Warga Terdampak Gempa di Sigi Masih Kesulitan Penuhi Kebutuhan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

217

SIGI — Pascabencana alam gempa bumi, tsunami di Palu, Donggala, Sigi sejumlah warga masih belum mendapatkan sejumlah kebutuhan akibat kerusakan, salah satunya listrik.

Nurhayati (40), warga Desa Omo, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah selama dua pekan belum dapat menikmati listrik dari PLN. Ia terpaksa menggunakan lampu minyak dan genset untuk penerangan saat malam hari.

Kerusakan fasilitas kabel listrik karena tertimpa pohon di wilayah tersebut ditengarai menjadi penyebab pemadaman.

Sumur yang dimiliki juga rusak dan terpaksa mengambil air dari sungai. Selain itu, ia bersama suami, Hamdan (43) terpaksa tidur di luar dengan mendirikan tenda darurat karena kuatir gempa susulan.

“Rumah yang kami tinggali mengalami keretakan meski tidak ambruk. Gempa berintensitas kecil masih terjadi, kami takut tinggal di dalam rumah dan memilih tinggal di luar, memasak juga di luar rumah,” terang Nurhayati saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (12/10/2018).

Tim YDGRK saat mengunjungi dan memberikan bantuan kepada warga di sejumlah titik yang sulit terjangkau [Foto: Henk Widi]
Menggunakan genset  masih menjadi andalan meski muncul kendala lainnya, yakni sempat esulitan bahan bakar minyak. Sejumlah stasiun bahan bakar umum (SPBU) yang ada di wilayah tersebut hingga kini masih dijaga oleh personil TNI dan Polri untuk menjaga keamanan penjualan BBM.

“Saat dua pekan setelah gempa kami masih kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar tapi kini sudah normal meski listrik belum menyala,” beber Nurhayati.

Jodi (50) salah satu warga di Desa Salua, Kecamatan Kulawi menyebutkan, pemenuhan kebutuhan sehari hari diperoleh dari bantuan keluarga dari luar daerah yang datang. Selain itu bersama dengan ratusan warga lain ia mengandalkan bantuan yang disalurkan oleh pemerintah kabupaten serta sejumlah relawan.

“Kami memasak masih menggunakan kayu bakar karena kebutuhan gas masih sulit diperoleh,” beber Jodi.

Bantuan dari Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) Siti Hartinah Soeharto menurutnya merupakan bantuan pertama kali yang langsung dikirim. Sebelumnya bantuan melalui posko induk kerap harus diambil oleh pihak desa karena jarak tempuh yang jauh dari lokasi pengumpulan bantuan gempa di kota Palu.

Bantuan dari YDGRK Siti Hartinah Soeharto dikoordinasikan dengan babinsa sehingga lebih tepat sasaran kepada yang membutuhkan.

Masa pemulihan menurut Jodi juga mendapat bantuan dari pihak Bina Marga dengan melakukan pembersihan jalan yang tertutup batu dan lumpur. Sejumlah petugas dari PLN bahkan mulai melakukan perbaikan kabel yang tertimpa pohon.

Tim relawan YDGRK yang dipimpin oleh sekretaris yayasan, H. Muhamad Yarman, SE terakhir menyerahkan bantuan ke Desa Salua. Bantuan berupa mie instan, beras, popok bayi, pakaian layak pakai diberikan untuk masa tanggap darurat.

Bantuan melalui yayasan yang didirikan oleh ibu Tien Soeharto tersebut diharapkan dapat meringankan beban korban bencana alam gempa bumi.

Jodi, warga Desa Salua Kecamatan Kulawi berdiri di dekat bangunan yang ambruk akibat gempa [Foto: Henk Widi]
Bantuan tersebut diakuinya merupakan koordinasi dengan yayasan Damandiri, Dharmais, DAKAB. Penyaluran bantuan juga didukung oleh purna pasukan utama kirab remaja nasional yang diserahkan oleh Yosef Falentinus.

Bantuan dari pasukan utama kirab remaja nasional berupa obat obatan, serta tenda yang sebagian merupakan sumbangan dari Saka Wirakartika Kodim 1418/Mamuju Provinsi Sulawesi Barat.

Baca Juga
Lihat juga...