Terdampak JTTS, Petani Penengahan Pilih Tanam Sayuran

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

165

LAMPUNG — Terdampak proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar Lampung, sejumlah lahan pertanian di Desa Sukabaru, Kelaten, Banjarmasin, Pasuruan, Kuripan, Ruang Tengah mengalami penyempitan, bahkan di antaranya tidak lagi memiliki sawah.

Sarijan (56) dan isteri, Sumartini (55) petani di Desa Kelaten menjadi salah satu yang lahan miliknya terkena proyek pembangunan underpass, sehingga areal sawah miliknya berkurang. Tidak hanya itu, saluran irigasi yang menjadi penopang petani juga ikut berkurang.

Menyikapi kondisi tersebut, Sarijan beralih untuk menanam hortikultura jenis sayuran dengan kebutuhan air yang minim.

“Padi sawah yang sebelumnya saya tanam membutuhkan air yang cukup banyak namun saat ini saluran irigasi dialirkan ke arah lain sehingga saya putuskan menanam sayuran yang lebih cepat panen,” beber Sarijan saat berbincang dengan Cendana News, Selasa (9/10/2018)

Jenis tanaman sayuran yang dibudidayakan di antaranya timun buah, terong, tomat mawar dan cabai caplak.

“Timun buah dapat dipanen pada usia 30 hari, terong usia 60 hari. ini lebih cepat dari padi yang baru bisa dipanen usia 95 hari hingga 120 hari,” tambahnya.

Hasil panen timun dengan masa panen saat usia 30 hari menghasilkan sekitar 80 kilogram dengan pemasukan lebih kurang Rp170.000.

“Timun dapat dipanen hingga 17 kali, dan hasil panen mencapai Rp2,5juta per periode tanam,” sebutnya.

Sementara untuk Terong, proses pemanenan dapat dilakukan maksimal 15 kali dengan harga Rp3.000 per kilo. Dalam satu kali panen ia mendapatkan Rp150ribu atau penghasilan sekitar Rp2,2juta sekali proses tanam.

“Penanaman sayuran hanya membutuhkan air minim dengan sistem kocor atau menyiram sembari memberikan pupuk,” beber Sarijan.

Sumartini tengah melakukan pembersihan gulma [Foto: Henk Widi]
Sumartini, isteri Sarijan menyebutkan, perawatan juga bisa dilakukan lebih mudah dibandingkan menanam padi.

“Sebagian tanaman sengaja ditanam bertahap sehingga usia panen bisa diatur untuk memperoleh hasil maksimal,” beber Sumartini.

Dampak pembangunan JTTS diakuinya membuat ia kehilangan lahan yang sebelumnya bisa ditanami padi. Namun hasil penjualan sayuran digunakan untuk membeli beras. Selain itu, Sumartinii juga menggunakan hasil penjualan untuk kebutuhan sehari hari. 

Baca Juga
Lihat juga...