Api yang tak Pernah Padam

CERPEN PANJI SUKMA HER ASIH

294

SANG Prabu termenung sembari sesekali mengerutkan dahi ketika kembali mengingat apa yang telah terjadi pada kerajaannya.

Bagaimana tidak, Raden Patah, putra dari istri kesayangannyalah yang menjadi alasan kehancuran Majapahit. Padahal sebenarnya Sang Prabu telah berniat untuk menyerahkan kerajaan padanya saat kelak Sang Prabu mangkat.

Sebab Sang Prabu sebelumnya memang telah mendapat bisikan dari para leluhur, jika kejayaan Majapahit sudah saatnya berakhir dan harus berganti peradaban yang dibawa para wali.

“Mohon izin Gusti Prabu, hamba dan para pengikut setia Gusti Prabu yang tidak ikut mengabdi ke Demak Bintara siap untuk menggempur balik. Hamba yakin masih banyak orang kita di daerah bekas wilayah Majapahit yang akan bergabung,” ucap Patih Blumbang Ludira dengan nada berapi-api.

Mendengar niat dari Patih Blumbang Ludira, Sang Prabu membalikkan badan sembari tersenyum. Desiran angin dingin dan kabut tebal di atas petilasan candi yang berdiri megah, seakan menjadi saksi bisu pembicaraan itu.

Sebenarnya Sang Prabu bisa memahami dengan niat patih kepercayaannya itu, patih paling sakti yang sekaligus senapati perang terbaik di kerajaan, dan juga desakan para abdi setianya untuk membalas dendam pada Demak Bintara.

Namun Sang Prabu tidak ingin rakyat jelata yang tak mengerti tentang konflik di kerajaan menjadi korban. Terlebih saat ini, ke seratus putra Sang Prabu telah mau menerima perihal keruntuhan Majapahit.

Mungkin dengan tetap memilih menjadi adipati-adipati di berbagai bekas wilayah kekuasaan Majapahit, akan lebih penting demi kebaikan para rakyat, setidaknya dapat meredam beberapa bekas pasukan perang Majapahit yang selama ini tercecer usai bertempur dengan pasukan Demak Bintara, dan saat ini bergerak sendiri tanpa perintah dari Sang Prabu.

“Tentu kau tahu dengan kebesaran Majapahit selama ini, kau pun pasti tidak ragu dengan kehebatan pasukan perang kita yang menguasai seluruh wilayah Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaka,” jawab Sang Prabu yang membuat Patih Blumbang Ludira seperti mendapat angin harapan akan diberi mandat menggempur balik Demak Bintara.

“Hamba tidak pernah ragu sedikit pun. Apalagi para putra Gusti Prabu yang kini tersebar di semua wilayah Nusantara adalah pendekar pilih tanding. Terlebih kita bisa meminta bantuan Raden Sujono. Hamba yakin ajian balak miliknya akan membuat pasukan Demak Bintara kocar-kacir,” ucap Patih Blumbang Ludira mencoba meyakinkan Sang Prabu.

Sang Prabu berjalan perlahan mendekat, ia memegang bahu Patihnya sembari membisikkan sesuatu. Hal itu membuat Patih Blumbang Ludira tiba-tiba tersujud dan tampak memohon ampun di kaki Sang Prabu.

“Ini bukan perkara kalah atau menang, tapi ini adalah garis Sang Hyang Widhi yang harus aku tempuh,” ucap Sang Prabu.

“Jujur, hamba tidak tega melihat Gusti Prabu seperti ini, tanpa baju kebesaran yang selama ini selalu Gusti kenakan. Maaf jika hamba sempat berpikir picik dan menganggap Gusti tidak tegas pada Raden Patah karena cinta Gusti buta ke Permaisuri Campa.

Sang Prabu memerintahkan Patih Blumbang Ludira untuk pergi ke Ponorogo membantu Raden Katong yang menjadi Adipati di sana. Sang Prabu juga memerintahkan untuk membawa gamelan kerajaan, Kiai Condhong Laras.

Gamelan yang hanya dimainkan ketika ada prosesi-prosesi penting di kerajaan. Sebenarnya Patih Blumbang Ludira bertanya-tanya dengan maksud Sang Prabu memboyong gamelan Kiai Condhong Laras. Namun tentu saja sebagai abdi yang setia, ia menjalankan perintah sebagai mana mestinya.

Rombongan Patih Blumbang Ludira berangkat dengan 300 pengawal dan 20 kereta kuda yang membawa gamelan Kiai Condhong Laras. Mereka berangkat pagi-pagi buta untuk menuju Kadipaten Ponorogo.

