Aktivitas Penambangan Emas di Kokap Mulai Menurun Drastis

Editor: Mahadeva WS

163

YOGYAKARTA – Tak banyak yang tahu, jika kawasan perbukitan Menoreh, menyimpan hasil alam berupa sumber daya mineral emas bernilai jual tinggi. Hal itu bisa ditemui di kawasan Kecamatan Kokap, Kulonprogo, Yogyakarta. 

Sejak era 80an, sejumlah lokasi di kawasan perbukitan tersebut, telah menjadi lokasi penambangan rakyat. Sejumlah penambang, dari Jawa Barat dan warga sekitar, menggali bukit-bukit hingga kedalaman puluhan meter untuk mencari emas. Meski jumlahnya telah menyusut drastis, aktivitas penambangan emas di daerah tersebut hingga saat ini masih berjalan. Seperti yang terlihat di Desa Kalisari, tepatnya di pedukuhan Sangon dan Plampang.

Nomo menjunjukkan bekas lubang galian penambangan emas dusun Plampang 2, Kalisari, Kokap, Kulonprogo – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Saat ini aktivitas penambangan emas sudah jauh berkurang. Kalau dulu, ada puluhan lokasi di hampir semua dusun di Kalisari. Tapi sekarang tinggal empat lokasi saja. Di Sangon satu, Sangon dua dan Plampang dua,” ujar warga Plampang 2, yang juga bekas pelaku penambangan, Nomo, Rabu (7/11/2018).

Nomo menyebut, biaya operasional penambangan tidak sebanding dengan emas yang didapat. Hal itulah yang menjadikan aktivitas penambangan di Desa Kalisari, Kokap semakin menurun. Perhitungan ideal Nomo, satu ton bahan galian berupa batu, seharusnya minimal menghasilkan 12 gram emas. Jumlah tersebut untuk pendapatan perhari. Tapi kenyataannya, hasil yang didapat hanya delapan gram saja. Sehingga tidak nutup biaya operasional. “Karena itu banyak aktivitas penambangan yang berhenti,” ujarnya.

Beberapa lubang galian penambangan emas di lahan milik Nomo, banyak yang telah berhenti aktivitasnya sejak beberapa tahun silam. Terakhir, satu lubang bekas galian ditutup dan ditinggalkan penambang sejak enam bulan lalu. “Memang menambang emas itu seperti berjudi. Karena hasilnya tidak pasti. Kadang satu hari bisa dapat. Kadang tidak sama sekali. Satu meter lokasi digali ada kandungan emasnya, tapi bisa saja satu meter berikutnya tidak ada sama sekali,” jelasnya.

Saat cendananews berkunjung ke sejumlah lokasi penambangan, tampak beberapa lokasi penambangan yang terbengkalai tidak terpakai. Sejumlah lubang galian sedalam puluhan meter, nampak ditinggalkan begitu saja oleh para pekerja. Padahal, di satu lokasi setidaknya bisa terdapat dua hingga empat lubang galian. Setelah selama puluhan tahun berjalan secara ilegal atau tanpa izin, aktivitas penambangan rakyat di Kecamatan Kokap saat ini sebenarnya telah memiliki status baru. Keluarnya izin eksploitasi dari Kementerian ESDM, ke depan rencananya aktivitas penambangan rakyat akan dilakukan dengan melibatkan BUMDes setempat.

Baca Juga
Lihat juga...