Upaya Presiden Soeharto Kenalkan Batik Pada Dunia

Editor: Mahadeva WS

549

JAKARTA – 2 Oktober, diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Hal itu, berkaitan dengan ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO.

Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan tersebut, secara resmi mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Meski demikian, penetapannya tidak terwujud secara tiba-tiba begitu saja. Semuanya sudah melalui proses panjang. Dimulai dari Presiden Soeharto yang mengenalkan batik pada dunia, dengan selalu mengenakan baju batik ketika menghadiri Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Presiden Soeharto begitu gencar memperkenalkan batik ke dunia internasional sejak pertengahan 80-an. Upaya yang dilakukan dengan cara, menjadikan batik sebagai cindera mata bagi tamu kenegaraan. Beberapa diantaranya adalah, Ronald dan Nancy Reagen, saat berkunjung ke Indonesia di 1986.

Ronald dan Nancy Reagen ketika mengenakan batik saat kunjungan ke Bali pada tahun 1986 (Foto Istimewa dok soeharto.co)

Presiden Soeharto memberikan batik pada sang Presiden dan istrinya. Kunjungan Presiden negara adidaya tersebut diliput oleh banyak media luar negeri, sehingga batik Indonesia semakin dikenal dunia.

Kemudian, pada saat Indonesia menjadi tuan rumah KTT APEC II (Asia-Pacific Economic Cooperation) 1994 di Bogor. Batik semakin populer di mata dunia karena Presiden AS Bill Clinton bersama para kepala negara lainnya yang tergabung dalam kumpulan negara-negara APEC, memakai batik tulis yang khusus dibuat dengan corak yang melambangkan simbol negara masing-masing.

Presiden Soeharto pun memutuskan pakaian batik sebagai pakaian resmi kepala negara dan pemerintahan, dari kumpulan negara-negara APEC pada saat pengambilan foto bersama, yang menjadi sejarah penting dalam sejarah penyelenggaraan KTT APEC selanjutnya. Sejak penyelenggaraan KTT APEC di Bogor tersebut, setiap penyelenggaraan KTT APEC berikutnya, semua kepala negara yang hadir memakai pakaian nasional tuan rumah saat foto bersama.

Sejarah mencatat, selama masa pemerintahan Orde Baru, Presiden Soeharto memberi apresiasi tinggi pada batik. Pada 21 September 1971, Presiden Soeharto menginstruksikan peningkatan usaha batik, sebagaimana dilansir dalam http://soeharto.co mengutip buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973”, yang ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Presiden Soeharto memimpin sidang Sub-Dewan Stabilisasi Ekonomi di Bina Graha, dengan hasil Instruksi Presiden (Inpres) meningkatkan usaha batik, dalam rangka peningkatan ekspor tekstil. Inpres ini dikeluarkan sebagai tanggapan terhadap laporan Menteri Perindustrian, mengenai kemajuan yang dicapai industri tekstil. “Kita meminta agar usaha pembatikan tidak saja dilakukan pada kain mori, tetapi juga pada kain-kain jenis lainnya yang disukai oleh pasaran,” kata Presiden Soeharto menyarankan.

Presiden Soeharto juga menginginkan adanya penekanan pada sales promotion, sehingga ekspor bisa lebih meningkat lagi. “Sales promotion ini tidak saja memamerkan hasil-hasil batik dan tekstil, akan tetapi juga berusaha untuk dapat memenuhi permintaan akan hasil itu,” tutur Presiden Soeharto.

Pada 6 Februari 1985, Presiden Soeharto memimpin sidang kabinet, membahas kuota ekspor batik ke AS. Pembahasan kuota ekspor batik ke AS dalam sidang yang berlangsung di Bina Graha karena Menteri Perdagangan melaporkan tentang perundingan bilateral RI-AS mengenai pertekstilan.

Dalam perundingan itu telah disepakati bahwa AS akan memberikan kuota khusus untuk ekspor batik dan pakaian jadi dari Indonesia. Selain itu, Menteri Perdagangan juga melaporkan, nilai ekspor Indonesia pada November 1984, mencapai US$1.619,5 juta, sedangkan nilai impor adalah US$1.244,5 juta.

Apresiasi tinggi dan perhatian Presiden Soeharto pada batik tersebut, punya pengaruh baik langsung maupun tidak langsung, sehingga sampai kemudian batik Indonesia diakui sebagai warisan budaya dunia.

Baca Juga
Lihat juga...