Tren Penjualan Bahan Dasar dan Pakaian Batik, Meningkat

Editor: Satmoko Budi Santoso

158

LAMPUNG – Sejumlah pedagang pakaian di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Lampung Selatan mengakui, pembelian pakaian berbahan batik mengikuti tren.

Emiliana (60) salah satu pedagang batik di pasar tradisional Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, mengakui, permintaan akan batik tergantung kebutuhan masyarakat. Sepekan terakhir ia menyebut, permintaan bahan dasar berupa kain serta baju bermotif batik cukup meningkat. Permintaan tersebut umumnya untuk penggunaan acara resmi.

Emiliana menyebut, menyediakan baju yang sudah jadi berupa hem lengan pendek, lengan panjang bermotif batik. Pakaian bermotif batik disediakan untuk laki laki dan perempuan dengan beragam corak batik Solo, Lampung dan Yogyakarta.

Emeliana, salah satu pedagang pakaian diantaranya kain motif batik dan baju batik di pasar Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Kebutuhan akan pakaian bermotif batik bahkan terjadi setelah sepekan sebelumnya sejumlah instansi mewajibkan penggunaan baju batik di kantor saat peringatan hari batik nasional.
Pada peringatan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober, diakuinya ikut meningkatkan jumlah penjualan pakaian berbahan batik.

“Saya menjual jenis bahan dasar atau kain untuk dijahit menjadi baju tetapi banyak juga warga membeli dalam bentuk sudah jadi sehingga bisa langsung dipakai sesuai dengan keinginan konsumen,”terang Emiliana salah satu pedagang pakaian di pasar tradisional Pasuruan saat ditemui Cendana News, Selasa (2/10/2018)

Tren pembelian kain bermotif dasar batik, diakui Emiliana, kerap terjadi saat menjelang hari raya serta momen khusus. Momen khusus tersebut saat acara pernikahan atau acara keluarga dengan dress code (baju wajib) batik untuk keluarga atau panitia.

Pelanggan akan membeli bahan batik khusus untuk pembuatan baju dengan bahan berukuran satu meter persegi atau lebih sesuai kebutuhan. Berbagai corak batik yang dibeli konsumen menyesuaikan selera dan harga.

Tren penggunaan baju bermotif batik sebagai baju resmi di instansi pemerintah, swasta, lembaga pendidikan ikut memberi dampak positif baginya sebagai pedagang. Pelaku usaha jual beli kain dan baju bermotif batik tersebut mengaku, membeli kain dan baju batik dengan sistem kodi dari Bandarlampung dan terkadang langsung dari Solo serta sejumlah kota penghasil batik.

Motif-motif batik lokal khas Lampung bahkan lebih dominan dijual menyesuaikan kearifan lokal masyarakat dipadukan dengan penggunaan.

“Batik yang saya jual umumnya batik cetak karena harganya terjangkau dibanding batik tulis bahkan lebih dominan sudah berwujud pakaian,” beber Emiliana.

Sebagai penjual pakaian, Emiliana juga menyebut, penggunaan batik yang diaplikasikan untuk segala usia ikut meningkatkan omzet bagi pedagang. Beberapa tahun sebelumnya batik kerap hanya digunakan oleh orang dewasa untuk acara resmi.

Namun kini pengaplikasian batik sudah umum diterapkan dalam pakaian tidur, baju santai untuk baju anak anak hingga orang dewasa. Sepekan, Emiliana menyebut, bisa menjual pakaian bermotif batik 40 hingga 50 potong untuk bahan dasar serta sudah berbentuk baju.

Harga bahan dasar batik bervariasi dari mulai seharga Rp50.000 hingga Rp70.000 per meter untuk batik cetak. Khusus untuk baju bermotif batik yang siap pakai, harga satu potong baju batik dijual mulai dari harga Rp75.000 hingga Rp90.000 untuk baju dewasa.

