Atur Pola Tanam, Dukung Reboisasi dan Investasi

Editor: Satmoko Budi Santoso

157

LAMPUNG – Hujan yang mulai turun di wilayah Lampung Selatan dimanfaatkan oleh warga untuk menanam pohon.

Wongso, warga Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni, menyebut, melakukan penanaman jagung, pisang, cabai serta pohon sengon pada lahan seluas satu hektar. Penanaman pola tumpangsari disebut Wongso sudah dilakukan di lereng perbukitan menghadap ke Selat Sunda tersebut.

Hasilnya selama puluhan tahun ia bisa mendapatkan manfaat beragam dari pola tanam multy purpose tree species (MPTS) tersebut.

Pemanenan beberapa jenis tanaman, diakui Wongso, menyesuaikan masa panen di antaranya pisang setiap setengah bulan sekali, cabai rawit setiap dua pekan sekali serta jagung setiap empat bulan sekali.

Khusus untuk tanaman menahun seperti sengon, jati ambon dipanen setiap enam tahun sekali. Pengaturan pola tanam tersebut diakui Wongso telah dijalankan oleh masyarakat yang tinggal di pesisir dengan memanfaatkan lahan miring.

Jenis pohon yang ditanam merupakan tanaman yang memiliki fungsi reboisasi sekaligus investasi ekonomi.

“Petani memiliki sistem pengaturan tanam agar bisa panen mingguan, bulanan sekaligus tahunan untuk kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang. Tanpa meninggalkan fungsi utama untuk penghijauan,” terang Wongso, salah satu petani di Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan, saat ditemui Cendana News, Sabtu (10/11/2018).

Wongso yang sudah menanam sekitar 500 batang pohon sengon menyebut, telah memanen sekitar 300 batang untuk bahan bangunan. Proses pembelian dengan sistem kubikasi tersebut diakuinya memberi keuntungan secara ekonomis setelah menanam sengon enam tahun.

Beberapa di antara pohon sengon tersisa selanjutnya ditunggu hingga besar sembari menunggu proses penanaman bibit baru. Sistem tebang pilih membuat wilayah tersebut tidak pernah gundul dan longsor.

Selama proses menanam pohon keras jenis sengon, jarak tanam yang tepat membuat ia masih bisa menanam tanaman pertanian. Tanaman pertanian jenis pisang, cabai merah, jagung bahkan sangat tepat ditanam bersamaan dengan sengon. Misalnya di sepanjang tepi pagar pembatas kebun ditanam pinang serta pohon petai. Berbagai jenis tanaman sengaja dipilih, pohon saling membutuhkan sebagai penaung dan penyedia air.

“Pohon pisang yang memiliki rumpun banyak bisa menjadi penyimpan air sehingga pohon sengon tetap tumbuh dengan subur,” beber Wongso.

Sebelum pohon sengon bibit baru berusia satu tahun, Wongso bahkan mengaku, masih bisa menanam jagung selama dua kali. Meski memanfaatkan pola kearifan lokal masyarakat dalam memaksimalkan manfaat lahan, ia tidak mengurangi fungsi tanaman sebagai penjaga longsor dan resapan air.

Jenis tanaman pinang yang memiliki perakaran kuat dan petai bahkan menjadi penahan pada lahan miring yang dimiliki. Pinang yang memiliki harga Rp6.000 per kilogram dan petai Rp50.000 satu empong memberinya penghasilan secara berkala.

Pola pemanfaatan lahan oleh masyarakat Lampung Selatan tersebut mempengaruhi permintaan akan bibit pohon.

Tejo Agung, penanggung jawab produksi bibit di Persemaian Permanen BPDASHL KLHK Lampung – Foto Henk Widi

Tejo Agung, penanggungjawab produksi bibit Persemaian Permanen, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Way Seputih Way Sekampung (BPDASHL WSS) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menyediakan sebanyak 2,5 juta bibit pohon.

Penyediaan bibit bagi masyarakat semakin meningkat saat hujan mulai tiba dengan prospek tumbuh bibit lebih tinggi dibanding saat kemarau.

“Warga yang meminta bibit sudah bisa mengatur kapan waktu tanam dan kapan harus panen sehingga bisa meminta bibit sesuai jadwal,” terang Tejo Agung.

Berdasarkan data, Tejo Agung menyebut, hingga Oktober tahun ini total produksi bibit yang disediakan oleh persemaian permanen mencapai 2,5 juta bibit. Bibit terdiri dari 16 jenis tanaman kayu kayuan, 15 tanaman multy purpose tree species atau total sebanyak 31 jenis bibit.

Sejumlah bibit tanaman kayu-kayuan yang disediakan di antaranya sengon, acasia mangium, bambang lanang erta jenis tanaman kayu lainnya. Jenis tanaman MPTS atau buah di antaranya pala, petai, kecapi dan jenis tanaman buah lainnya.

Ia mengaku, mengapresiasi sejumlah warga yang memanfaatkan pola tanam dengan sistem tebang pilih. Sejumlah pohon yang bisa dipanen dalam waktu singkat di antaranya sengon dan jabon kerap diminta dalam jumlah banyak.

Meski demikian KLHK melalui persemaian permanen disebutnya mendorong masyarakat menanam pohon kayu bukan untuk ditebang. Sesuai dengan arahan Menteri KLHK, Siti Nurbaya, setiap orang sepanjang hidup wajib menanam sebanyak 25 pohon.

“Program menanam sebanyak 25 pohon seumur hidup tentunya seiring dengan kearifan lokal masyarakat Lamsel yang menanam pohon untuk warisan anak cucu,” beber Tejo Agung.

Kesadaran masyarakat untuk menanam pohon sebagai tanaman reboisasi, tanaman investasi didukung dengan penyediaan bibit. Selain masyarakat yang tinggal di dekat kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa, KLHK diakuinya mendorong penghijauan di kawasan Register I Way Pisang yang sebagian sudah beralihfungsi menjadi lahan perkebunan dan pemukiman penduduk.

Laju pertumbuhan penduduk dan pemanfaatan lahan diakuinya masih belum diimbangi dengan upaya melakukan penanaman oleh masyarakat. Meski demikian, ia memastikan, kearifan lokal masyarakat dalam menanam pohon bisa mempertahankan kondisi tanah sekaligus pasokan air.

Baca Juga
Lihat juga...