Anies: Tak Ada Penghapusan Koridor Satu TransJakarta

Editor: Satmoko Budi Santoso

153

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menuturkan, pihaknya tak memiliki rencana penghapusan koridor satu TransJakarta. Sebab, penghapusan itu dinilai bertentangan dengan rencananya dalam membuat transportasi massal yang menjangkau di atas 90 persen wilayah dan penduduk Jakarta.

“Tidak ada. Menurut saya jangan diputar-putar teruslah. Tidak ada rencana penghapusan koridor. Kita akan membuat rute transportasi massal yang bisa menjangkau di atas 90 persen wilayah dan penduduk DKI,” ujar Anies di Monas, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11/2018).

Jika dihapus koridor I tersebut, bakal ada pengaturan rute lagi sehingga juga akan ada rute-rute baru.

“Karena itu nanti harus ada pengaturan rute lagi. Nah, ketika ada pengaturan rute, maka akan ada rute-rute baru, rute-rute yang diperpendek, rute yang diperpanjang, ada rute yang digantikan moda lain. Jadi tidak spesifikasi 1 atau 2 rute saja. Tapi saat ini, di masa-masa awal justru jangan ada penggeseran rute ketika MRT mau mulai. Karena itulah justru masa kita mulai mengintegrasikan karena yang penting adalah antarmoda itu tersambungkan,” paparnya.

Lebih lanjut, Anies meminta semua moda transportasi tak memikirkan modanya masing-masing. Menurut Anies, tak ada moda yang superior di Jakarta. “Semuanya saling membutuhkan dan terhubung,” katanya.

Anies mengatakan, saat ini tengah mengkaji halte TransJakarta dan angkutan Jak Lingko lainnya agar dekat dengan Depo MRT. Dia berharap, integrasi bisa segera direalisasikan saat MRT resmi beroperasi pada 2019.

“Yang penting MRT, BRT, TJ, kemudian bis sedang bis kecil, itu semua dibangun rutenya dengan membayangkan orang bisa pindah satu sama lain. Jangan sampai kita membangun halte jauh dari tempat turunnya MRT,” jelasnya.

Menurut Anies, meski rute kedua transportasi itu bersinggungan, tak berarti salah satu harus dikorbankan untuk dihapus.

Saat ini, pengaturan dan perluasan rute (rerouting) tengah digodok DKI. Pemprov akan terus memikirkan agar transportasi massal bisa menjangkau 90 persen wilayah dan penduduk DKI.

Sementara, Direktur Utama PT Transjakarta, Agung Wicaksono, mengatakan, bakal ada empat halte Transjakarta yang dirancang terintegrasi dengan moda raya terpadu (MRT).

“Ada empat titik, pertama Lebak Bulus, kedua CSW koridor 13 dengan Halte Sisingamangaraja, Dukuh Atas yang disebut Pak Gubernur ada TOD, dan Bundaran HI. Empat titik itu sebagai prioritas,” kata Agung di Balai Kota DKI Jakarta, kemarin.

Halte Dukuh Atas dan Bundaran HI yang berada di dekat stasiun MRT dengan nama yang sama, merupakan bagian dari Koridor 1 Blok M-Kota. Koridor ini dilintasi sekitar 26 rute bus.

Sementara, halte CSW yang berada di jalan layang Koridor 13, hanya dilintasi bus-bus dari Ciledug ke Tendean, Blok M, Ragunan, Kuningan, Tosari, dan Pancoran Barat.

Halte Transjakarta Lebak Bulus berada persis di samping Dipo Lebak Bulus yang menjadi ujung operasional MRT. Halte ini dilewati bus Koridor 8 Lebak Bulus-Harmoni. Selain itu ada pula bus yang mengarah ke Senen, Ciputat, dan Kampung Rambutan.

Agung mengatakan, Halte Lebak Bulus menjadi yang paling penting sebab halte dan terminalnya akan jadi awal dan akhir perjalanan warga. Untuk itu, pihaknya bakal menambah bus yang melewati Lebak Bulus.

“Yang paling penting memang Lebak Bulus, sudah ada beberapa rute. Tapi kita akan duduk bersama MRT untuk petakan lagi titik-titik mana yang MRT butuhkan agar didukung. Berdasarkan data yang kita miliki, penumpang itu akan banyak datang dari area mana,” kata Agung.

Agung mengatakan, integrasi serta perluasan rute Transjakarta penting karena akan mempengaruhi ketertimpangan MRT.

Baca Juga
Lihat juga...