Anak Berkebutuhan Khusus, Penggerak Inkubator Bisnis

Editor: Satmoko Budi Santoso

156

BONTANG – Perasaan gamang setelah lulus sekolah dihadapi hampir semua remaja di Indonesia. Bukan hanya persoalan melanjutkan pendidikan ke mana. Memilih jurusan apa. Banyak juga yang khawatir, akan bekerja di mana?

Bermula dari pertanyaan salah satu anak asuhnya itu, Anggi Valentino Goenadi (30), melepas jabatan yang cukup bergengsi di sebuah perusahaan swasta.

“Saya akhirnya fokus mengelola sekolah ini,” kata Anggi. Sekolah yang dimaksud adalah Sekolah Luar Biasa (SLB) Permata Bunda yang didirikan dan dikelola mertuanya. Murid-muridnya adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang datang dari berbagai penjuru Kota Bontang, Kalimantan Timur.

Lulus sekolah bagi remaja yang tidak memiliki kebutuhan khusus, bisa menjadi masalah.

“Apalagi bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Masalahnya bisa jauh lebih besar,” imbuh dia. Ia benar-benar mantap melepas karirnya sebagai Legal & Public Relations PT Black Bear Resources Indonesia di Bontang. Bukan tanpa sebab. Setelah mertuanya meninggal, praktis hanya sang istri, Siti Marlina, yang menjalankan amanah mendidik itu.

Anggi awalnya tidak tertarik mengambil alih sekolah ini, lantaran secara bisnis tidak menguntungkan. Dari puluhan murid yang diasuh, hanya beberapa yang rutin membayar iuran sekolah. Padahal, sekolah ini harus menggaji sejumlah guru.

“Bantuan dari pemerintah untuk SLB sangat kecil. Jadi secara hitungan bisnis tidak masuk akal,” kata dia.

Untuk membiayai operasional sekolah, Anggi bekerja serabutan. Mulai jualan wallpaper, membuka cucian mobil, sablon, dan lain-lainnya. Dari sinilah muncul ide untuk berkolaborasi dengan anak-anak asuhnya yang selesai sekolah.

Sekitar 2013, ia mendirikan Inkubator Bisnis Permata Bunda. ini bukan sekadar tempat usaha, melainkan jawaban atas kegamangan anak asuhnya setelah selesai menjalani pendidikan.

Umumnya, anak-anak SLB tak tahu harus ke mana setelah sekolah. Bekerja rasanya sulit. “Ini merupakan program jangka panjang yang berkesinambungan. Tujuannya mengantarkan anak anak berkebutuhan khusus memiliki usaha sendiri, sehingga tidak bergantung dengan orang lain,” ujar Anggi, Selasa (6/11/2018).

Alurnya, anak-anak lulus SLB Permata Bunda, kemudian belajar dan magang di Inkubator Bisnis. Lalu mendirikan usaha sendiri.

Saat ini sudah ada lima cabang usaha, yaitu bidang desain interior dan penyediaan wallpaper. Nama unit usahanya Pola. Kemudian sekolah komunikasi publik bernama Bota, jasa pencucian kendaraan sekaligus bengkel dengan nama usaha Zing.

Ada juga produksi digital printing dan advertising Jaici, dan penjualan merchandise serta pakaian dengan nama Om Adut. Salah satu produk yang dihasilkan juga digunakan perusahaan di Kalimantan Timur yaitu Pupuk Kaltim.

Saat ini, dari 42 anak berkebutuhan khusus, sebanyak 37 di antaranya melanjutkan pelatihan serta pemagangan program Inkubator Bisnis. Meski statusnya masih tenaga magang, mereka juga mendapatkan upah. Mulai dari Rp750 ribu sampai Rp1,9 juta.

“Penghasilannya lebih besar dari pengajar di sini,” kata Anggi, tersenyum. Tahun lalu, penghasilan kotor dari seluruh lini usaha Inkubator Bisnis, mencapai Rp700 juta.

Tak hanya menghasilkan keuntungan, Inkubator Bisnis juga menelurkan usahawan dari anak-anak ini. “Sudah ada tiga anak yang berhasil meluncurkan usaha. Satu di bidang merchandise, kemudian fotografi, dan bengkel,” ungkap dia.

Inkubator Bisnis juga sudah mampu memberikan CSR pada lingkungan sekitar dengan cara mempercantik kawasan melalui mural. Tahun lalu, usaha yang dimotori sejumlah difabel ini meraih penghargaan Indonesian Sustainable Development Goals Awards (ISDA) untuk kategori Platinum dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Baca Juga
Lihat juga...