Tato Etnik Masyarakat Lewolema, Lambang Kedewasaan

Editor: Koko Triarko

195
LARANTUKA – Tato atau Kenirek dalam bahasa Lamaholot, merupakan salah satu identitas rnasyarakat Lewolema di masa lalu, yang pengerjaannya dilakukan secara manual.
“Tato biasa dibuat secara manual menggunakan tinta yang berasal dari campuran jelagah (arang halus) dan gula tuak,” sebut Yohanes Pati Ritan, tetua adat Lewolema, Minggu (7/10/2018).
Dalam mengerjakannya, terang Yan, sapaannya, tinta tersebut dimasukkan ke kulit dengan cara dirajah dengan memakai Brengit, sejenis duri hutan dengan ujung setajam jarum.
“Brengit disangkutkan atau dipasang pada sebatang kayu dan dicelupkan pada tinta, lalu  dirajah membentuk gambar-gambar utuh di bagian-bagian tubuh yang akan ditato,” bebernya.
Veronika Reo Baluk, salah seorang perempuan sepuh Lewolema yang memiliki tato di beberapa bagian tubuhnya, termasuk di kaki. -Foto: Ebed de Rosary
Untuk pria, terang Yan, tak banyak motif yang digunakan dan umumnya motif bintang dengan bagian tubuh yang ditato meliputi kening, dagu dan pipi bagian bawah.
“Kalau untuk perempuan, bagian tubuh yang biasanya ditato meliputi bagian samping kening, dagu, pipi,lengan, betis, punggung tangan dan mata kaki dan semuanya berwarna hitam,” tuturnya.
Ada juga tato pada perempuan yang menguntai menyerupai kalung melingkari  bagian tubuh, dari punggung sampai dada dengan motif dominan bintang, roda berjeruji sisir dan beberapa motif yang belum ditemukan namanya.
“Motif-motif tersebut selalu disusun secara simetris. Ada motif yang selalu dominan digunakan oleh banyak orang, dan ada motif pribadi sesuai dengan sejarah atau identitas keluarga dan suku,” terangnya.
Menurut Yan, tato menandai seorang remaja Lewolema masuk dalam masa dewasa, di mana mereka sudah siap menikah dan memikul tanggung jawab dalam berkeluarga atau membina rumah tangga.
“Secara fisik, tato dipercaya sebagai jimat untuk menangkal gangguan dari binatang, setan serta berbagai teluh atau ilmu hitam. Tato juga menandakan kesuburan dan kesempurnaan hidup,” jelasnya.
Motif  bintang, misalnya, menjelaskan ketinggian dan cahaya yang selalu bersinar dan identik dengan Sang Pencipta, yang selalu berada di tempat tinggi dan memberikan cahaya kehidupan.
“Pola dan motif tato jika dibandingkan dengan ukiran pada tiang rumah adat (Korke) serta beberapa motif kain tenun, terkonsentrasi pada suatu inti, yakni lingkaran dan suatu bentuk dominan yang menyerupai salib,” ungkapnya.
Veronika Reo Baluk, salah seorang perempuan renta yang berusia 80-an tahun menyebutkan, dirinya ditato sejak remaja sebelum menikah dan biasanya semua prempuan remaja ditato.
“Kami semua ditato termasuk juga para lelaki. Memang rasanya sakit, tetapi mau bagaimana, sebab itu sudah menjadi tradisi sehingga sakit pun kami tahan saja,” ungkapnya.
Veronika menambahkan, bagi remaja di zamannya saat itu, bila tidak ditato akan merasa asing sendiri, sebab hampir semua remaja yang memasuki masa dewasa bertato.
“Tato juga sebagai tanda, bahwa kita sudah siap dipinang dan dijadikan istri dan berumah tangga. Jadi, kaum lelaki kalau mencari pasangan, pasti melihat dahulu apakah perempuan tersebut sudah ditato atau belum”, pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...