Tarian Ranting

CERPEN MASHDAR ZAINAL

218

KERINGAT merambat pelan dari pelipis Ranting, menggantung di dagu, lalu jatuh ke ujung jari kakinya. Udara panas memaksanya mandi keringat siang ini. Kembar dengan siang yang lain. Pohon angsana di depan rumah telah gundul.

Kemarau datang seperti tukang cukur yang memangkas habis daun-daun pohon itu. Pohon jati di belakang rumah tak kalah merana. Batangnya berwarna seperti abu, seakan kemarau telah memanggangnya diam-diam. Pohon-pohon yang malang, pikir Ranting.

Di halaman rumah, bougenvil menjelma bunga kertas sungguhan, bunganya yang merah muda semakin pucat, jika bergesek dihentak angin suaranya mirip lembaran buku yang dibuka tergesa-gesa.

Rumput-rumput di lapangan samping rumah, tempat biasa bocah-bocah laki-laki bermain bola, hanya menyisakan uban-uban yang tanggal satu persatu. Digantikan angin yang memusing. Melangitkan debu dan remah daun kering. Tanah lapang yang menyedihkan, pikir Ranting pula.

Kemarau memang ahli menjadikan segala sesuatu menjadi malang dan menyedihkan.
***
RANTING menatap nanar, “Aku benci kemarau.” Barangkali seperti kayu membenci api. Ranting memang dilahirkan untuk membenci kemarau. Mungkin sebab itulah ibunya memberinya nama Ranting.

Tetapi Ranting tak pernah membenci nama itu. Menurutnya, justru nama itu sangat indah. Ranting. Tempat tangkai bersandar. Tempat daun melebar. Tempat bunga-bunga mekar. Bahkan meskipun kemarau mengacaukan daun-daun, ranting tetaplah indah. Terlebih pada malam rembulan bulat. Ranting akan lebih indah.

Ia tampak seperti jari jemari yang menjawil rembulan. Menusuknya sampai ke dalam. Semenyedihkan apa pun keadaannya, ranting akan tetap indah. Ranting harus tetap indah. Hingga api mendatanginya melalui banyak jalan. Salah satunya, lewat kemarau panjang seperti ini.

Ranting jengah menghitung hari-hari milik kemarau. Hari-hari yang terlalu gerah dan panjang. Seolah, dunia diciptakan tanpa malam. Hanya ada matahari yang menjerang. Terang. Menyilaukan. Dan mematikan.

Lima bulan lalu, hutan jati di pinggiran dusun didatangi tarian api. Bergejolak. Merambat. Dan meliuk-liuk. Tak seorang pun berani mendekati hutan itu. Ketika pasokan air untuk minum dan mandi sehari-hari saja susahnya minta ampun, bagaimana mungkin mereka membuang-buang air untuk memadamkan api.

Maka, hutan itu segera menjadi yatim piatu. Yatim piatu yang malang, yang akhirnya tak mampu bertahan oleh berangus api.

Tak ada sebatang kara. Yang ada hanya jutaan bara. Yang akhirnya bangkit serupa dendam. Dendam itu berwujud kabut yang menggerayangi dusun, bahkan sampai ke kota. Mengacaukan udara. Menyelusup lewat napas yang dihirup manusia. Membawa penyakit yang mencemaskan.

Selepas dendam kabut itu reda, sekitar sebulan silam, rumah tetangga tak luput dikunyah api, tanpa sembunyi-sembunyi. Tak ada manusia waras yang sengaja mengobarkan api di tengah kemarau. Karena, tanpa dikobarkan tangan manusia, kemarau bisa mengobarkan api dengan tangannya sendiri, semaunya.

Maka, rumah berdinding bambu anyam itu segera lantak bagai dikremasi. Menyisakan tangis dan ngilu hati.

Semenjak kemarau menjadi raja bagi hari-hari, Ranting jarang keluar rumah. Ranting memang tak pernah keluar rumah. Kapan Ranting keluar rumah? Ranting lebih suka mengembara ke dalam dirinya sendiri. Terkadang sampai tersesat tak bisa kembali. Ibunya telah memahami itu, melebihi kemarau memahami kekeringan.

“Jangan berdiri di situ, Ranting, udara di luar terlalu panas, bukankah jendela di depanmu itu telah menghangat,” kata ibunya saat melihat Ranting terdiam menatap keluar jendela.

“Lihatlah, kau mandi keringat. Masuklah ke kamar dan putarlah kipas angin, itu akan membuatmu nyaman. Ibu akan mengunci pintunya dari luar, ibu akan mengantre mengambil air di sumur masjid, selepas itu kau bisa mandi,” lanjut ibunya seraya membuka pintu, menutupnya, dan menguncinya dari luar.

Ranting bergeming. Kapan Ranting tak bergeming? Ranting selalu bergeming. Ibunya telah memahami itu, melebihi kemarau memahami kekeringan.

