GHSA 2018, Bahas ketahanan Kesehatan Global

Editor: Mahadeva WS

206

BADUNG – Indonesia menjadi tuan rumah internasional Global Health Security Agenda ke-5 (GHSA). Pertemuan di gelar di Bali, 6-8 November 2018.

Pertemuan membahas ketahanan kesehatan global tersebut, diikuti 600 delegasi, dari 49 negara yang tergabung dalam GHSA. Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, mengatakan, GHSA merupakan pertemuan tahunan, dan tertinggi dalam forum yang bertujuan meningkatkan komitmen negara dalam mencapai ketahanan kesehatan global, regional, dan nasional.

Pertemuan tersebut juga menjadi ajang, berbagi pengalaman dan praktik terbaik, dalam upaya mencegah, mendeteksi, dan merespons cepat berbagai penyakit menular yang berpotensi wabah. Pertemuan kali ini, diharapkankan mampu mendorong tumbuhnya komitmen negara, dalam mengatasi ancaman keamanan kesehatan global. Hal itu dilakukan dengan peluncuran GHSA 2024 Framework dan pengesahan Deklarasi Bali.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, dan Perwakilan GHSA memukul kentongan membuka pertemuan – Foto Sultan Anshori

“Disamping  dalam bentuk Pleno yang terbagi ke dalam 5 Sesi yang membahas Advancing Global Partnership pada tingkat global, regional dan nasional serta koordinasi Action Packages, dalam pertemuan ini juga akan digelar delapan Side Events dan empat back-to-back Meeting, jadi saya harap pertemuan ini dapat berjalan dengan lancar dan dengan keindahan alam Bali dapat menjadi inspirasi para peserta dalam mengikuti agenda tahunan ini,” tandas Nila Moeloek.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, mengapresiasi pertemuan GHSA 2018. Menurutnya konteks nasional dari pertemuan tersebut, diharapkan dapat mendorong penguatan ketahanan kesehatan nasional. Mampu mendorong lebih meningkatnya kerja sama lintas sektor, serta menjadi ajang bagi Indonesia untuk berbagi praktik terbaik, dalam pencapaian ketahanan kesehatan global dan nasional.

“Peningkatan ancaman keamanan kesehatan global tersebut menjadi ancaman serius bagi sistem kesehatan nasional dan mengakibatkan kerusakan besar bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.

Data Bank Dunia menunjukkan, outbreak wabah Ebola di Guinea, Liberia dan Sierra Leone di 2014, mengakibatkan pertumbuhan negatif perekonomian ketiga negara tersebut. Tercatat lebih dari setengah pertumbuhan ekonomi sebelum outbreak.

Untuk itu, Pertemuan GHSA di Bali, akan menjadi momentum untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah dan mengimplementasikan secara penuh IHR (2005), antara lain penyelesaian Rencana Aksi Nasional Keamanan Kesehatan Global, penguatan kelembagaan di Pusat dan Daerah melalui penuntasan Instruksi Presiden Presiden tentang Peningkatan Kemampuan dalam Mencegah, Mendeteksi, dan Merespons Wabah Penyakit, Pandemi Global dan Kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia  yang sampai saat ini telah sampai di Kantor Presiden.

Baca Juga
Lihat juga...