’The Prince of Riang Horonara’, Kisah Kepahlawanan Raja Basa

Editor: Koko Triarko

1.321
LARANTUKA – Festifal Nubun Tawa terasa menarik di hari kedua, Sabtu (6/10/2018). Sejak pagi, ribuan masyarakat kecamatan Lewolema dan Flores Timur memadati lokasi yang dijadikan tempat pementasan teater rakyat dalam lakon Basa, The Prince of Riang Horonara.
“Pementasan teater yang dimainkan oleh masyarakat ini dilakukan agar semangat kepahlawanan Basa tidak hilang, dan terus dikenang generasi muda Lewolema,” sebut Yohanes Pati Ritan, salah satu tetua adat Lewolema, Sabtu (6/10/2018).
Basa Koten biasa dipanggil dengan sebutan Raja Basa, terang Yan, sapaannya, berasal dari Lewotala. Raja itu sebuah julukan lokal, pemimpin seluruh Lewolema, orang yang intelektual dan bijaksana.
“Bangunan Korke atau rumah adat, dirinya yang merancangnya. Basa  melawan Belanda, karena menganggap perintah Belanda terlalu keras. Adanya pemerkosaan terhadap para perempuan, pembayaran pajak yang besar serta kerja rodi membuka jalan,” paparnya.
Basa pun, kata Yan, membangun persekutuan dengan warga lainnya dan didengar oleh desa tetangga, bahwa dia akan melawan Belanda. Maka, semua datang dan bergabung bersamanya.
“Saat petugas pajak Belanda datang menagih pajak, Basa memimpin masyarakat melawan sehingga tujuh prajurit Belanda tewas, dan seroang pesuruh juga ikut gugur dan dikubur di tempat pementasan teater ini,” terangnya.
Tempat tersebut, saat ini berada di dekat Puskesmas Riangkotek, dinamakan Kebakut Rua, karena ada dua pohon Lontar di tempat tersebut dan terdapat sebuah kubur Belanda yang saat ini masih ada.
Basa memiliki kekuatan atau ilmu yang tinggi, tambah Yan, sehingga sulit ditangkap Belanda dan selalu lolos, sehingga pemerintah Belanda mencari cara untuk menangkapnya, karena dianggap provokator.
“Dirinya ditangkap karena ada musuh dalam selimut, orang lokal yang membocorkan rahasia kekuatannya, sehingga dirinya dengan mudah ditangkap di rumah istri ketiganya di Leworahang,” paparnya.
Basa Oreama Belawa Nunaama ditangkap dan dibawa menggunakan kapal dan diasingkan ke pulau Nusa Kembangan di Cilacap, Jawa Tengah, dan saat ditahan di sana, dirinya dikatakan menderita penyakit usus buntu sehingga diminta untuk melakukan operasi.
Sesudah itu, tuturnya, jejak Basa hilang sampai sekarang, bahkan jejak kuburannya pun tidak ditemukan, sehingga tujuan dari pementasan lakon Basa Tupa ini ingin mengangkat perjuangan Basa Koten membela bangsa dan negara melawan penjajah Belanda.
Alfonsus Mudi Aran, penulis lakon Basa The Prince Of Riang Horonara menyebutkan, ketika ada perlawanan dari Basa, pemerintah Belanda merasa terganggu lalu mengajak Basa untuk berdiskusi.
“Saat datang menemui Belanda, kelemahan Basa sudah diketahui dan minuman Basa dicampur dengan ramuan, sehingga dirinya tidak berdaya setelah meminumnya dan ditangkap,” bebernya.
Basa berfirasat, dirinya tidak akan kembali, sambung Alfons, sehingga dirinya menitipkan Rakonya (tempat menaruh sirih pinang) kepada adiknya untuk ditinggalkan kepada istri-istrinya.
Atas jasa-jasanya itu, tegas Alfons, maka tidak heran Basa Koten dinamakan Basa Tupa, di mana Tupa artinya provokator, otak intelektual dari pergerakan melawan Belanda.
“Dalam bahasa halus, dikatakan sebagai seorang inisiator untuk pergerakan melawan Belanda. Basa sudah pergi, tetapi keyakinan Riang Horonara, bahwa semangat semangat Basa masih tetap ada,” sebutnya.
Ada dengan Rakonya yang ada di kampung ini, kata Alfons, ada pada kelopak-kelopak ladang para petani  serta ada pada setiap generasi yang keyakinanya diwariskan turun-temurun.
Semangat Basa akan tetap ada dan selalu ada, sebab selama dua generasi bicara tentang Basa saja orang takut dan Basa bukan seorang raja, dia yang dalam kedudukannya di budaya Lamaholot dengan Koten Kelen Hurit Maran sangat berperan.
“Basa berasal dari suku Koten, makanya dia disebut raja. Minimal dengan pementasan teater ini, semangat Basa tetap ada di dalam jiwa generasi muda Lewonama. Raja Basa pahlawan dari Riang Horonara,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...