Walaupun Baunya Menyengat, Amorphophallus Memiliki Banyak Manfaat

Editor: Mahadeva WS

204

JAKARTA – Amorphophallus paeoniifolius atau yang lebih dikenal dengan nama suweg, merupakan salah satu dari keluarga Araceae, tanaman yang saat ini sudah mulai jarang ditemukan.

Tanaman tersebut, memiliki habitat asli di selasar hutan dengan tanah yang lembab. Suweg sebenarnya termasuk tanaman yang mudah tumbuh. Tetapi, karena memiliki bau yang sangat kuat saat berbunga, tanaman ini menjadi jarang dibudidayakan oleh masyarakat.

Supervisor Pengembangan Hasil Penelitian dan Landscape Gardener Divisi R&D Taman Buah Mekarsari, Junaedi, menjelaskan, suweg merupakan tanaman yang memiliki batang semu, dan mempunyai dua fase perkembangbiakan. Seperti halnya bunga bangkai lain, ada fase generatif dan fase vegetatif yang dilalui oleh tanaman tersebut.

“Fase generatif suweg itu dalam bentuk biji, sementara fase vegetatifnya yaitu anakan umbi, akan tampak sebagai dedaunan bercabang-cabang, dengan batang yang lunak. Umbi batangnya dapat diolah menjadi makanan,” kata Junaedi, Rabu (31/10/2018).

Bunga suweg, akan muncul setelah semua daun dan tangkai layu. Bunganya tersusun majemuk, dengan struktur khas talas, yaitu bunga tumbuh pada tongkol yang dilindungi oleh seludang bunga. “Kalau tumpukan makanan yang ada di umbi sudah banyak, suweg baru mulai berbunga. Kuntum bunganya tidak sempurna, berumah satu, berkumpul di sisi tongkol dengan bunga jantan memiliki posisi lebih tinggi dibandingkan bunga betina. Pada saat mekar, akan mengeluarkan bau yang mengundang lalat untuk membantu penyerbukan. Baunya akan menghilang jika bunga sudah mekar sempurna,” jelasnya.

Bunga suweg termasuk kecil, jika dibandingkan dengan kerabatnya, Amorphophallus titanum. Memiliki warna merah tua di bagian kelopak, dan kuning dibagian dalam bunga. Stadiknya tertutup oleh kelopak bunga. Stadik baru akan terlihat jika kelopak bunga sudah mulai layu. Umbi suweg memiliki kandungan serat yang cukup tinggi, sehingga seringkali diolah menjadi tepung. Selain itu suweg juga dipercaya memiliki sifat anti inflamasi, anti racun, mencegah pendarahan.

Umbi suweg yang masih segar bisa digunakan untuk mengobati luka atau bisul. “Kalau pas musim kemarau, umbinya tidak akan muncul di tanah. Sehingga kalau mau suweg, ya harus digali. Berat umbinya bisa mencapai lima kilogram. Pengolahannya bisa dikukus lalu dimakan dengan garam atau diolah menjadi jenis makanan lainnya,” tambah Junaedi.

Menurut penelitian, dalam 100 gram suweg, memiliki kandungan kalori 69, protein satu gram, lemak 0,1 gram, karbohidrat 15,7 gram, kalsium 62 miligram, fofor 41 miligram, besi 4,2 miligram, vitamin B1 0,07 miligram dan air 82 gram.

Dari keseluruhan umbi, 86 persen bagian dapat dimakan. Dan karena tidak mengandung gula, umbi suweg bisa dijadikan alternatif bagi para penderita diabetes. Selain itu, karena suweg tidak memiliki rasa, maka memungkinkan untuk mencampur suweg dengan olahan makanan lainnya.

Baca Juga
Lihat juga...