Cok Raka, Seniman Topeng Barong yang Masih Eksis

Editor: Mahadeva WS

161

GIANYAR – Kerajinan topeng barong di Bali, terus dilestarikan para seniman di Pulau Dewata. Salah satu yang masih melakukannya adalah Cok Raka Bawa, perajin topeng barong khas Bali asal Gianyar.

Cok Raka Bawa memulai karier sebagai seniman pahat ukir sejak 1976. Dan berkat ketekunannya, aktivitas tersebut mampu menghidupi keluarganya. “Ketika itu usia saya masih sekitar 16 tahun. Saya belajar dari orang tua saya,” ucap pria yang akrab disapa Cok Raka tersebut, Selasa, (6/11/2018).

Dalam pembuatan topeng barong tidak bisa dilakukan sembarangan. Topeng Bali, dibagi dalam dua garis besar, pertama, topeng yang disakralkan, di mana proses pembuatannya harus melalui upacara adat. Upacara dilakukan dilakukan, mulai dari penebangan pohon, hingga selesainya pembuatan topeng. Topeng yang disakralkan tidak diperjualbelikan, dan hanya digunakan dalam upacara adat dan tarian.

Sedangkan topeng yang dijadikan sebagai hiasan, tidak perlu melalui upacara adat. Banyak diperjualbelikan di pasar seni atau toko-toko pusat oleh-oleh. Dari segi waktu pengerjaan, untuk membuat satu topeng, seniman berusia 56 tahun tersebut membutuhkan waktu sekira tiga bulan. Hal itu mulai dihitung dari proses pemahatan, pengecatan, hingga penyelesaian aksesoris yang melekat pada barong.

Kayu yang digunakan adalah kayu mahoni. Kualitas menjadi alasan pemilihan kayu tersebut. “Setiap perajin memiliki identitas sendiri, topeng barong menjadi gambaran jiwa pembuatnya. Ada yang matanya menyala ada yang sayu,” ujar Cok Raka.

Harga topeng barong bervariasi, mulai dari Rp100 ribu, hingga jutaan rupiah. Harga tergantung ukuran, serta tingkat kesulitan pembuatan. Proses pemasaran biasa dilakukan dengan mengikuti pameran seni dan budaya.

Belum lama ini, Cok Raka Bawa bisa menampilkan keahliannya membuat topeng di di Indonesia Pavilion, setelah mendapatkan tawaran dari Badan Ekonomi Kreatif  (Bekraf). Kegiatan dilalui dengan workshop selama seminggu. “Dari event itu, adalah dampak positif bagi usaha kami ini. Ada beberapa delegasi IMF kemarin yang sudah melakukan pemesanan khusus,” kata pria yang juga berprofesi sebagai Pelatih Tari Barong asal Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar tersebut.

Saat ini, yang menjadi kekhawatiran Cok Raka adalah, bagaimana bisa melakukan regenerasi seniman pahat topeng dari kalangan muda. Hal tersebut dibutuhkan, karena sudah sangat sedikit sekali kaum muda yang tertarik menjadi seniman pahat seperti dirinya. Hal itu penting, agar warisan leluhur melalui kebudayaan terus terjaga. “Saya berharap ada yang mau meneruskan ini. Oleh sebab itu saya dirumah juga ada pelatihan tentang pahat, serta tari barong. Karena topeng dan tari barong adalah satu kesatuan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...