hut

Budidaya Lele Sistem Bioflok di Aceh Singkil, Cepat Memanen

ACEH SINGKIL — Kelompok pemuda di Desa Sanggabeuru, Kabupaten Aceh Singkil, mulai membudidayakan ikan lele sangkuriang dengan cara baru yakni sistem kolam bioflok (gumpalan mikroorganisme).

“Cara ini akan menghemat 50 persen pakan daripada cara budidaya ikan lele yang biasa hasilnya dijamin menjanjikan bagi pengusaha perikanan,” kata pembina kelompok Pemuda Semangat, Ramli, di Aceh Singkil, Jumat (16/11/2018).

Ia menjelaskan secara umum sistem bioflok adalah memanfaatkan kumpulan dari berbagai organisme baik bakteri, jamur, protozoa, maupun algae yang tergabung dalam sebuah gumpalan (floc) sebagai pakan.

Dia menjelaskan budi daya ikan lele dengan cara kolam bioflok ini merupakan usulan masyarakat kepada perusahaan perkebunan untuk pemenuhan kebutuhan ikan lokal dan pasar.

“Sudah ada permintaan dari lokal dan luar daerah untuk pemasarannya, sehingga kami usulkan ke perusahaan perkebunan PT Socfindo untuk pembuatan kolam dengan sistem bioflok dan sudah terealisasi,” katanya.

Selain membantu penyediaan fasilitas kolam, lanjutnya, perusahaan perkebunan tertua di wilayah administrasi Kabupaten Aceh Singkil tersebut juga melakukan penaburan benih ikan lele sangkuriang di sejumlah kolam bioflok.

Asisten Divisi 1 Perusahaan Perkebunan PT Socfindo Kebun Lae Butar Aceh Singkil, Manatap Simamarmata, usai melepas benih ikan lele sangkuriang mengatakan perusahaan memberikan satu paket kolam bioflok sekaligus persediaan pakan, obat probiotik dan benih.

“Program ini merupakan usulan para pemuda Sanggaberu yang diprogramkan melalui kegiatan tanggung jawab lingkungan sosial atau CSR perusahaan PT Socfindo,” sebutnya.

Dia menjelaskan dengan sistem bioflok, ikan lele sudah bisa panen pada umur tiga bulan, pengembangan metode menumbuhkan mikroorganisme yang bisa berfungsi untuk mengolah limbah pada kolam maupun hasil kotoran lele tersebut.

Kemudian, limbah budidaya itu sendiri akan menjadi gumpalan-gumpalan yang berbentuk kecil yang biasa disebut dengan floc, itu merupakan hasil dari pengolahan.

“Floc tersebut juga bisa digunakan sebagai pakan lele alami dan mengurangi pakan pelet yang biasa digunakan,” katanya.

Manajerial perusahaan hanya memfasilitasi, selanjutnya masyarakat yang mengelola dan memasarkan, diharapkan masyarakat bisa mandiri dan meneruskan usaha budidaya tersebut dan hasilnya bisa membantu kesejahteraan pemuda.

“Kalau bisa jangan putus setelah tahap pertama, hasilnya bisa disisihkan untuk modal usaha pengelolaan berikutnya,” demikian Manatap. (Ant)

Lihat juga...