Sri Bintang Pamungkas dan Begug Beri Kesaksian Kekejaman PKI

Editor: Makmun Hidayat

498

SOLO — Bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, Kota Solo, Jawa Tengah menyelenggarakan sejumlah kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan jiwa nasionalisme. Dan, mengenang para pejuang yang telah gugur demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Salah satunya dengan digelarnya sarasehan dan nonton bersama film Pengkhianatan G 30 S PKI, yang diselenggarakan berbagai ormas dan relawan yang ada di Solo Raya di Halaman Masjid Nurul Iman Dalem Kalitan. Helatan Nobar film bersejarah ini dihadiri sejumlah tokoh dan saksi sejarah kekejaman PKI pada 1948 maupun 1965, seperti Sri Bintang Pamungkas.

Dia menceritakan bagaimana kekejaman PKI saat membunuh ayahnya yang merupakan salah satu hakim di Ngawi Jawa Timur. Saat usianya yang baru 3 tahun, Sri Bintang Pamungkas mengaku harus mengungsi sampai di Solo setelah ayahnya ditangkap, dipenjara sampai akhirnya dibunuh oleh PKI. Hiruk pikuk kehidupan tokoh yang belum lama ini sempat dikaitkan dengan makar inipun diungkapkan kepada masyarakat yang hadir.

“Bapak saya ditipu. Dipenjara oleh PKI. Sampai akhirnya penjara itu dibakar. Usut punya usut, bapak saya itu dibunuh oleh PKI dengan cara dilinggis,” ucap Sri Bintang Pamungkas saat memberikan kesaksian di sela-sela Nobar, di Kalitan, Minggu (30/09/2018) tengah malam.


Suasana Sarasehan dan Nobar Film Pengkhianatan G 30 PKI di Halaman Masjid Nurul Iman Dalem Kalitan – Foto: Harun Alrosid

Tak hanya itu, pengakuan dari salah satu korban kekejaman PKI di Wonogiri juga diungkapkan Begug Purnomosidi. Menurut mantan Bupati Wonogiri itu, tragedi berdarah pada 1948 yang diawali di Madiun juga berimbas kepada dirinya yang saat itu tinggal di sebuah desa di Wonogiri. Akibat kekejian PKI, satu keluarganya akan dibunuh. Beruntung saat itu sempat diselamatkan melalui pintu belakang.

“Saya saksi dan pelaku sejarah dalam menghadapi G 30 S PKI. Bukti kekejaman PKI tidak hanya ’65, tapi pada ’48 sudah mengalami. Saya bersama sekeluarga, bapak-ibu dengan putra 18 anak, itu satu ibu. Waktu itu saya sekeluarga akan dibunuh. Saya diselamatkan oleh 3 orang yang dulu dibantu oleh Iman Sujono,” ungkap Begug.

Dia menambahkan, dirinya dikeluarkan di pintu belakang disuruh lari. “Ternyata rumah saya, satu-satunya rumah di Kecamatan Purwantoro yang dibumihanguskan oleh PKI selain kantor kecamatan dan kantor pemerintah lain. Jadi pasca ’48 itu saya tidak punya rumah,” sebutnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, lepas 1948, pada 1965 Begug mengaku juga terlibat langsung dalam melawan PKI. “Saat itu saya adalah komandan pasukan khusus Resimen Mahasiswa yang langsung berhadapan dengan PKI yang ada di Solo Raya. Maka kesempatan ini saya gunakan sebaik-baiknya agar generasi sekarang tidak lupa akan kekejaman PKI,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...