YBI: Peran Serta Generasi Muda Sangat Diperlukan untuk Kelestarian Batik

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

291

SOLO — Yayasan Batik Indonesia (YBI) mengajak kaum millenial untuk berperan aktif melestarikan batik tradisonal. Salah satunya dengan belajar dan turun langsung menjadi pembatik, meskipun bukan faktor ekonomi yang diharapkan namun lebih kepada menuangkan ide dan gagasan.

Hal inilah yang ditekankan Ketua Bidang Humas dan Publikasi Yayasan Batik Indonesia, Titiek Djoko Sumarsono saat menghadiri peringatan Hari Batik Nasional yang diselenggarakan di Dalem Gondosuli, Laweyan Solo.

Titiek mengatakan, peran anak muda di jaman serba modern ini sangat diperlukan. Terlebih dinilai banyak memiliki ide-ide kreatif untuk membuat corak atau motif batik.

“Kita sadari kalau saat ini pembatik banyak yang usianya lanjut. Maka kami minta untuk yang masih banyak ide ini bisa menuangkan dalam batik. Misalnya batik kreativitas dari sarjana apa gitu,” ucap Titiek kepada awak media di sela-sela kegiatan, Selasa (02/10/2018).

Ketua Bidang Humas dan Publikasi Yayasan Batik Indonesia, Titiek Djoko Sumarsono. Foto: Harun Alrosid

Kecanggihan teknologi juga tak lepas dari peran serta anak muda untuk bisa menuangkan dalam bentuk karya batik secara nyata. Sebab, berbagai fitur teknologi yang ada di gadget serta kreativitas anak muda akan melahirkan corak ataupun motif batik yang benar-benar baru.

“Kalau ada batik baru pasti penggemar batik khususnya ibu-ibu pasti akan beli. Beda kalau motifnya itu-itu saja, pasti koleksinya sudah punya,” ulasnya.

Tantangan batik tradisional (tulis) tak hanya pada minat yang minim. Sebab, kecanggihan teknologi juga mengakibatkan lahirnya batik-batik printing dan industri sekala besar yang berbeda jauh dalam pembuatan.

Yayasan Batik Indonesia yang konsen terhadap perlindungan batik berupaya keras untuk mengkapayekan cinta terhadap batik tradisional. Berbagai gerakan dilakukan, salah satunya dengan meminimalisir pembelian batik printing untuk pakaian atau koleksi.

“Kalau untuk perlengkapan rumah tangga misalnya taplak, seprai atau sarung bantal boleh. Tapi kalau untuk baju atau koleksi jangan. Mari kita lestarikan batik agar tidak punah dengan membeli batik tradisional,” katanya.

Diakui Titiek, untuk bisa mendapatkan batik tulis (tradisional) tidaklah mudah. Bahkan, harga yang ditawarkan juga terpaut tinggi. Hal ini karena membutuhkan perjuangan panjang, baik dalam menentukan motif, pembatikan hingga menjadi sebuah karya yang sebenarnya sangat sulit untuk dibandingkan dengan nominalnya.

“Melalui Hari Batik Nasional ini kami ajak para generasi muda untuk bisa bersama-sama peduli pada batik. Ikut melestarikan batik,” tandasnya.

Beberapa langkah yang telah dan akan terus dilakukan Yayasan Batik Indonesia untuk tetap melestarikan batik adalah dengan memberikan penghargaan kepada pekerja batik yang usianya telah senja. Tak hanya itu, sebagai apresiasi untuk generasi muda, pihaknya juga memberikan penghargaan bagi mereka yang mau belajar untuk menjadi pembatik.

“Kita berikan perhargaan untuk mereka yang sudah puluhan tahun kerja sebagai pembatik. Demikian pula untuk pembatik yang masih baru sehingga dapat melestarikan batik tulis,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...