Tembakau, Tumpuan Perekonomian Lintas Usia di Lombok

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

182

LOMBOK — Musim tanam tembakau, terutama tahun ini, benar-benar menjadi berkah tersendiri bagi sebagian besar warga di Lombok, Nusa Tenggara Barat, terutama petani bagian selatan.

Selain menguntungkan petani, dengan pertumbuhan bagus dan harga mahal, didukung cuaca panas. Tembakau juga menjadi berkah tersendiri bagi warga yang berprofesi sebagai buruh harian, orang tua hingga anak remaja usia sekolahan.

Rumenah, ibu rumah tangga Desa Kabar, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat mengaku setiap musim tanam tembakau, dirinya bersama warga lain yang jadi buruh sudah pasti disibukkan dengan pekerjaan menjadi buruh tembakau milik tetangganya.

“Dari panen hingga proses omprongan, semua kebagian pekerjaan. Hampir setiap hari ajakan petik daun tembakau selalu ada, dari pagi hingga sore, dari tetangga yang memiliki tanaman tembakau maupun warga desa lain,” cerita Rumenah, Senin (8/10/2019).

Tapi seiring usia yang sudah tua dengan kondisi fisik yang mulai cepat lelah dan tidak sekuat dulu, dirinya kini memilih mengurangi jam kerja sebagai buruh lapangan, memetik dan mengangkut daun tembakau.

Rumenah lebih memilih pekerjaan begelantang, yaitu proses mengikat daun tembakau yang telah dipetik pada kayu atau bambu menggunakan tali rapia, untuk selanjutnya diomprong pada oven tembakau, termasuk pekerjaan membuka dan mengikat kembali daun tembakau yang telah kering diomprong.

“Kalau pekerjaan begelantang kan ringan, selain tidak menguras tenaga seperti memetik dan mengangkut, tempatnya juga teduh,” katanya.

Meskipun keuntungan didapatkan tidak seberapa, dimana tiga gelantang tembakau dihitung Rp3.000, sehingga dalam sehari mendapatkan Rp15.000 hingga Rp25.000.

Sementara kalau jadi buruh memetik dan mengangkut daun tembakau lebih besar, dimana dari pagi hingga siang upahnya Rp50.000.

Fitri, ibu rumah tangga lain mengaku dirinya memilih pekerjaan begelantang karena anaknya masih kecil dan tidak mungkin menjadi buruh lapangan, memetik dan mengangkut tembakau.

“Kalau pekerjaan begelantang kan bisa sambil menjaga anak, tempatnya juga teduh, meski upah didapatkan tidak seberapa. Lumayan hitung-hitung untuk belanja beli sayur dan uang jajanan anak,” akunya.

Baca Juga
Lihat juga...