri kerap bergantian menjaga padi dari serangan hama burung pada pagi dan sore karena saya juga harus mencari pakan ternak sapi,” beber Legiman.
Pada lahan seluas setengah hektare, Legiman menyebut kerap bisa memperoleh hasil panen GKP sebanyak 3,5 ton. Pada saat serangan hama burung hasil yang diperoleh hanya bisa mencapai 3 ton, bahkan bisa berkurang lebih banyak jika lahan sawah tidak dijaga pada pagi hingga sore hari.
Panen lebih awal diakuinya menjadi salah satu solusi agar pengurangan hasil panen padi tidak terlalu banyak dan kerugian bisa ditekan. Pola tanam padi tidak serentak diakui Legiman menjadi salah satu faktor serangan hama burung menyerang, karena pasokan air untuk irigasi terhambat pada masa tanam ketiga.
Pada masa panen ketiga awal bulan Oktober, Legiman menyebut harga GKP saat ini berkisar Rp4.700 per kilogram atau Rp470.000 per kuintal. Harga gabah tersebut akan mencapai sekitar Rp5.100 per kilogram atau Rp510.000 per kuintal untuk gabah kering giling (GKG).
Meski mengalami serangan hama burung dan dilakukan pemanenan lebih awal dari masa panen normal, Legiman menyebut lebih beruntung dibandingkan lahan padi milik petani lain yang terkena serangan hama wereng.
“Padi milik petani terimbas hama wereng sebagian tidak bisa dipanen karena rusak, tetapi jika terkena hama burung hanya berkurang kuantitas bulirnya,” beber Legiman.
Pemanenan padi varietas Ciherang lebih cepat selain dilakukan oleh Legiman juga dilakukan petani lain bernama Herman (40). Herman menyebut sengaja memanen padi lebih cepat, karena proses pemanenan dilakukan dengan sistem manual menggunakan perontok kayu.
Proses pemanenan padi di wilayah tersebut diakuinya sengaja tidak mempergunakan mesin pemanen padi (Combine Harvester) untuk memberdayakan masyarakat. Sebab, sistem ceblok atau bagi hasil antara penanam dan pemilik lahan padi masih diberlakukan di wilayah Penengahan.
“Penggunaan mesin panen padi kerap mengurangi tenaga kerja sekaligus sulit bagi pemilik ternak memperoleh jerami,” terang Herman.
Sawabi (50) warga Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, menyebut panen lebih awal justru menguntungkan pemilik ternak sapi seperti dirinya. Pasalnya, jerami yang terlihat masih menghijau disukai ternak yang dipeliharanya. Sekali mencari jerami Sawabi mengaku mengangkut sebanyak 40 ikat jerami menggunakan mobil bak terbuka. Jerami tersebut dipergunakan untuk stok pakan sebanyak 10 ekor sapi yang dimiliki.
Jerami dengan kondisi masih hijau disebutnya jarang bisa diperoleh jika petani tidak melakukan pemanenan lebih awal. Ia bahkan kerap mencari jerami pada tanaman padi yang dipanen pada usia 120 hari, sehingga jerami diambil dalam kondisi kering.
Jerami yang sudah diambil selanjutnya akan diberikan langsung ke ternak sapi atau difermentasi dengan menggunakan suplemen organik cair untuk penambah nafsu makan ternak sapi miliknya dicampur dengan tetes tebu dan jenjet jagung.
Baca Juga
Lihat juga...