hut

Film Keira, Dilema Perempuan 7 Kepribadian

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Tak banyak yang tahu, ada orang yang punya kepribadian ganda hingga tujuh kepribadian. Keira mengalaminya dengan gangguan identitas disosiatif, gangguan psikologis, di mana kepribadiannya terpecah, sehingga muncul kepribadian yang lain.
Banyak ekspresi dari kepribadian lain (alter ego) yang muncul dari dalam dirinya, karena ia tidak dapat mewujudkan hal yang ingin dilakukannya. Demikian yang mengemuka dari film Keira.
Film ini diawali dengan adegan di pinggir pantai yang tenang, di mana Ayah Keira (Yan Widjaya) sedang menghiasi mainan karosel dengan kuasnya.
Tak lama, seorang gadis pantai (Djenar Maesa Ayu) datang dan memuji mainan yang dibuatnya. Ayah Keira langsung menawarkan mainan itu kepadanya, dan gadis pantai menerimanya dengan suka cita.
Ketika gadis pantai ingin pulang, Ayah Keira tiba-tiba mengambil batu lalu memukul gadis pantai dari belakang dengan membabi buta. Kejadian itu terjadi di depan mata Keira kecil (Bulan Putri Ayu), yang kemudian seketika itu pula Keira kecil membunuh sang ayah dengan pisau di belakang kepala.
Dari adegan awal yang sangat mengejutkan itu, kemudian langsung melompat pada adegan Keira dewasa (Angelica Simperler) yang tinggal di rumah seorang diri, dan selalu bingung menghadapi orang-orang di sekitarnya.
Setiap pagi, Keira selalu terbangun dengan perasaan was-was dan penyebabnya sendiri tidak ia ketahui. Hal itu selalu Keira ceritakan kepada Darma (Ray Sahetapy), seorang laki-laki paruh baya yang selalu mau mendengarkan kerisauan Keira selama ini.
Selanjutnya, sebuah adegan di rumah, di mana teman Keira, yakni Rachel (Tiga Setia Gara) dan Sari Asih (Gabriella Cecillia), bertengkar hebat di depan Keira.
Keira tampak tahan mendengar pertengkaran kedua temannya, apalagi ia sedang mengalami sesuatu pada dirinya, ia sendiri bingung menghadapinya.
Pada suatu hari, Keira berjalan-jalan melihat sebuah syuting film dan salah seorang teman kecilnya, Gunawan (Ferly Putra), mengenalinya dan mengajak untuk bermain, karena kebetulan kekurangan pemain.
Keesokannya, Keira kembali mengalami hal serupa yang menyebabkan dirinya terbangun beberapa hari kemudian, yang lagi-lagi ia sendiri bingung menghadapinya.
Wajah Keira yang cantik rupawan ini rupanya membekas pada salah satu kru film, Rocky Jeff (Ferry), yang rupanya ingin bertindak lebih jauh, namun Keira memberontak. Keira tidak mengerti mengapa hal itu selalu terjadi pada dirinya.
Apa yang Keira alami pada hari berikutnya, Keira tidak pernah menyadari semua perbuatannya. Termasuk keanehan sifat yang muncul dalam dirinya. Semua misteri yang ia hadapi perlahan menyiksa hidup Keira.
Setiap saat bisa muncul sifat dominan yang tak pernah ia pahami. Tidak kecuali hadirnya pribadi-pribadi lain, yang tak pernah menjadikan Keira sebagai pribadi tunggal. Keira ingin sekali dirinya sembuh, dan menyingkirkan serangkaian masa lalunya yang kelam.
Film ini dramatis dan sangat psikologis, di mana kita menonton harus mengerutkan kening, memikirkan apa yang terjadi sesungguhnya menimpa Keira yang begitu dilematis, hingga mempunyai tujuh kepribadian.
Sutradara Harry Dagoe atau yang dahulu lebih dikenal dengan nama Harry Suharyadi, termasuk sutradara yang anti-mainstream dalam menggarap film-filmnya.
Harry berani melawan arus, di mana tahun ini hampir semua sutradara berlomba membuat film horor, tapi Harry dengan mantap mau menggarap film drama thriller yang mengangkat kisah dilema perempuan dengan tujuh kepribadian.
Akting Angelica Simperler lumayan dalam memerankan karakter Keira yang punya alter-ego. Dalam film ini, setiap alter-ego digambarkan oleh orang yang berbeda-beda, yang membuat Angelica tampak tidak sepenuhnya total memerankan Keira. Meski demikian, tampak Angelica berusaha main semaksimal mungkin.
Film ini cukup terbantu dengan akting aktor gaek, Ray Sahetapy, yang memperkuat film ini dengan aktingnya yang memang sudah matang. Begitu juga, akting Djenar Maesa Ayu, yang muncul meski hanya sebentar di film, tapi mencuri perhatian penonton.
Yang perlu diapresiasi adalah akting Yan Widjaya, wartawan senior, yang tampak semakin menunjukkan kemampuan aktingnya yang semakin matang. Pengalamannya dalam menonton dan menilai film yang menjadi referensinya dalam berakting.
Ini film idealis seorang Harry yang konsisten untuk selalu melawan arus dengan menyajikan tema film yang berbeda-beda, yang kali ini film grenre thriller psikologis. Pilihan yang punya risiko sangat besar, tidak banyak menarik perhatian masyarakat. Tapi, konsistensi Harry memang patut diapresiasi.
Film ini beda dengan film-film Indonesia pada umumnya, yang memberikan sumbangan pemahaman dan sekaligus pengetahuan pada masyarakat, bahwa ada orang yang punya kepribadian ganda sampai tujuh kepribadian.
Sebuah film yang tak melulu hiburan semata, tapi juga menjadikan bahan pelajaran psikologi yang memberi warna tersendiri dan memperkaya tema film Indonesia.
Lihat juga...