Di Jember, Pak Harto Meramal Pulau Jawa

OLEH MAHPUDI

4.974

Catatan Redaksi:
Dalam catatan Incognito Pak Harto seri ke-33 yang kami turunkan ini, redaksi Cendana News selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas.

Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan).

Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) , namun hemat kami, catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini, tetap menarik untuk disimak.

Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini, sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.
Selamat Membaca.

Setelah selesai bersilaturahim ke berbagai ulama di Jombang, Jawa Timur, Pak Harto melanjutkan perjalanan ke Jember. Dan sebagai Tim Ekpedisi Napak Tilas Incognito Pak Harto, kami pun meniti tujuan ke Jember, mengunjungi rumah Pak Kasman, Tetua Desa Balung, Jember, seorang sesepuh desa yang saat itu dikunjungi Pak Harto.

Ketika kami sampai di lokasi Balung, ternyata, Pak Kasman sebagai saksi utama kedatangan Pak Harto, telah wafat. Yang bisa kami temui hanyalah Bu Supinah dan anaknya. Mereka menyambut kami dengan hangat dan mengobrol panjang. Namun, perhatian kami semua justru tersita oleh sosok seorang pemuda yang merupakan anak dari Pak Kasman.

Pemuda itu bernama Bowo Suhartono. Seorang pemuda dari Wringin Telu, sebuah desa terpencil di Balung, Jember, Jawa Timur. “Ini bukan nama sembarangan, Mas, “ ujarnya saat tim ekspedisi Incognito Pak Harto menemuinya pada 10 Juni 2012.

“Ini pemberian langsung dari Pak Harto,” tutur Bowo, bangga. Perkataannya langsung diamini oleh Bu Supinah, ibunda Bowo yang turut mendampingi. Lho, kok bisa? Ujaran dari Bowo, membuat kami semakin antusias menyimak!

Pak Harto Memberi Nama Bayi

”Waktu itu, ketika usia Bowo baru tujuh hari, datang bapak-bapak dari Jakarta, dan kami diberi tahu bahwa tamu yang datang adalah Bapak Presiden. Beliau sedang berkunjung ke desa-desa. Hendak menginap di rumah kami,” kenang Bu Supinah.

Pak Harto disambut warga Wringin Telu, Balung, Jember, Jawa Timur. Sumber Foto: Museum Purna Bhakti Pertiwi

Lalu, Bu Supinah pun mengisahkan kunjungan Pak Harto saat itu. Pilihan menginap di rumah Pak Kasman, ayah dari Bowo Suhartono, selain karena rumah tersebut merupakan satu rumah yang cukup layak, juga karena pemiliknya dikenal sebagai tetua desa yang dihormati. Sang Tamu pun segera menjadi akrab dengan tuan rumah. Pak Harto pun bertanya dalam bahasa Jawa,” Siapa nama puteranya?”

Kasman menjawab, ”Bowo Supriyadi.”

Kasman memang mengagumi tokoh perjuangan Supriyadi.

Sejenak kemudian, Pak Harto berujar, ”Bagaimana kalau diberi nama Bowo Suhartono?”

Tentu saja Kasman senang. Pemberian nama untuk puteranya dari seorang Presiden, sungguh sebuah kehormatan. Tanpa pikir panjang, Kasman pun mengangguk setuju. Apalagi, Pak Harto berpesan agar bayi pertama mereka hendaknya dirawat dengan baik, agar tumbuh menjadi orang yang berguna bagi negara dan bangsanya.

Ramalan Pak Harto tentang Pulau Jawa

Pada anjangsana tersebut, rupanya, perbincangan antara tamu dan tuan rumah, terus berlanjut hingga larut malam. Dan kami sebagai tim ekspedisi, merasa bersyukur, masih bisa mendapat sekelumit isi perbincangan Pak Harto dan Pak Kasman saat itu, dari Bowo.

“Ketika masih kanak-kanak, saya diceritakan oleh bapak saya, apa yang diperbincangkan pada malam istimewa itu,” ujar Bowo.

Hal yang paling berkesan dan terus terngiang dalam ingatan Bowo, adalah cerita ayahnya tentang ujaran Pak Harto. ”Kelak seluruh desa-desa di Pulau Jawa akan diterangi listrik, dari ujung barat sampai ke ujung timur pulau Jawa akan terhubung oleh jalan raya. Rakyat akan cukup sandang dan pangannya,” kata Pak Harto kepada Pak Kasman, saat itu.