Raden Katong adalah salah satu putra Sang Prabu. Kesaktiannya sangat mashur setelah berhasil mengalahkan Ki Ageng Kutu yang sempat memberontak pada Majapahit. Raden Katong yang bernama asli Lembu Kanigoro telah memeluk Islam di era-era akhir Majapahit, hingga membuat beberapa abdi setia Majapahit menganggap Raden Katong tidak menghargai para leluhurnya.

Namun tidak begitu bagi Sang Prabu, ia mengerti jika itu adalah kehendak jagad. Memang bagi orang-orang di kota raja dahulu, Sang Prabu dan Raden Katong jarang terlihat bersama, apalagi mengadakan pertemuan penting membahas tentang kerajaan.

Sebab mereka selalu berkomunikasi dengan mata batin dan menggunakan ajian ngeraga sukma untuk bertemu di tempat yang jauh dalam hitungan hanya sepersekian detik.

Sesampainya di pendapa ageng Ponorogo, Patih Blumbang Ludira menyampaikan mandat Sang Prabu agar ia menetap di Ponorogo untuk membantu pemerintahan di sana, dan juga menyerahkan gamelan Condhong Laras sesuai amanat Sang Prabu.

Tentu saja Raden Katong dapat memahami apa sebenarnya maksud dari sang ayah, meminta patih terbaik Majapahit untuk membantunya adalah pesan batin sekaligus sasmita.

“Patih mengerti dengan maksud ayah yang sebenarnya?” tanya Raden Katong usai menarik napas panjang.

“Gusti Prabu meminta hamba untuk membantu Raden menjalankan pemerintahan di Ponorogo, dan membawa gamelan Kiai Condhong Laras pada Raden. Setahu hamba itu. Apa ada yang luput hamba tangkap?”

“Sepertinya ada tanggung jawab besar yang akan aku emban. Apa kau dan seluruh anak keturunanmu sudi untuk mengabdi padaku?” tanya Raden Katong sembari memegang pundak Patih Blumbang Ludira, persis seperti yang dilakukan Sang Prabu saat di candi.

“Sumpah setia hamba ikrarkan untuk mengabdi pada Raden. Dan mohon beri tahu hamba, beban besar apa yang Raden emban. Hamba siap ikut memikulnya.”

“Aku tahu sebenarnya dulu kau termasuk dari para abdi setia ayahanda yang kecewa saat aku mengikuti ajaran para wali,” ucap Raden Katong sembari ia kembali duduk di kursi kebesarannya.

Raden Katong menjelaskan jika sebenarnya, ayahandanyalah yang meminta ia untuk memeluk agama Islam. Itu adalah garis takdir yang tidak bisa dihindari. Namun sebelumnya, Sang Prabu telah membuat perjanjian dengan Sabdo Palon Sang Raja bangsa lelembut, yaitu 500 tahun kemudian Sabdo Palon akan membantu mengembalikan kejayaan Majapahit.

“Kau dikirim ayahanda bukan untuk membantuku menjalankan pemerintahan di sini, tapi kau dikirim ayahanda untuk melindungiku. Tentu kau mengerti, gamelan Condhong Laras dimainkan ketika prosesi pengangkatan raja baru. Harusnya kau paham dengan maksud ayahanda mewariskannya padaku. Sebab anak keturunankulah yang akan membawa kembali kejayaan Majapahit di masa mendatang.”

“Hamba berjanji akan menjaga Raden. Hamba bersumpah, bahkan ketika kelak hamba telah mati, khodam (makhluk gaib yang bersembunyi di dalam jimat) hamba akan terus melindungi seluruh keturunan Raden.”

Mendengar sumpah setia Patih Blumbang Ludira, Raden Katong tersenyum lalu mengangkat tangan kanan memberi tanda jika bakti abdi setia ayahandanya itu telah diterima. Sesaat kemudian, Raden Katong bersila dan menyatukan kedua tangan ke depan dadanya.

Ia ngeraga sukma untuk berkomunikasi batin dengan Raden Sujana yang kini telah menjadi pertapa bergelar Kiai Balak. Guna meminta restu dan doa dari kakaknya. ***

Panji Sukma Her Asih tinggal di Sukoharjo. Bergiat di komunitas sastra Kamar Kata, founder Sanggar Seni Semesta Bersua. Pamong di Karanganyar Taman Kabudayan, dan anggota Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia yang membidangi kepemudaan. Novel yang telah terbit berjudul Astungkara (Penerbit Nomina, 2018), antologi puisi berjudul Perjamuan Kopi di Kamar Kata (zine indie Semesta Bersua).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

 

 

Baca Juga
Lihat juga...