Bali Belum Bebas Rabies

Editor: Satmoko Budi Santoso

123

DENPASAR – Rabies ternyata masih menjadi momok bagi sebagian masyarakat yang tinggal di daerah apalagi dengan populasi anjing tinggi. Tak terkecuali di Bali.

Dari data yang dimiliki oleh Dinas Kesehatan setempat diketahui, hampir semua wilayah di Bali mengalami persoalan kasus rabies, tak terkecuali di Kota Denpasar. Dari luas penyebaran kasus rabies, tercatat sebanyak 32 korban gigitan anjing rabies di beberapa wilayah di Bali sepanjang tahun 2018.

Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH, Kementerian Pertanian, Fadjar Sumping Tjatur Rasa, mengatakan, bahwa di beberapa daerah termasuk di Bali memang belum bisa dibebaskan dari rabies. Akan tetapi, ada beberapa daerah yang kasus rabiesnya mulai menurun. Tentunya dengan melalui program vaksinasi.

Meski begitu, kata Fadjar, ada daerah yang sudah dilakukan vaksinasi, namun tidak menjamin setiap anjing bebas dari rabies. Pasalnya dalam implementasi vaksinasi ini kerap menemui kendala.

“Jadi yang utama adalah vaksinasi, karena penyakit rabies ini sebenarnya penyakit yang bisa diberantas dengan vaksin. Tapi dengan syarat tentunya harus mencapai 70 persen dari populasi yang divaksin,” ucapnya, saat dikonfirmasi, Jumat (9/11/2018).

Selain itu, kata Fadjar, adalah bagaimana pemilik anjing khususnya di daerah yang memang masyarakatnya banyak memelihara anjing, bisa bertanggung jawab atas anjing yang mereka miliki. Karena dari riset yang dilakukan, pada saat anjing beranak, biasanya sebagian besar melepaskan anjingnya di luar pengawasan pemilik. Inilah yang menjadi kesulitan, karena saat divaksin tentu harus ditangkap.

Maka, proses kegiatan vaksinasi ini harus memenuhi 70 persen dari populasi. Sementara pihaknya mengaku kesulitan untuk menghitung populasi anjing liar. Anjing tersebut susah dihitung jumlah dan keberadaannya, ada dimana.

“Disini yang ditakuti sebenarnya adalah saat menggigit manusia. Jika anjing itu rabies menggigit manusia, fatal. Artinya mematikan,” imbuhnya.

Tetapi di sisi lain, jika dalam suatu wilayah sudah diberi VAR (Vaksin Anti Rabies) bisa meminimalisir penyebaran Rabies. Jadi, jika orang meninggal karena digigit anjing rabies, itu biasanya tidak disuntik VAR atau yang terlambat VAR.

Oleh sebab itu, pihaknya bersyukur dengan kerja sama One Health yang baru saja dilakukan di Bali menjadi alternatif langkah preventif untuk penanggulangan penyebaran kasus Rabies. Diketahui, dalam kerjasama tersebut terdapat manajemen soal gigitan anjing, bekerjasama dengan puskesmas dan puskeswan.

“Penularan rabies ini sangat cepat, karena melalui gigitan. Di daerah yang masyarakatnya banyak memelihara anjing, maka kasusnya akan lebih tinggi. Contohnya di Kalimantan Barat, Bali, dan Sulawesi Utara. Sementara yang sudah bebas adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Khusus untuk di Bali, setidaknya ada 92 desa yang masih belum bebas,” jelasnya.

Sementara itu, menurut Anung Sugihantono, selaku Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, gigitan rabies ini atau Gigitan Hewan Pembawa Rabies (GHPR) memang masih terjadi dan mengakibatkan rabies pada manusia.

Di beberapa daerah pun kini telah menganggarkan vaksinasi dari anggaran daerah sendiri. “Ini menarik untuk sebuah kewaspadaan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...