UGM Beri Keringan Biaya Kuliah Bagi Mahasiswa Terdampak Bencana

Editor: Koko Triarko

168
Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono –Foto: Jatmika H Kusmargana
YOGYAKARTA – Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng, D.Eng., menegaskan pihaknya akan memberikan bantuan keringanan biaya kuliah bagi mahasiswa asal NTB dan Sulawesi Tengah, yang terkena dampak bencana gempa dan tsunami. 
Bantuan biaya kuliah tersebut berupa digratiskannya pembayaran biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk satu semester. “Untuk semester selanjutnya akan kita evaluasi, terkait dengan kondisi keluarga masing-masing,” kata Rektor di hadapan ratusan mahasiswa asal NTB dan Sulawesi Tengah, di UGM baru-baru ini.
Menurutnya, kebijakan pemberian keringanan biaya kuliah ini sebagai bentuk meringankan beban ekonomi bagi mahsiswa yang berasal dari keluarga yang terkena dampak bencana di Palu, Donggala dan Lombok.
“UGM menyampaikan simpati dan keprihatinan kepada mahasiswa dan keluarganya, yang berada di daerah yang mengalami bencana yang sangat luar biasa. Sebagai tindaklanjut rasa simpati dan keprihatinan terhadap bencana tersebut, kita sepakat mengeluarkan kebijakan ini,” kata Rektor.
Selain memberikan keringanan biaya kuliah, mahasiswa yang terkena dampak bencana yang masih kesulitan biaya hidup selama indekos di Yogyakarta, juga akan diberikan bantuan berupa bekerja paruh waktu di lingkugan kantor pusat UGM dan kantor Fakultas, sehingga bisa mendapatkan honorarium atau uang lelah.
Tidak hanya mahasiswa, pihak universitas juga akan mengeluarkan kebijakan untuk memperbolehkan mahasiswa dari daerah bencana, untuk kuliah di kampus UGM. Kesempatan kuliah di kampus UGM ini diberikan dalam rangka  memfasilitasi kegiatan pendidikan dan pengajaran, bagi mahasiwsa di daerah tetap berlangsung.
“Tidak kecuali PTN, kita juga mempersilahkan PTS untuk bergabung menyesuaikan dengan prodi yang ada di UGM,” katanya.
Nantinya, UGM juga akan memberikan fasilitas kamar gratis bagi mahasiswa daerah yang menempuh kuliah sementara di UGM. “Ada kamar kosong di asrama-asrama mahasiswa yang bisa digunakan oleh mahasiswa dari daerah,” ujarnya.
Melalui kebijakam ini, Rektor berharap bisa membantu para keluarga dan mahasiwa yang terkena dampak bencana agar bisa segera bangkit dan menjalani kehidupan secara normal kembali.
“Duka Palu dan Lombok adalah duka kita semua, kita bahu membahu membantu, agar bisa kembali ke dalam kehidupan normal seperti sebelumnya,” katanya.
Sementara itu, Faesal Fathurahman, asal Lombok yang kuliah di Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM, mengaku kebijakan yang diberikan UGM tersebut bisa meringankan dirinya dan mahasiswa lainnya yang terkena dampak bencana.
Sedangkan Angga Pradan asal Palu, berharap kebijkan semacam ini tidak hanya untuk mahasiswa S1. Namun, juga bisa diberikan kepada mahasiswa jenjang pascsasarjana. Serta dapat berlaku tidak hanya untuk satu semester saja, namun juga untuk semester selanjutnya semasa masa pemulihan dari bencana belum selesai.
“Kita tahu masa recovery membutuhkan waktu yang panjang, pembiayaan UKT bisa berlanjut mengingat kondisi saat ini belum stabil,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...