Taufiq Ismail Ungkap Prahara Budaya Jelang G 30 S PKI

Editor: Makmun Hidayat

964
Taufiq Ismail - Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA — Taufiq Ismail termasuk seorang penyair dan sastrawan yang getol menentang PKI (Partai Komunis Indonesia). Bersama D.S. Moeljanto, ia menulis buku Prahara Budaya: Kilas-balik Ofensif Lekra/PKI yang berisi kumpulan dokumen pergolakan sejarah.

“Yang melatarbelakangi buku Prahara Budaya adalah rasa khawatir saya pada waktu itu melihat bagaimana PKI tidak jemu-jemunya dan tidak henti-hentinya mempropagandakan ideologi komunisnya,” kata Taufiq Ismail sebagai pembicara dalam diskusi buku ‘Dari Kata Menjadi Senjata’ yang ditulis Beggy Rizkiyansyah di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq (MABAS) Lt 4, Jl. Otista Raya No, 411 Cawang, Jakarta Timur, Minggu (30/9/2018).

Lelaki kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935, itu membeberkan propaganda komunis itu ditopang oleh rezim Orde Lama yang kelihatan sepertinya akan berhasil.

“Tapi semua itu mereka siapkan pada suatu waktu kekerasan, tujuannya yaitu mengadakan perebutan kekuasaan yang sudah dilaksanakan pada tahun 1948 tidak berhasil, dan kemudian diulangi lagi pada tahun 1965,“ bebernya.

Menjelang peristiwa G 30 S PKI, Taufiq mengaku bersahabat dengan D.S. Moeljanto, seorang wartawan yang begitu sangat rajin mengumpulkan semua tulisan yang ada kaitannya dengan komunisme.

“Yang paling susah adalah surat kabar, karena harus dikumpulkan dan kemudian digunting, setelah itu di-file diberi tanggal hari yang makan waktu lama dan itu tidak mendapatkan uang. Karena itu saya mengajaknya untuk diterbitkan menjadi buku,“ paparnya.

Buku Prahara Budaya: Kilas-balik Ofensif Lekra/PKI – Foto: Akhmad Sekhu

Di luar, PKI sudah habis-habisan menyerang Islam dengan menghalalkan berbagai cara. “Orang PKI membunuh ulama yang sudah melaksanakan salat Subuh, kalau ketahuan jamaah kemudian dilaporkan ke polisi, tapi orang PKI ini pura-pura gila jadi dibebaskan. Dan kejadian pura-pura gila terulang lagi pada zaman sekarang ini, jadi para ulama diingatkan untuk hati-hati,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, konfrontasi dimulai sejak tidak tahan lagi dengan keadaan semakin merajalelanya PKI yang semena-mena. Jadi para seniman, pelukis, penyair, dan lain-lain, membuat pernyataan yang dinamakan Manifes Kebudayaan.

“Isinnya antara lain, menyatakan di dalam budaya itu harus ada sebuah penghormatan terhadap kemerdekaan, kebebasan,“ urainya.

Ketika Manifes Kebudayaan terbit, para seniman yang anti-PKI mendukung semuanya, tapi Bung Karno tidak suka pada para seniman yang membuat Manifes Kebudayaan yang dianggapnya melawan pemerintah. “PKI menghasut, supaya dibubarkan dan kemudian Manifes Kebudayaan dilarang,” tegasnya.

Taufiq menyebut melihat apa yang PKI teriak-teriakan, tidak jelas dan tidak karuan. “PKI membunuhi ulama dan masyarakat di berbagai seluruh penjuru Tanah Air pada tahun 1948, dan kemudian pada tahun 1965 PKI menculik dan membunuh para jenderal dengan sebuah gerakan yang dinamakan Gerakan 30 September atau disebut G 30 S PKI,“ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...