hut

Didik Nini Thowok, Setia sebagai Penari Perempuan

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Didik Hadiprayitno, SST, yang memiliki nama lahir Kwee Tjoen Lian dan Kwee Tjoen An atau yang lebih dikenal sebagai Didik Nini Thowok, termasuk penari andal. Selain itu, Didik juga dikenal sebagai koreografer, komedian, pemain pantomim, penyanyi, dan pengajar tari.

Didik terkenal dengan karya tarinya ‘Dwi Muka (Dua Wajah)’ yang sudah dipatenkan Hak Kekayaan Intelektualnya. Hal ini semata-mata karena Didik profesional melindungi karya dengan payung hukum.

“Tadi saya nenampilkan seni cross gender di Indonesia,“ kata Didik Nini Thowok seusai acara pementasan ‘Dua Wajah: Tradisi Peran di Istana dan Masyarakat’ di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu (17/11/2018).

Lelaki kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 13 November 1954 itu membeberkan sebenarnya Tari Golek dari keraton, dulu wanita yang menari untuk raja, tapi ternyata bisa laki-laki.

“Kemudian, Lengger, tari tradisi di Banyumas itu juga begitu. Penarinya bisa lelaki untuk menarikan wanita, tapi kalau Ronggeng memang penarinya wanita,“ beber bintang film Jagad X Code (2009) dan Preman In Love (2009).

Dengan pementasan ini, Didik ingin mengingatkan kembali sejarah cross gender di Indonesia yang bukan hal baru, tapi sudah lama.

“Tarian tadi baru saya pentaskan di sini, sebelumnya saya pentaskan pada tahun 2012 di Yale University New York, saya datang ke sana sebagai penerus cross gender,“ ungkapnya.

Didik menyayangkan generasi zaman now tidak tahu dan menganggapnya aneh.

“Padahal itu sudah lama sekali, bahkan dalam sejarah Hamengku Buwono I sudah melakukan tarian Bedhaya Kakung, dimana kakung itu lelaki,“ paparnya.

Penampilan yang dilakukan Didik itu ada literaturnya, yakni Serat Centhini, bahwa seni cross gender, sejak zaman dulu memang sudah ada.

“Bukan hal yang baru, atau dalam istilah Jawa, ngoyoworo, asal ngawur, tidak. Karena ada sejarahnya,“ ujarnya.

Didik menegaskan, tidak setuju kalau seni cross gender dikaitkan LGBT.

Frame-nya beda antara seni pertunjukan ini dengan LGBT. Itu memang lain,“ tegasnya.

Didik mengaku bisa keliling dunia ratusan kali berkat dirinya melestarikan seni cross gender.

“Dari dulu saya memang sudah konsisten menjadi penari wanita dengan tetap melestarikan seni cross gender,“ pungkasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!