Ciptakan Kemandirian Pangan, Agus Kembangkan Sistem Tanam Hidroponik

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

BEKASI — Memanfaatkan pekarangan rumah seluas 300 meter persegi, Agus Suryono terbilang sukses mengembangkan berbagai jenis tanaman sayur melalui teknik penanaman hidroponik, di RT 02/RW 08 Kampung Cibutung Pedurenan, Mustikajaya Kota Bekasi.

Kimiksi, Hidroponik
Agus Suryono, kembangkan sistem Hidroponik di lingkungannya. Foto: Muhammad Amin

Menggunakan median rockwool dalam teknik hidroponik, ia mampu menghasilkan tanaman kangkung 40 kilogram per minggunya dan juga mengembangkan Sawi Kale.

Hal tersebut untuk memenuhi permintaan pasar. Tetapi, untuk jenis Sawi Kale dia mengaku perhitungan panennya memerlukan waktu 45 hari setelah tanam (HST).

“Untuk hasil tercepat jenis tanaman sayuran kangkung, perhitungannya hanya memakan waktu 20 hari setelah semai (HSS). Setiap panen sudah langsung habis,” kata Agus Suryono, saat ditemui di gallery Maura Farm, Senin (19/11/2018.

Ia mengaku sengaja berhenti kerja untuk serius menggeluti tanam hidroponik. Hal tersebut didasari untuk memberi edukasi dalam menciptakan kemandirian pangan minimal untuk keluarga sendiri dan lingkungan.

Agus, menjelaskan melalui sistem hidroponik akan menghasilkan kualitas berbeda dibandingkan cara konvensional, baik dari segi rasa maupun cara perawatannya.

Lebih lanjut, Agus mengakui saat ini kewalahan dalam memenuhi permintaan pasar. Ia mengajak warga, terutama di Mustikajaya, yang memiliki lahan pekarangan rumahnya, selain dikonsumsi sendiri, juga dapat menambah penghasilan keluarga.

“Maura Farm, selalu memberikan edukasi, di lingkungan sekitar bagaimana sistem bercocok tanam hidroponik. Saya juga menyediakan berbagai instalasi sebagai median yang bisa disesuaikan dengan pekarangan rumah,” papar Agus, mengakui Indonesia kini sedang krisis petani.

Lebih lanjut Agus mengakui median yang digunakan adalah rockwool, karena lebih tahan dan lebih menyerap nutrisi. Untuk median sendiri ada lima jenis, seperti rockwool, cocofeat, sekam bakar, hidroton berasal dari bahan tanah liat yang dicetak dan pari malang.

“Tetapi semua tergantung tempat dan jenis sayurannya apa. Untuk kangkung, sawi kale, sawi pakcoy, bisa menggunakan median rockwool,” tambahnya.

Untuk satu kilogram sawi kale, biasanya dihasilkan dari 12 lobang pipa. Harganya pun terbilang lumayan mahal meski diambil oleh pengepul, mencapai Rp20 ribu per kilogram nya. Harga itu berbeda tentunya jika kita jual langsung ke user-nya.

Sedangkan untuk perawatan papar Agus, tidak terlalu rumit, karena sistem hidroponik menciptakan sayuran sehat, dan tentunya akan susah diserang hama. Namun demikian jelasnya, sebagai langkah preventif, dia tetap menggunakan pestisida nabati, seperti bawang putih, tembakau atau daun papaya.

“Sedangkan air yang mengaliri tanaman ditambahkan dengan nutrisi seperti garam mineral untuk diserap tanaman,” tambahnya.

Gallery Maura Farm, milik Agus saat ini dibuat sebagai Posko Komunitas Hidroponik Bekasi (Kimiksi) wilayah Bekasi Timur, dengan menyediakan sayuran dan hidroponik bebas pestisida, sayuran buah dan bibit nutrisi AB mix.

Lihat juga...