Bekraf Gelar WCCE di Bali

Editor: Mahadeva WS

233

BADUNG – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Kementerian Luar Negeri, menyelenggarakan World Conference on Creative Economy (WCCE) 2018 di Bali. Konferensi tersebut menjadi pertemuan pertama mengenai ekonomi kreatif tingkat dunia.

Kepala Bekraf, Triawan Munaf, menjelaskan, WCCE akan berlangsung 6-8 November. Pertemuan diikuti oleh delegasi lebih dari 30 negara, dengan 1.500 peserta. WCCE mengusung tema, Inclusively Creative. Tujuan utama pertemuan, Indonesia ingin menyampaikan pesan ke dunia, bahwa ekonomi kreatif berpotensi menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi negara. Sumber daya ekonomi kreatif, berasal dari ide dan gagasan manusia yang tidak akan pernah habis selama manusia tetap eksis.

“Kenapa tema Inclusively Creative? Kami ingin ada common understanding (pemahaman bersama) dan common ground (landasan bersama), untuk mengembangkan ekonomi secara global. Karena itu kunci utama pengembangan ekonomi kreatif adalah kolaborasi,” ucap Triawan, Selasa (6/11/2018).

Kolaborasi tersebut dilakukan tanpa memandang batas usia, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, agama, maupun lokasi geografis. Acara diawali dengan Friends of Creative Economy (FCE), yang dihadiri delegasi berbagai negara, akademisi, pelaku kreatif, komunitas, dan media untuk membahas dan merumuskan Deklarasi Bali yang akan dibawa ke Sidang Umum PBB di tahun depan.

Kepala Perwakilan BI Bali Causa Iman Karana.-Foto: Sultan Anshori

Konferensi ini juga menghadirkan lebih dari 20 tokoh ternama di dunia kreatif, yang menjadi pembicara dalam konferensi tersebut. “Selain itu, kami juga konsep acara Bekraf Developer Day, yaitu acara yang mempertemukan para pengembang aplikasi, Unity in Diversoto, yaitu program untuk memperkenalkan kuliner soto yang beraneka ragam di Indonesia kepada dunia internasional,” jelas Triawan.

Kepala Perwakilan BI Bali, Causa Iman Karana, menjelaskan, Bekraf akan membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia khususnya Bali. Salah satu potensi ekonomi kreatif sangatlah luas, mulai dari yang terkait dengan budaya seperti tenun, patung, perak, tari), kemudian kuliner (makanan khas bali dan oleh-oleh makanan hasil kreasi seperti pie, lapis, kopi dan kakao) hingga ke Teknologi Informasi (TI) yaitu animasi, aplikasi) semuanya ada di Bali.

“Jadi buat kami sebagai unsur ekonomi, sangatlah optimis bahwa bidang ekonomi kreatif akan dapat menjadi sumber baru penggerak ekonomi Bali, selain pariwisata. Binaan UMKM BI juga terlibat. Ada di pameran tadi tenun, perak dan olahan produk pertanian,” pungkas pria asal Yogyakarta tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...