Tonu Wajo, Legenda Masyarakat Petani Lewolema

Editor: Koko Triarko

286
LARANTUKA – Dalam budaya masyarakat Lewolema dan Lamaholot, cerita tentang Tonu Wujo, Besipare atau Nogo Guno, tentang seorang saudara yang rela mengorbankan saudari perempuannya, agar tumbuh tanaman seperti padi, jagung dan lainnya di kebun saat sedang terjadi kelaparan dan tidak ada hasil panen, cukup dikenal luas.
“Kisah Tonu Wujo menyimpan banyak sekali hal tentang masyarakat petani, sebuah relasi dengan sesama, Tuhan, Lera Wulan Tana Ekan atau penguasa langit dan bumi serta hubungan anatara manusia dengan alam,” ujar Pater Simon Suban Tukan, SVD., atropolog dan budayawan, Minggu (7/10/2018).
Cerita ini, jelas lelaki asli kecamatan Leweolema, kabupaten Flores Timur ini, memperlihatkan nilai dan pengorbanan seorang perempuan, satu kebudayaan petani yang lahir dari batas kehidupannya.
Pater Simon Suban Tukan, SVD., antropolog dan budayawan asal kecamatan Lewolema, kabupaten Flores Timur. -Foto: Ebed de Rosary
“Saat seorang melihat dirinya tidak lagi memiliki daya untuk hidup, di situ lahir suatu pikiran yang baru atau pencerahan yang luar biasa dengan bantuan Lera Wulan Tana Ekan untuk melihat suatu visi di masa depan,” ungkapnya.
Perempuan, biasanya mengambil suatu keputusan yang paling penting di saat situasi batas, saat kritis melanda kehidupan agar sebuah komunitas atau kelompoknya tidak mengalami kelaparan.
“Tonu Wujo, Besipare atau Nogo Guno itu adalah perempuan dalam kebudayaan Lamaholot, yang telah memperlihatkan heroisme dan semangat perjuangannya untuk kehidupan masyarakat Lewolema maupun Lamaholot,” sebutnya.
Secara antropologis, tegas Pater Simon, perisitiwa pembunuhan Tonu Wujo adalah sebuah peristiwa budaya yang nyata, di mana perempuan dibunuh hanya karena makanan dan masyarakat harus tahu itu.
“Tonu Wujo dibunuh untuk menimbulkan makanan bagi kehidupan bersama, karena perempuan yang menghasilkan makanan itu bagi masyarakat di dalam kelompoknya,” ucapnya.
Maka, ketika ada pihak lain ingin mencari tahu dari mana bibit, dari mana asal makanan, tandas Pater Simon, maka para lelaki tidak mau orang lain mengetahuinya dan perempuan yang menghasilkan bibit itu dibunuh untuk menghilangkan jejak.
“Lalu, kemudian direfleksikan, bahwa dialah ibu padi dari seluruh kebudayaan petani. Jadi, semangat Tonu Wujo, Besipare atau Nogo Guno itu memperlihatkan kepada kita suatu kebudayaan masyarakat petani mulai dari mengolah lahan sampai panen yang semuanya diceritakan dalam kisah Tonu Wujo itu,” ungkapnya.
Hal yang penting di sana, tambah Pater Simon, bahwa cerita itu mengungkapkan seluruh kehidupan masyarakat, dari mana orang berasal dan perempuan adalah kelompok yang paling menentukan saat terjadi krisis.
“Kebudayaan bisa berarti gaya hidup, relasi-relasi yang dibangun atau juga berarti hasil-hasil karya manusia, dan semua itu diwariskan dari nenek moyang sampai saat ini,” sebutnya.
Yohanes Pati Ritan, tetua adat Lewolema, menyebutkan, kisah Tonu Wujo memang selalu diyakini masyarakat petani, sehingga saat ritual awal membuka kebun, menanam sampai panen ada penghormatan kepada Tonu Wujo, sang pemberi kehidupan.
“Dalam setiap ritual di kebun atau ladang, selalu ada penghormatan kepada Tonu Wujo, memberikan persembahan atau sesajen kepada Tonu Wujo, leluhur dan Lera Wulan Tana Ekan, penguasa langit dan bumi,” ungkapnya.
Perempuan adalah symbol kehidupan, kata Yan, sapaannya, sehingga dalam masyarakat Lamaholot, perempuan harus selalu dihormati, bahkan saat peperangan pun perempuan tidak boleh dibunuh.
Baca Juga
Lihat juga...