AR Baswedan Dapat Gelar Pahlawan, Anies Mengenang Sang Kakek

Editor: Mahadeva WS

132

JAKARTA – Abdur Rahman Baswedan atau yang lebih dikenal sebagai AR Baswedan akan menjadi salah satu dari enam sosok yang mendapatkan gelar pahlawan di 2018 ini. Lima tokoh lainnya adalah, Kasman Singodimedjo dari Jawa Tengah, Depati Amir dari Bangka Belitung, Brigjen KH.Sjam’un dari Banten, Ibu Agung (Hj. Andi Depu) dari Sulawesi Barat dan Pangeran Muhammad Noor dari Kalimantan Selatan.

Rencananya Presiden Joko Widodo, akan memberikan gelar kepahlawanan tersebut bertepatan pada Hari Pahlawan 10 November. Sang Kakek AR Baswedan mendapatkan gelar pahlawan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mencoba mengenang sosok leluhurnya tersebut.

A.R. Baswedan dikenal sebagai jurnalis, yang memiliki rasa nasionalisme tinggi. Saat AR Baswedan menjadi wartawan surat kabar Tionghoa-Melayu Matahari atau Sin Tit Po, sosoknya disebut-sebut Anies, sempat dikejar-kejar oleh Kolonial Belanda. Hal itu terjadi karena, tulisan AR Baswedan dianggap mengancam pemerintahan Hindia Belanda. “Mungkin teman-teman bisa lihat beberapa waktu lalu, salah satu media menulis 100 tulisan yang mempengaruhi perjalanan bangsa, kira-kira begitu, salah satu tulisan AR Baswedan,” ungkap Anies, Kamis (8/11/2018).

Anies menyebut, selama hidup, kakeknya selalu membawa kamera dan recorder. Dan hingga saat ini, Anies mengaku masih menyimpan koleksi kaset rekaman hasil perbincangan dan wawancara kakeknya dengan berbagai tokoh pada masanya. “Karena beliau seorang wartawan. Dari mudanya wartawan, sampai akhir hayatnya. Kemanapun pergi selalu bawa kamera, kemanapun pergi selalu bawa tape recorder,” tandasnya.

Kenangan lain yang hingga kini terbawa adalah, aktivitas ke kantor pos bersama kakeknya yang dilakukan setiap hari. “Semua (bahan beritanya) pasti harus bermutu. Tiap hari beliau kirim surat, saya jadi juru tulisnya, yang ditulis saya (sudah) tidak ingat. Tapi, beliau selalu kalau habis mendikte di ujung surat itu, selalu bilang surat ini saya diktekan dan diketik oleh cucu saya, Anies,” jelasnya.

Anies mengaku bangga sekali, ketika turut serta dalam mengirimkan surat, dengan menggunakan mesin ketik. Namun, Anies baru menyadari, sang kakek berusaha memberitahu penerima surat, jika terdapat salah ketik, dan itu bukan diketik dirinya, melainkan oleh cucunya. “Karena Beliau itu kalau ketik 10 jari, (pandangan) lihat ke atas. Ini seseorang yang memang terlibat menulis sehari-hari. Jadi, saya merasa bersyukur sekali bahwa tumbuh besar berinteraksi sampai dengan SMA kelas dua,” ceritanya.

Pada saat ibu kota pemerintahan Indonesia di pindah ke Yogyakarta. AR Baswedan yang juga pendiri Persatuan Arab Indonesia (PAI), disebut Anies, ikut hijrah bersama tokoh pergerakan lainnya. Kisah perjuangan AR Baswedan lain yang diingat Anies adalah, kala kakeknya menjadi salah satu anggota BPUPKI, yang bersidang di Gedung Pancasila. Di 1947, Soekarno mengangkat A.R. Baswedan sebagai Menteri Muda Penerangan.

“Salah satu peran yang sering disebut adalah AR Baswedan salah satu anggota misi diplomatik untuk mendapatkan pengakuan de jure dan de facto dari Mesir, saat masa perang mempertahankan kemerdekaan,” tandasnya. Sebelum wafat pada usia 78 tahun pada Maret 1986, A.R. Baswedan sempat menyelesaikan autobiografi, Beberapa Catatan tentang Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab (1974) di Jakarta.

Baca Juga
Lihat juga...