Di Malang, Banyak Koperasi tidak Sehat

133
Koperasi, ilustrasi - Dok: CDN
MALANG – Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kota Malang, mengemukakan dari 700 koperasi yang berbadan hukum di daerah itu, banyak yang masuk kategori tidak sehat.
“Dari sekitar 700 koperasi yang memiliki badan hukum, 50 persen di antaranya sudah tidak aktif, dan jumlah koperasi yang masuk kategori sehat hanya mencapai puluhan saja,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Malang, Tri Widyani, di sela lokakarya Manajemen Penilaian Kesehatan Koperasi di Malang, Jawa Timur, Senin (12/11/2018).
Tri Widyani yang akrab dipanggil Yani itu, mengaku harus kerja keras untuk meningkatkan kapasitas perkoperasian di wilayah itu. Harapannya, koperasi yang tidak sehat bisa menjadi sehat dan ke depan pengurus serta pengawas harus tersertifikasi.
Pengurus dan pengawas koperasi yang memiliki sertifikat saat ini hanya beberapa saja. Karena itu, upaya agar koperasi bisa menjadi sehat dan memiliki unit usaha, serta mampu mengembangkan aset terus dilakukan oleh Dinas Koperasi dan UMKM setempat.
Yani mencontohkan, Koperasi RSUD Syaiful Anwar yang dinilai sukses dan mampu mengembangkan unit usahanya.
“Harapan kami ke depan, koperasi tidak sekadar urusan simpan pinjam saja, tetapi mampu bersaing dalam meningkatkan unit usahanya, bahkan bersertifikasi,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Malang, Sutiaji, menekankan agar koperasi yang ada di kota itu berkembang sampai merambah unit usaha, karena sebagian besar koperasi yang ada di Kota Malang masih berkutat dengan kegiatan simpan pinjam, dan beberapa di antaranya digunakan oleh rentenir untuk menjerat masyarakat.
“Koperasi sebagai fondasi perekonomian masyarakat harus dikuatkan. Ini sejalan dengan program kami, yang saat ini fokus bagaimana agar ekonomi kemasyarakatan bisa tumbuh melalui skema peningkatan UMKM dan penyehatan koperasi,” tutur Sutiaji.
Penguatan koperasi dengan merambah unit usaha seperti yang dilakukan oleh beberapa koperasi, merupakan upaya agar perputaran uang pada lembaga itu tidak statis.
Jika itu diterapkan dengan baik, akan semakin banyak masyarakat yang gemar dan tertarik menitipkan dananya ke koperasi, sehingga ekonomi dapat berjalan dengan lancar.
“Arus perputaran uang koperasi ini dari dan untuk anggota. Karena itu, ke depan koperasi harus sehat. Bagaimana caranya agar bisa memiliki derajat sehat, ya dengan memperbaiki administrasi, menaikkan SHU dan RAT, dengan begitu koperasi bisa sehat dan berkembang,” paparnya.
Selain itu, kata Sutiaji, ke depan koperasi harus menjadi suksesor dari kegiatan UMKM. Artinya, setiap UMKM harus memiliki basis koperasi sebagai sarana penopang pendanaan.
“Dengan skema ini perekonomian, masyarakat akan semakin kuat,” katanya. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...