Warga Sukoharjo Kembangkan Sekolah Tani Bawang Merah 

Editor: Koko Triarko

220
SOLO – Sektor pertanian di wilayah Solo dan sekitarnya, masih memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Warga di Kabupaten Sukoharjo, bersama-sama petani lainnya, pun memanfaatkannya dengan membuka sekolah pertanian sebagai uji laboratorium bersama. 
Menempati lahan kurang lebih 2.000 meterpersegi, Wiyono menginisiasi sekolah tani yang ada di Desa Mranggen, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo. Berawal dari ketertarikannya kepada pertanian, pria 46 tahun ini mencoba mencari peruntungan, setelah beberapa kali mendapat pelatihan dari dinas pertanian, baik tingkat kabupaten maupun provinsi.
Wiyono yang semula menjadikan profesi tani untuk coba-caba, saat ini sedikit banyak sudah merasakan manisnya hasil dari lahan pertaniannya.  Dengan mengembangkan tananam bawang merah, warga Polokarto ini telah beberapa kali sukses dengan harga panen yang cukup menggiurkan.
Wiyono, petani di Sukoharjo yang menginisiasi sekolah tani bawang merah -Foto: Harun Alrosid
Menurutnya, pemilihan musim tanam serta pengendalian hama yang tepat, menjadi kunci kesuksesan budi daya bawang merah.
“Selain jenis benih yang disesuaikan dengan lahan, juga perkiraan musim. Musim panen saat lebaran kemarin sudah sesuai dengan perhitungan kami. Jadi begitu panen, harganya tinggi dan cukup  fantastis bagi  petani,” kata Wiyono, saat ditemui Cendana News, di ladangnya, Rabu (10/10/2018).
Budi daya bawang merah, lanjut Wiyono, harus memperhitungkan kondisi pasar saat musim panen tiba. Sebab, jika kondisi pasar melimpah, hasil panen yang didapatkan juga kurang maksimal, karena harga menjadi turun. Selain itu, perawatan tanaman bawang merah juga sangat mempengaruhi hasil panen yang didapatkan.
Sebab, selain ada ancaman hama, pola tanam dan pengggunaan pupuk serta pestisida sangat berpengaruh terhadap kondisi tanaman yang sehat. Sejauh ini, Wiyono mengaku menggunakan pupuk organik yang dipadu dengan pupuk kompos dari kotoran hewan ternak. Penggunaan pupuk organik lebih aman dan dapat meningkatkan hasil panen.
“Saya semuanya pakai organik. Kita beli di toko tani. Selain itu, kita juga kerja sama dengan produsen obat organik. Sehingga selain kita bisa sekolah tani, lahan yang kita gunakan juga bisa menjadi laboratorium produsen untuk uji produk obat organiknya,” ungkap dia.
Kardyanto, petani lainnya, menambahkan, program sekolah tani ini merupakan kerja sama dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, yang dijembatani dari dinas terkait di Sukoharjo. Banyak ilmu yang telah didapatkan selama mengikuti pelatihan yang diselenggarakan di tingkat provinsi.
“Saya baru mau sekali ini mencoba tanam bawang merah. Biasanya hanya palawija, seperti kacang, jagung dan padi. Setelah dapat ilmu, kami ingin mencoba mempraktikkannya,” katanya.
Dalam sekolah tani bawang merah ini, petani yang tergabung dalam kelompok tani juga aktif mengikuti sosialisasi yang berkaitan dengan pengembangan tanaman. Harapannya, petani dapat tanggap jika menghadapi kondisi cuaca atau serangan hama yang akan menyerang.
“Selain itu, dari perkumpulan ini kita juga bisa saling tukar pengalaman antarpetani. Jadi, jika ada satu masalah, akan bisa diatasi bersama-sama,” tandasnya.
Baca Juga
Lihat juga...