Baju anak anak bermotif batik dijual dengan harga mulai dari Rp20.000 hingga Rp40.000 sesuai dengan ukuran dan bahan. Sepekan ia mengaku, mendapat omzet sekitar Rp2 juta khusus untuk penjualan kain dan baju bermotif batik.

Hendra (30) salah satu pedagang pakaian menyebut, berbagai jenis pakaian dengan motif batik saat ini mulai digemari masyarakat. Keputusan pemerintah untuk memperingati batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO  ikut memperkenalkan batik.

Hendra menyebut, penggunaan motif batik pada baju terusan wanita, anak anak, kemeja laki laki mulai dikombinasikan dengan baju santai. Imbasnya, harga batik mulai terjangkau dan bisa digunakan untuk acara biasa maupun acara resmi.

“Kini batik bisa dinikmati oleh berbagai kalangan dan tidak hanya untuk acara resmi sehingga ikut menguntungkan penjual pakaian,” beber Hendra.

Berbagai corak batik yang dipadukan dengan motif motif tapis kain khas suku Lampung disebut Hendra bahkan mulai digemari. Harga kain tapis asli yang bisa mencapai Rp1 juta per meter sebagai bahan baju bahkan kini cukup terjangkau dengan adanya teknik batik cetak bermotif tapis Lampung.

Berbagai acara tradisional adat Lampung bahkan bisa dipenuhi dengan membeli di toko pakaian yang menyediakan batik bercorak tapis Lampung. Harganya pun terjangkau. Omzet ratusan ribu diperoleh Hendra dari penjualan baju bermotif batik.

Penggunaan batik juga memberi dampak positif bagi pemilik usaha jasa jahit baju di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan.

Slamet (50) salah satu penjahit mengaku, penggunaan batik mulai diwajibkan di sejumlah TK hingga SMA oleh siswa dan bagi para guru. Slamet bahkan menyebut, saat tahun ajaran baru bisa memenuhi permintaan hingga 500 pasang kemeja untuk SD dan SMP. Ia bahkan kewalahan memenuhi permintaan sehingga dioper ke penjahit lain.

“Penggunaan baju batik wajib setiap hari Kamis atau hari tertentu bahkan membuat saya kerap menerima pembuatan baju batik,” beber Slamet.

Pembuatan baju batik kerap dilakukan konsumen dengan membawa bahan kain bermotif batik. Cara tersebut lebih efektif karena pelanggan bisa mendapatkan baju sesuai dengan ukuran yang sesuai dibanding membeli dalam bentuk jadi.

Selain bisa dibeli di sejumlah toko ia mengaku, juga menyediakan bahan dengan harga bervariasi dan ongkos menjahit Rp30.000 hingga Rp50.000, sesuai dengan ukuran dan bentuk yang diinginkan pelanggan.

Penggunaan batik yang sudah diwajibkan disebut Slamet sekaligus ikut berdampak positif bagi usaha jasa menjahit yang ditekuninya. Ia bahkan bisa mempekerjakan tiga karyawan saat memenuhi banyak permintaan.

Selain dari sekolah, pembuatan seragam batik untuk panitia pernikahan juga kerap dipenuhinya. Berbagai baju motif batik yang kerap dibuat bercorak gajah dan siger sesuai ciri khas Lampung.

Pantauan Cendana News, pelaksanaan hari batik nasional terlihat di sejumlah instansi pemerintah, sekolah, toko waralaba hingga stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Sejumlah sekolah dasar di Penengahan bahkan mewajibkan siswa dan guru mengenakan baju batik. Penggunaan seragam batik kerap diterapkan saat hari Kamis, misalnya di SDN 1 Pasuruan, guru dan siswa mengenakan baju batik.

Petugas SPBU Sebayak Kalianda bahkan mengenakan batik selama satu hari penuh, meski pada hari biasa kerap mengenakan seragam merah putih, ciri khas petugas SPBU Pertamina.

Baca Juga
Lihat juga...