Walau Beracun, Bintaro Koleksi Mekarsari Miliki Banyak Manfaat

Editor: Makmun Hidayat

4.553

BOGOR — Jika kita menyebut kata bintaro, yang pertama kali muncul pastinya adalah wilayah yang ada di Jakarta Selatan. Tapi ternyata juga merupakan nama tanaman yang memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai penghasil biogas, sekaligus berbahaya karena mengandung racun.

Dilihat sekilas, pohon bintaro memiliki kemiripan dengan mangga. Sehingga tidak salah, jika di beberapa daerah, tanaman yang bernama latin Cerbera manghas ini disebut sebagai mangga laut.

Pohon bintaro memiliki daun serupa mangga dengan warna hijau muda. Bunganya berwarna putih, memiliki kelopak oval memanjang yang berjumlah lima, sementara buahnya bulat berwarna hijau pucat yang berubah menjadi merah terang saat matang.

Bunga Pohon Bintaro – Foto: Ranny Supusepa

Tinggi pohon mampu mencapai 12 meter, walaupun umumnya hanya mencapai 4-6 meter. Sementara batangnya berwarna coklat dengan garis-garis tipis di batang utama.

“Walaupun pohon ini mirip dengan mangga tapi buahnya sama sekali tidak bisa dimakan. Buah, daun dan getahnya mengandung cerberin yang bersifat racun bagi tubuh manusia. Indikasinya seperti gangguan jantung,” kata Staf Agro Taman Buah Mekarsari, Sodikin, Selasa (30/10/2018).

Sodikin menceritakan bahwa dirinya pernah menggunakan buah bintaro untuk mencegah hama tikus di gedung-gedung yang ada di Mekarsari.

“Tinggal taruh saja buah bintaro di beberapa sudut ruangan, nanti tikus akan hilang dengan sendirinya,” ucapnya.

Salah satu perumahan yang berada di seputar Taman Buah Mekarsari pun menggunakan bintaro untuk membantu mereka menanggulangi kehadiran tikus.

Selain memiliki manfaat untuk menanggulangi tikus, bintaro juga sering digunakan sebagai pohon peneduh dan penghijauan. Hal ini disebabkan pohon bintaro memiliki daun yang lebat dan akar yang tidak merusak bangunan.

“Sifat akar bintaro ini lurus, jadi tidak akan merusak tembok seperti akar rambutan atau mangga yang jika sudah berumur, akarnya mampu merusak tembok atau bangunan di sekitarnya,” sebutnya.

Bintaro sering dijadikan pilihan untuk menjadi tanaman peneduh. Daunnya yang lebat, warna bunga yang putih dan warna buah yang merah terang menjadikan bintaro sebagai pilihan tanaman hias di jalan tol.

“Selain menjadi tanaman penyerap karbondioksida, juga dapat menyerap suara bising kendaraan. Contohnya di beberapa ruas jalan tol di Jakarta, juga beberapa ruas jalan di PIK Jakarta,” kata Supervisor Pengembangan Hasil Penelitian dan Landscape Gardener Divisi R&D Taman Buah Mekarsari, Junaedi.

Supervisor Pengembangan Hasil Penelitian dan Landscape Gardener Divisi R&D Taman Buah Mekarsari, Junaedi – Foto: Ranny Supusepa

Junaedi juga menyampaikan bahwa biji bintaro sendiri jika diekstrak dapat digunakan sebagai bahan energi alternatif biofuel.

Beberapa literatur menyebutkan pengolahan biji bintaro untuk biofuel ini cukup mudah dilakukan. Biji bintaro yang dipergunakan adalah biji yang didapatkan dari bintaro yang jatuh alami dari pohonnya lalu dikeringkan.

Biji yang sudah kering ini lalu digiling atau bisa juga ditumbuk kemudian di-pressing hingga minyaknya keluar. Minyak yang keluar disaring dan dibiarkan selama 1-2 jam agar kotorannya mengendap. Minyak yang yang sudah melewati proses pengendapan ini siap digunakan.

Untuk penggunaan pada pengganti minyak tanah di kompor, dibutuhkan modifikasi pada ruang pembakaran. Hal ini disebabkan kekentalan minya bintaro lebih tinggi dibandingkan minyak tanah. Yaitu sekitar 30 poin berbanding 5 poin. Dengan modifikasi, tingkat kekentalan ini akan turun dan menghindari terjadinya letupan api pada kompor.

Khusus genset, solar tetap dibutuhkan solar untuk memancing karena injector yang ada di genset peruntukkannya untuk solar. Selang 2 menit, peran solar baru digantikan oleh minyak bintaro yang berasal dari wadah penampungan khusus dibuat disamping genset. Saat genset hendak dimatikan, minyak bintaro juga harus digantikan kembali oleh solar.

Baca Juga
Lihat juga...