Setelah ibu pergi, Ranting menggertakkan giginya. Ia memandangi tubuh ibunya mengecil. Sepasang tangan ibunya mengayunkan dua ember kosong yang akan segera bergolak oleh air bening dari sumur masjid. Sumur itu adalah satu-satunya sumur yang masih sudi memberi air.

Sumur yang terletak di halaman masjid. Sumur yang airnya jadi rebutan warga. Ranting suka sekali mengguyur tubuhnya dengan air itu. Namun, lagi-lagi, semenjak kemarau menguasai hari-hari, ibu hanya mengizinkan Ranting mengguyur tubuhnya dengan lima cangkir. Tak lebih. Hanya lima cangkir.

“Kemarau begini, kita harus pandai menghemat air. Lebih baik tak mandi daripada tak minum. Lebih baik bau badan daripada mati,” kata ibunya.

Baca Juga

Ranting tak membantah. Kemarau memang memiliki kekejian yang selalu dikobarkan di sembarang tempat.

Ranting tak berhenti menatap nanar. Ia ingin menantang matahari. Ia ingin menantang kemarau. Setiap benda yang ada di dekatnya, bahkan udara, seakan berbisik ke telinganya, “Menarilah, Ranting! Menarilah! Rayakanlah kemarau ini dengan tarianmu.”

Ranting yakin, tak seorang pun penduduk dusun ini sempat menari di saat kemarau begini. Yang mereka lakukan hanya mengeluh, lebih banyak menangis, dan sedikit saja yang mau berdoa agar Tuhan menghentikan kekejaman kemarau. Soal doa, jangan ditanya, Ranting menghabiskan harinya di depan jendela dengan doa-doa. Tuhan yang memiliki hujan. Tuhan juga yang memiliki kemarau.

Tentu saja Ranting paham. Tak ada makhluk mana pun sudi merayakan kedatangan kemarau, lebih-lebih kalau ia berkepanjangan. Sesungguhnya tarian itu adalah tarian ejekan, begitu pikir Ranting.

“Aku memang membenci kemarau, tapi aku tak pernah takut pada kemarau. Akulah ranting yang tak gentar pada api. Dan aku akan segera menari. Lihatlah!”

Dan tubuh Ranting pun mulai berputar, seringan kincir yang ditampar angin. Ia berkelok ke sana ke mari. Sepasang kakinya mengetuk-ngetuk lantai. Sepasang tangannya meliuk tak beraturan. Ranting terus berputar. Perlahan, di antara tariannya yang membara, Ranting melihat pepohonan di halaman rumah mulai dijangkiti api.

Menjulang dan menjadi pohon api. Bunga-bunga kertas di halaman pun mulai dirayu api. Mekar dan menjadi bunga api. Api datang berduyun-duyun, menginjak teras rumah. Teras rumah segera menyala menjadi lantai api. Api kian karib. Menjawil jendela. Daun jendela mengempas dan menjadi jendela api.

Ranting tak peduli. Ia terus menari. Sepasang kakinya mengertap. Sepasang tangannya mengepak umpama sayap. Ranting terus menari. Tarian api. Ranting terus berputar. Ia terus berkobar.
***
KETIKA ibu datang dengan dua ember air dari sumur masjid, ibu terkejut tidak mendapati Ranting di kamarnya. Tidak juga di ruang depan. Tidak di dapur. Tidak di halaman. Tidak di mana pun. Ibu meneriakkan nama Ranting berulang-ulang.

Tapi tak ada sahutan. Ibu yakin, Ranting tak akan berani pergi sendiri. Kapan Ranting berani pergi sendiri? Ibu telah memahami itu, melebihi kemarau memahami kekeringan.

Ibu terus berkeliling dari ruang ke ruang sambil meneriakkan nama Ranting. Ketika sampai di muka jendela ruang tamu, ibu seperti baru menyadari sesuatu. Begitu banyak serbuk abu bertebaran di sana.

Seakan api telah memamah sesuatu di tempat itu. Lalu melepehkan abu. Semenjak hari itu, langit mulai mendung. Dan gerimis perlahan turun. Namun Ranting tak pernah kembali. Ibu yakin, Ranting telah pergi jauh, mengembara ke dalam dirinya sendiri, lalu tersesat dan tak bisa kembali.

Serbuk abu di depan jendela itu, ibu telah mengeruknya lalu menyimpannya dalam jambangan. Ibu meletakkan jambangan itu di bibir tepi jendela ruang tamu dan melupakannya.

Semenjak Ranting menghilang, ibu begitu mesra dengan kesendiriannya. Tentu ibu tak pernah menyadari, sebuah ranting tanpa daun mulai bercokol dari jambangan itu. Ranting yang terus tumbuh. Seolah ingin menggapai ke luar jendela, melongok dunia dan menyaksikan gerimis memandikan pohon serta bunga-bunga. ***

Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Kini bermukim di Malang Jawa Timur.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Baca Juga
Lihat juga...