YDGRK Kunjungi Sekolah Hancur Terdampak Gempa di Sigi

Editor: Satmoko Budi Santoso

216

SIGI – Tim Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) Siti Hartinah Soeharto dalam misi kemanusiaan ke lokasi bencana gempa dan tsunami Sulawesi Tengah mengunjungi sejumlah titik.

H. Muhamad Yarman, SE, sekretaris YDGRK menyebut, sangat prihatin dengan kondisi terdampak bencana alam gempa bumi di Sulteng. Membawa misi bantuan, berkoordinasi dengan Yayasan Damandiri, Dharmais dan DAKAB, menyerahkan bantuan sembako senilai Rp300 juta, dibantu pula sejumlah babinsa TNI AD di Kabupaten Sigi.

Di sela-sela pemberian bantuan di sejumlah titik di antaranya Kecamatan Palu Timur di Pos Berkarya Peduli, Kecamatan Kulawi dan Kecamatan Gumbasa, tim YDGRK mengunjungi sejumlah sekolah SD dan SMP.

SMP Satap Negeri 5 Sigi Desa Salua, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi (cat biru) dan SD Inpres Salua (cat merah) roboh akibat gempa dan tsunami yang melanda Palu,Donggala, Sigi [Foto: Henk Widi]
Sejumlah sekolah disebut H.Muhamad Yarman, mengalami kerusakan parah di antaranya SD Inpres Salua dengan tiga lokal, dua lokal di antaranya ambruk dan tidak bisa digunakan. SMP Satu Atap (Satap) Negeri 5 Sigi yang berada di dekat SD Inpres Salua juga mengalami kerusakan parah.

“Sejumlah siswa dari awal bencana gempa tsunami hingga dua pekan pasca-bencana belum melakukan kegiatan belajar mengajar. Akibat bangunan sekolah yang hancur belum ada upaya perbaikan,” terang H. Muhamad Yarman, Sekretaris YDGRK ketika mengunjungi salah satu sekolah di Desa Salua, Kecamatan Kulawi, saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (12/10/2018).

Kunjungan ke sekolah di sela-sela pemberian bantuan korban bencana alam gempa disebut H. Muhamad Yarman sekaligus untuk mengetahui kebutuhan korban bencana. Selain SDN Salua, SMP Satap Negeri 5 Kulawi, tim YDGRK juga mengunjungi SD Tuva di Kecamatan Gumbasa yang rusak.

Pada kunjungan ke sekolah SD Tuva, tim juga bertemu dengan tim medis asal Yogyakarta yang melakulan kegiatan trauma healing bagi anak-anak sekolah sekaligus pemeriksaan kesehatan.

Yohanes, Kepala Desa Salua mengungkapkan kepada tim YDGRK, bantuan kebutuhan pokok sangat diperlukan oleh warga. Pasalnya, warga belum bisa melakukan kegiatan usaha mencari nafkah pasca-bencana dan sibuk mengurusi kerusakan rumah.

Sejumlah warga bahkan masih disibukkan untuk membereskan kondisi lingkungan rumah yang berantakan di antaranya akibat tanah yang retak dampak gempa.

Yohanes juga menerangkan, sejumlah anak usia SD dan SMP telah diberi izin oleh pihak sekolah untuk tidak melakukan kegiatan belajar. Pasalnya, ruang kelas yang digunakan untuk belajar di SD Inpres Salua yang dibangun semenjak masa Presiden Kedua RI HM. Soeharto ambruk rata dengan tanah. Sejumlah siswa bahkan harus mengalami kerusakan alat belajar akibat tertimbun rumah yang roboh.

Bantuan dari YDGRK diserahkan di Desa Tuva dengan sekolah dasar Tuva sebagai lokasi posko bencana [Foto: Henk Widi]
“Ada satu siswa bahkan meninggal dari total delapan warga kami yang menjadi korban meninggal saat gempa terjadi,” beber Yohanes.

Nureti, salah satu guru kelas 1 SD Inpres Salua menyebut, selama dua pekan siswa diberi dispensasi untuk tidak bersekolah. Kondisi tersebut dilakukan karena sebagian besar siswa merupakan korban terdampak bencana gempa dan banjir bandang dari Sungai Salua pasca-gempa. Peralatan sekolah yang rusak dampak gempa diakuinya membuat sekolah sangat mengharapkan bantuan bagi keperluan belajar mengajar.

“Bangunan sekolah tentunya akan menjadi perhatian dan tanggungjawab dinas pendidikan, tapi dampak psikologis dan peralatan sekolah membuat siswa butuh bantuan,” beber Nureti.

Nureti yang tinggal di dekat sekolah menyebut, sejumlah orangtua dengan anaknya terpaksa tinggal dengan tenda di halaman sekolah. Selain kondisi rumah yang hancur, sebagian orangtua dan anak-anak masih trauma akibat masih adanya gempa susulan meski dengan intensitas kecil.

Terputusnya aliran listrik PLN membuat warga mengandalkan listrik dari genset untuk penerangan dan memasak dengan kayu bakar. Bantuan sembako dan peralatan lain dari YDGRK disebutnya sangat membantu warga.

Meri, salah satu siswa SD Inpres Tuva Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah yang belum bersekolah akibat sebagian bangunan sekolah hancur [Foto: Henk Widi]
Meri (12) salah satu siswa kelas VI SD Tuva Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, menyebut masih tetap sekolah. Meski demikian, kegiatan belajar mengajar masih belum normal dan siswa dipulangkan lebih cepat akibat kondisi sekolah yang rusak.

Selain itu bersama para orangtua, anak-anak di Desa Tuva mendapat bantuan pemeriksaan kesehatan dan trauma healing dari relawan tenaga medis Yogyakarta. Meski tidak sekolah sejumlah siswa juga mendapatkan kegiatan bermain dengan para relawan.

Baca Juga
Lihat juga...