Erupsi GAK Masih Terus Berlangsung

Editor: Mahadeva WS

150

LAMPUNG – Gunung Anak Krakatau (GAK), mengalami erupsi pada Selasa (6/11/2018) pukul 10.00 WIB. Hanya saja, secara visual, erupsi tidak terlihat dari pos pengamatan di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan.

Andi Suardi, Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Andi Suardi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api GAK menyebut, rekaman seismograf saat erupsi menunjukan amplitudo maksimum 58 mm, dengan durasi sekira 54 detik. Aktivitas letusan GAK, semenjak Juni lalu, masih terus terjadi. Tercatat intensitas erupsi, lebih sering, dibandingkan bulan sebelumnya. Sesuai data yang diteruskan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), GAK yang ada di Selat Sunda, mengalami kegempaan letusan 281 kali sepanjang Senin (5/11/2018) hingga Selasa (6/11/2018).

Data tersebut teramati dari pos pantau Pasauran Banten. Sementara dari pos pantau gunung api, GAK pada Rabu (7/11/2018), gunung tertutup kabut tebal, dampak dari hujan yang turun. Secara visual, tubuh GAK tertutup kabut tebal putih, yang keluar dari kepundan mengarah ke Timur. Hujan dan berkabut membuat pengamatan dengan mata telanjang dan teropong, sulit dilakukan.

Meski sudah beberapa kali mengalami erupsi, status GAK masih waspada. Dihimbau, nelayan dan wisatawan tidak mendekat pada radius dua kilometer. “Secara visual tidak terlihat, namun asap mengarah ke timur yang berasal dari aktivitas erupsi gunung anak Krakatau menandakan energi yang masih dikeluarkan hingga siang ini,” terang Andi.

Sepanjang pengamatan yang dilakukan, GAK mengalami kegempaan letusan 281 kali, dengan amplitudo 40-58 mm, durasi 24-120 detik. Embusan 28 kali, amplitudo 6-24 mm dan durasi 17-61 detik. Data lain yang tercatat, diantaranya tremor harmonik empat kali, amplitudo 7-39 mm, durasi 11-77 detik. Vulkanik dalam enam kali, amplitudo 40-45 mm, durasi 13-17 detik. Kegempaan tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 2-27 mm.

Erupsi GAK yang berada di Selat Sunda, suara gemuruhnya terdengar oleh warga yang tinggal di kawasan pesisir Rajabasa dan Bakauheni. Namun demikian, warga yang berprofesi sebagai nelayan, masih tetap melakukan aktivitas melaut tanpa khawatir. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, telah menggelar simulasi penanganan bencana alam gempa dan tsunami, sebagai salah satu dampak jika GAK mengalami erupsi besar. Simulasi menjadi persiapan menghadapi dan meminimalisir resiko bencana.

Di sejumlah lokasi yang berada di pesisir, berhadapan dengan Selat Sunda, telah dibuat lokasi shelter perlindungan, dan jalur evakuasi. Di dekat pos pantau GAK, dipasang antena detektor gempa dan tsunami, yang bisa mengirimkan peringatan saat ada potensi gempa dan tsunami.

Baca Juga
Lihat juga...