SMASK John Paul II Beri Beasiswa dan Bebaskan Biaya

Editor: Mahadeva WS

202

MAUMERE – Sekolah Manengah Atas Swasta Katolik (SMASK) St.John Paul II Maumere, dulu dikenal sebagai sekolah buangan. Kini sekolah tersebut menjadi sekolah model, dan bisa memberikan beasiswa dan keringanan biaya bagi para siswa yang sebagian besar berasal dari keluarga tidak mampu.

“Kita memberikan beasiswa dan membebaskan pembayaran uang sekolah bagi siswa yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. Untuk tahun ini kami bebaskan biaya hingga total Rp50 juta, bagi anak-anak yang orang tuanya tidak mampu,” tegas RD Fidelis Dua,M.Th, kepala Sekolah SMASK St.John Paul II Maumere, Kamis (4/10/2018).

Romo Fidel menyebut, program tersebut menginginkan, anak-anak dari kampung bisa mendapatkan pendidikan berkualitas, namun dengan biaya terjangkau. Sehingga bukan hanya anak dari orang tua mampu secara financial saja yang bisa mendapatkan pendidikan dengan baik. “Siswa yang berprestasi di kampungnya saat bersekolah disini kami berikan beasiswa kepada mereka. Disini saya ciptakan iklim agar semua siswa bisa bersaing dan meraih prestasi dan selalu mendorong mereka berkompetisi meraih prestasi,” ungkapnya.

Mutu pendidikan di sekolah tersebut diklaimnya, secara perlahan mengalami kenaikan. Siswa baru yang masuk, memiliki kemampuan yang baik, sehingga mudah untuk diproses dan meraih prestasi. “Siswa di sekolah ini kami dorong  untuk mengikuti berbagai kompetisi dan lomba. Tahun ini saja kami bisa masuk seleksi parlemen remaja tingkat nasional dan festifal lomba seni siswa nasional,” tuturnya.

Untuk merubah sekolah yang dulunya dikatakan sekolah buangan, upaya yang dilakukan dengan membangun sudut pandang siswa,menyusun visi misi sekolah, tujuan sekolah, membenahi kurikulum serta membangun budaya sekolah. Untuk mengubah anak-anak yang berkarakter buruk, diciptakan budaya sekolah dengan nilai-nilai yang disepakati. “Saya bersyukur, karena saya tidak bekerja sendiri sebab tim kami sangat kuat. Target kami berjuang masuk ke sekolah rujukan dan sekolah berstandar nasional,” ucapnya.

Dari upaya pemenuhan standar sarana dan pra sarana sekolah, saat ini kondisinya sudah cukup. Namun demikian, sekolah masih harus membangun ruang kelas lagi, karena jumlah murid baru setiap tahunnya terus bertambah. Di 2018 ini, terdapat 293 murid baru.

Selain karena dampak zonasi, kenaikan jumlah siswa baru tersebut juga dipengaruhi keinginan siswa untuk memilih sekolah bermutu. Fidel bersyukur, mendapat banyak bantuan dana dan infrastruktur dari pemerintah pusat dan DAK provinsi serta kabupaten. Hal itu menunjukan, pemerintah percaya, terhadap hasil kerja dan mutu sekolah yang terus membaik.

Setia Priscylla Putri Anggraeni Ina Sominini siswi kelas XI MIA 1 SMASK St.John Paul II Maumere yang meraih berbagai prestasi.Foto : Ebed de Rosary

Setia Priscylla Putri Anggraeni Ina Sominini, siswi kelas XI MIA 1 SMASK John Paul II mengatakan, mendapatkan pendidikan dengan memilih sekolah berkualitas harus menjadi prioritas. Mutu pendidikan dan lulusan yang dihasilkan menjadi tolok ukur dalam memilih sekolah.

“Kualitas pendidikan bukan hanya sekedar nilai yang tertera di kertas saja, tapi juga kualitas karakter dan kepribadian yang dihasilkan. Bukan cuma kecerdasan otak saja tapi juga kecerdasan hati dan ini yang saya dapatkan di sekolah ini,” tuturnya.

Setia mengaku bersyukur bisa menempuh pendidikan di sekolah yang sangat mengutamakan kualitas moral selain kecerdasan otak. Banyak anak remaja sekarang yang mulai melupakan sopan santun, adat dan budaya ketimuran, bahkan terhadap orang tua saja tidak ada rasa hormat. “Sebagai anak kampung asal desa Bungalawan kecamatan Ile Boleng Flores Timur, saya harus memilih sekolah yang memiliki beasiswa apabila siswanya berprestasi. Dengan begitu saya bisa meringankan beban orang tuanya yang berpenghasilan rendah,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...