Gedung Juang Tambun, Destinasi Wisata yang Terabaikan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

178

BEKASI — Usang, kumuh tak terawat, tergambar saat memasuki areal Gedung Juang 45, Jl. Sultan Hasanudin No.39, Setiadarma, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Gedung yang memiliki nilai sejarah dari kolonial Belanda itu terkesan terbiarkan begitu saja.

Ilham penjaga Gedung Juang, dari Sanggar Pejuang. Foto: Muhammad Amin

Gedung Juang Tambun adalah sebuah situs sejarah Sebelum Revolusi Nasional. Bangunan ini bernama Landhuis Tamboen atau Gedung Tinggi. Nama itu tetap dikenal orang orang tua dulu, tapi saat ini, orang lebih dikenal sebagai Gedung Juang Tambun.

“Beginilah kondisinya, gedung juang itu kosong, dan hanya jadi sarang kalong. Tahinya selalu memenuhi lantai dua Gedung Juang,” kata Ilham, petugas secara suka rela yang membersihkan kondisi gedung juang saat ditemui, Minggu (4/11/2018).

Dikatakan, gedung juang tidak terkelola, oleh Pemerintah Daerah Baik Kabupaten ataupun Provinsi Jawa Barat. Ilham mengaku, hanya dia bersama anggota Sanggar Pejuang, secara sukarela merawat, membersihkan halaman dan di dalam Gedung Juang dua tingkat itu.

Menurutnya, Gedung Juang Tambun, selama ini dimanfaatkan untuk kegiatan yang dilakukan Sanggar Pejuang untuk latihan pencak silat, serta pertunjukan musik etnik. Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap malam Rabu, Sabtu dan sesekali hari Minggu.

“Kami dari Sanggar Pejuang, selain merawat juga memanfaatkan lokasi Gedung Juang yang memiliki areal luas untuk kegiatan positif. Harapan dapat menarik minat pengunjung untuk tetap melihat Gedung Juang, melalui kegiatan seni,” tandas Ilham.

Dia berharap pemerintah daerah Kabupaten Bekasi atau Provinsi Jawa Barat dapat mengelola Gedung Juang, sehingga bisa seperti gedung di Kota Tua, Jakarta sebagai destinasi wisata sejarah. Tidak seperti saat ini orang hanya datang melihat gedung juang tetapi isinya kosong.

Ilham, mengaku pengelolaan dilakukan secara sukarela dari tim Sanggar Pejuang yang berjumlah sekira 50 orang. Tanpa digaji mereka membersihkan lingkungan dan menjaga Gedung Juang untuk tidak di tiduri gelandangan ataupun pengamen yang bisa merusak.

Pantauan Cendana News di lokasi, di areal Gedung Juang Tambun Selatan Kabupaten Bekasi diisi beberapa unit mobil Damkar, bangunan ruangan di sampingnya banyak ditempati plang organisasi kemasyarakatan dan ada juga ditinggali pegawai Damkar sendiri.

“Ada dua plang bertuliskan LSM di areal gedung ini. Tapi itu hanya plang saja orangnya tidak pernah datang,”tegas Ilham.

Untuk diketahui Gedung Juang, atau dulu dikenal gedung tinggi itu pernah menjadi tempat perundingan pertukaran tawanan antara Belanda dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Pejuang kemerdekaan Indonesia dipulangkan oleh Belanda ke wilayah Bekasi dan tentara Belanda dipulangkan ke Batavia melalui Stasiun Tambun yang lintasan relnya tepat berada di belakang gedung tersebut.

“Gedung ini, dulunya milik pribadi orang China. Dibangun tahun 1910. Bahkan di satu kamar konon katanya pernah disinggahi Presiden RI Pertama, ketika akan menuju Rengas Dengklok,” papar Ilham menunjukkan kamar yang pernah ditempati Soekarno.

Menurut Ilham, bagian muka Gedung Juang, itu yang menghadap ke lintas rel kereta. Tetapi yang terlihat dari Jalan Raya Sultan Hasanuddin, tepat di depan pasar Tambun Selatan adalah bagian belakang. Gedung Juang lanjutnya, di cat lima tahun lalu, karena desakan banyak pihak.

“Diharapkan jika kembali diberitakan kondisi gedung juang ini, dapat menjadi perhatian pemerintah untuk merawat dan memanfaatkan gedung ini menjadi tempat museum atau lainnya agar menjadi tempat wisata baru di Bekasi,” pungkas Ilham.

Baca Juga
Lihat juga...