Wabup Flotim Apresiasi Festival Nubun Tawa

Editor: Koko Triarko

295
LARANTUKA – Peran serta masyarakat kecamatan Leweolema dalam menyuskeskan festival budaya Nubun Tawa, begitu besar. Semua masyarakat mengambil peran dalam mementaskan atraksi budaya maupun menyaksikan segala pertunjukan yang ditampilkan.
“Dalam pementasan teater Raja Basa, the King of Riang Horonara saja para pemainnya semua berasal dari warga masyarakat Lewolema. baik itu anak-anak sekolah dasar, remaja maupun orang tua,” sebut Silvester Hurit, seniman Lewolema, Minggu (7/10/2018).
Dikatakan Sil, sapaannya, mendidik masyarakat dalam memainkan sebuah lakon dalam pementasan drama, ternyata tidak sulit. Sebab, masyarakat antusias dan bersemangat untuk terlibat.
Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli, SH. -Foto: Ebed de Rosary
“Untuk melatih mereka tidak membutuhkan waktu lama. Mereka juga tidak kaku dan serasa menikmati peran yang dilakoni. Yang terpenting, ada niat untuk terlibat, sehingga mereka berusaha memberikan yang terbaik,” ungkapnya.
Sil sepakat dengan keinginan Bupati Flores Timur, agar masyarakat yang berperan besar menyelenggarakan sebuah festival budaya, sementara pemerintah hanya melakukan pengawasan atau kontrol saja.
“Saya sepakat, sebab masyarakat harus diberi peran lebih, dan jika dilihat mereka juga mampu menyelenggarakan festival, seperti Nubun Tawa. Memang perlu pendampingan saat awalnya, dan terus dikurangi peran pemerintah,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli, SH., mengatakan, pagelaran festival Nubun Tawa sangat bagus, karena pariwisata berbasis budaya masyarakat, dan ada dalam keseharian kehidupan masyarakat.
“Soal prospek turisnya, kalau dilakukan secara terus-menerus pasti ada wisatawan yang datang. Tapi, yang terpenting masyarakat kemudian mengenali jati dirinya, bekal dasar kita untuk menghadapi era globalisasi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, ketika menghadapi globalisasi tanpa pijakan yang kuat terhadap budaya, maka akan tenggelam dalam globalisasi itu, di mana globalisasi memperkuat akar budaya kita dalam arus budaya orang lain.
“Pemerintah hanya sebagai fasilitator untuk membentuk kemandirian rakyat. Pada suatu waktu dan suatu saat masyarakat menjadi mandiri, sadar wisatanya sudah tinggi. Kami di Flotim baru memulainya,” sebutnya.
Harapan untuk festival tahun berikutnya, Agus menekankan harus ada modifikasi dalam atraksi, terkait dengan koreografinya, sehingga unsur seninya muncul dan saat ini masih mengeksploitasi hal-hal orisinil atau aslinya.
“Sudah luar biasa tinggal dipoles koreografinya, sehingga unsur seninya ada. Sebab, kepentingan pariwisata, bisnis, turisme itu berhubungan dengan seni dan enak dipertontonkan, agar bisa mendunia,” sebutnya.
Pemerintah kabupaten Flores Timur, tutur Agus, merasa  bersyukur masyarakat sudah memulainya dari yang orisinil, sehingga ini sebuah pijakan yang kuat untuk melangkah menuju perbaikan festival ke depannya.
Baca Juga
Lihat juga...