Ciplukan, Tanaman Liar Segudang Manfaat

Editor: Mahadeva WS

201

MALANG – Physalis angulata L. atau lebih dikenal sebagai Ciplukan, adalah tanaman liar yang kerap diabaikan. Namun, dari hasil penelitian, Ciplukan ternyata memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi kesehatan, dan mulai dicari orang.

Hal itulah, yang mendasari tim riset pemulia tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB), yang dipimpin Dr. Budi Waluyo, SP., MP, dengan tiga orang mahasiswa, Danniary Ismail, Yusuf Mufti Bimantara dan Rizka Aikmelisa, membudidayakan dan mengembangkan tanaman Ciplukan.

Tanaman, buah dan benih Ciplukan – Foto Agus Nurchaliq

Danniary menjelaskan, tanaman Ciplukan memiliki kandungan senyawa metabolik, diantaranya Asam Malat, Alkaloid, Tannin, Kriptoxantin, Provitamin A, vitamin B kompleks dan vitamin C. “Tanaman Ciplukan bisa dimanfaatkan sebagai terapi bagi penderita diabetes, dan juga untuk menurunkan darah tinggi atau hipertensi,” jelasnya, Senin (12/11/2018).

Budi daya Ciplukan, cukup mudah dilakukan. Ciplukan teridentifikasi sebagai salah satu buah lokal Indonesia, sehingga sangat adaptif jika ditanam di wilayah Indonesia. Hasil riset pemuliaan Ciplukan, telah menghasilkan produk varietas tanaman ciplukan unggul dan kaya nutrisi.

Benih unggul diproses dari tetua Ciplukan hasil teknologi pemuliaan tanaman, yang telah dilakukan proses seleksi dan uji daya. Saat ini, sudah siap dilepas ke pasar, dengan nama Physalis Company Chipseed. “Proses budidaya Ciplukan, benihnya merupakan hasil pemuliaan tanaman, dimana benih tersebut sudah diseleksi berdasarkan kualitas dan penampakan fenotip produk. Sehingga produk yang dilepas di pasaran merupakan produk pilihan,” terangnya.

Perawatan tanaman Ciplukan cukup sederhana, dan hampir sama dengan perawatan tanaman pada umumnya. Yang terpenting adalah, Ciplukan tidak sampai kekurangan air, untuk meminimalisir kekeringan yang dapat mengakibatkan daun rontok. “Usia dari tanam hingga berbunga, membutuhkan waktu 1,5 sampai dua bulan. Sedangkan usia hidupnya empat sampai enam bulan, dan memiliki kemampuan produksi jika terawat baik bisa mencapai 200 buah pertanaman, dengan masa panen empat sampai lima kali panen,” ujarnya.

Tanaman Ciplukan terdiri dari beberapa jenis. Saat ini, baru ada empat jenis yang berhasil dikembangkan oleh tim riset tersebut. “Empat jenis Ciplukan tersebut, Ciplukan yang cocok untuk dataran rendah, Ciplukan untuk dataran tinggi di atas 600 mdpl (meter dari permukaan laut), Ciplukan yang ukurannya hampir sama dengan tomat, dan Ciplukan yang punya bulu, yang ditemukan di gunung Semeru,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...