Pak Harto bertatap muka dengan warga Wringin Telu, Balung, Jember, Jawa Timur – Sumber Foto: Museum Purna Bhakti Pertiwi

Tentu saja, dalam benak warga desa Wringin Telu, ujaran Pak Harto lebih mirip sebagai ramalan. Betapa tidak, pada awal tahun 1970-an desa ini begitu terpencil. Jangankan jalan raya, listrik saja tak ada.

Namun, pada 2012 itu, Bowo baru menyadari, ujaran itu bukan hanya sebuah ramalan, tapi juga sebuah tekad dan rencana seorang pemimpin bangsa yang berhasil diwujudkannya.

Yang menarik, Bowo Suhartono tetap memelihara rumah bersejarah itu. Ia menunjukkan kamar tempat Pak Harto menginap, kondisinya masih tak jauh berbeda. Demikian pula kamar mandi terbuka, serta balai-balai dimana Pak Harto berbincang dengan ayahnya, masih sama seperti dulu.

Yang tak Putus antara Pak Harto dan Rakyatnya

Selain berbincang dengan Bowo, kami juga berkeliling desa. Dan ternyata, tak hanya keluarga Kasman yang memiliki kenangan berkesan tentang kehadiran seorang Presiden di desanya.

Dari informasi yang kami peroleh, Pak Harto memang sengaja datang ke Wringin Telu yang merupakan satu desa percontohan nasional dalam bidang pertanian. Seharian, Pak Harto bersama rombongan Incognito-nya berkegiatan di sini, berbincang-bincang. Mencari tahu bagaimana penduduk setempat berhasil mengolah sawah mereka, menyerahkan bantuan bibit kelapa, hingga menyaksikan pertunjukan kesenian rakyat setempat.

Kami bersyukur, ketika tim napak tilas Incognito bertandang ke Wringin Telu, warga desa tengah berkumpul di Balai Desa. Ibu Nandang Sukowati, Ibu kepala desa, menyatakan, ada hubungan yang tak terputuskan antara warga desanya dengan Pak Harto.

Rumah Keluarga Bowo Suhartono di Wringin Telu, Balung, Jember, tempat Pak Harto menginap dalam perjalanan incognito di Jawa Timur pada Juli 1970. Sumber Foto: Museum Purna Bhakti Pertiwi

“Ketika tersiar kabar Pak Harto jatuh sakit pada 2008, warga berkumpul di depan televisi balai desa.

Mereka mengikuti perkembangannya dengan rasa cemas, bersama-sama membaca doa bagi kesehatan Pak Harto,” kenang Ibu Nandang pada kejadian di tahun 2008 itu.

“Dan ketika siaran televisi memberitakan beliau wafat, hampir semua warga berkumpul di sini dan terpaku di depan layar televisi. Seharian itu tak ada yang pergi ke sawah. Kami berangkulan dengan kesedihan yang mendalam. Kami membaca doa bersama-sama. Sebagian, bahkan, ada yang menitikkan air mata,” kisah Bu Nandang.

Sudah Saya Duga, Kamu akan Seperti Ini

Meskipun kisah ini telah banyak bertabur melankoli, cerita dari Wringin Telu belum selesai. Hari pun terus berlalu. Dan seiring derasnya waktu, Bowo Suhartono tumbuh menjadi seorang putera yang cerdas. Di masa mahasiswanya, Bowo bahkan berhasil meraih beasiswa Supersemar. Bowo pun sempat tampil sebagai aktivis mahasiswa yang gigih menyuarakan berbagai masalah sosial.

Bowo Suhartono (kedua dari kanan) sedang bercerita kepada Tim Ekspedisi Incognito Pak Harto tentang kenangan keluarganya saat Pak Harto menginap di rumahnya pada 26 Juli 1970. Sumber Foto: Museum Purna Bhakti Pertiwi

Yang lebih mengagetkan lagi, Bowo ternyata sempat bertemu dengan Pak Harto, dalam sebuah acara kemahasiswaan. Usai menyampaikan salam kepada Pak Harto, Bowo mengenalkan diri sebagai putera desa di Jember yang dulu diberi nama oleh Pak Harto.

Mendengar itu, Pak Harto tertegun sejenak. Lalu, dengan senyumnya yang khas, Pak Harto menyambut, ”Sudah saya duga, suatu ketika, kamu akan seperti ini.”  ***

Baca Juga
Lihat juga...