Hadapi Bencana, Pemkab Lamsel Gelar Simulasi Kesiapan Penanganan

Editor: Satmoko Budi Santoso

160

LAMPUNG – Bencana alam kerap tidak bisa diprediksi, membuat Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) melakukan antisipasi dengan persiapan penanggulangan bencana.

Pada simulasi penanggulangan bencana di Dermaga Bom, Kalianda, Lampung Selatan, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lamsel, Nanang Ermanto menyebut, wilayah Lamsel memiliki potensi bencana gunung meletus, gempa bumi, tsunami, longsor, banjir, puting beliung dan bencana lain.

Sebagai upaya melakukan penanganan serta penanggulangan bencana, Nanang Ermanto menyebut, perlu pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap kerawanan dan ancaman bencana.

Antisipasi dini dalam bentuk simulasi bencana sangat penting meski semua warga berharap bencana tersebut tidak datang. Simulasi penanganan bencana, diakui Nanang Ermanto, sangat penting untuk memberi edukasi kepada masyarakat agar bisa siaga dan tanggap dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana yang akan datang.

Plt Bupati Lampung Selatan, Nanang Ermanto, menyalami peserta simulasi gempa bumi dan tsunami di Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Simulasi penanganan bencana sekaligus kejadian bencana alam yang terjadi di wilayah Indonesia bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat. Banyaknya korban jiwa dan harta benda menjadi pemicu pemerintah daerah, pentingnya perencanaan dan pengaturan dalam penanggulangan bencana.

Tanggung jawab penanganan bencana menjadi tugas pemerintah daerah, serta pihak terkait termasuk masyarakat.

“Berkaca dari sejumlah bencana di Indonesia tahun ini, mitigasi bencana dapat mendorong semua komponen masyarakat serta berbagai unsur melibatkan diri dalam penanganan bencana alam,” terang Plt Bupati Lampung Selatan, Nanang Ermanto, dalam kegiatan simulasi penanganan bencana gempa bumi, tsunami, di Dermaga Bom Kalianda, Selasa (6/11/2018).

Nanang Ermanto menambahkan, unsur pemerintah di antaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Satpol PP, telah berkoordinasi dengan unsur TNI, Polri, saat terjadi bencana.

Berbagai bencana alam seperti banjir di wilayah Sragi Lamsel, menjadi contoh konkret, sinergi berbagai unsur dalam penanganan bencana alam. Simulasi tersebut diakuinya sekaligus menjadi cara agar masyarakat bisa menangani secara mandiri, saat awal bencana, hingga meminimalisir korban bencana.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Penanggulangan Bencana, Kementerian Dalam Negeri, Elvius Dailami, menyebut, penanganan bencana di Indonesia masih kurang maksimal.

Ia mencontohkan, kejadian terbaru saat bencana alam gempa bumi, tsunami, di Sulawesi Tengah, penanganan bencana oleh pemerintah pada tahap awal masih belum maksimal. Kejadian tersebut menjadi contoh Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Indonesia harus selalu ditingkatkan.

Elvius Dailami, Direktur Penanggulangan Bencana, Kementerian Dalam Negeri RI – Foto Henk Widi

Pemerintah, diakuinya, telah mengeluarkan UU No 24 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Meski demikian, dukungan anggaran masih minim sehingga dalam beberapa kejadian bencana penanganan juga masih minim.

Elvius Dailami menyebut, Kemendagri telah menyiapkan payung hukum untuk dukungan anggaran agar setiap pemerintah daerah, kabupaten/kota, selalu siap dalam penanganan bencana alam.

“Kita tidak berharap bencana alam terjadi, namun ada upaya meminimalisir bencana, sekaligus mendorong kesiapsiagaan masyarakat akan bencana,” beber Elvius Dailami.

Terkait potensi bencana alam di Indonesia, Eni Supartini, Kasubdit Direktorat Perencanaan Siaga, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, Lamsel menjadi salah satu wilayah rawan bencana dengan risiko tinggi di Indonesia.

Keberadaan Gunung Anak Krakatau dengan potensi erupsi besar berdampak tsunami bahkan telah dilakukan penelitian terkait risiko bencana bagi Provinsi Banten, Lampung, dan sekitarnya.

Kabupaten Lamsel, disebut Eni Supartini, menempati urutan ke-84 dari sebanyak 800 lebih wilayah rawan bencana alam di Indonesia yang harus selalu siaga menghadapi bencana alam.

Ia berharap, pemerintah daerah secara rutin memberi sosialisasi kepada masyarakat, terkait mitigasi bencana. Memberi pemahaman kepada masyarakat dampak tsunami sekaligus upaya penyelamatan yang singkat saat bencana alam terjadi.

Simulasi yang digelar oleh Pemkab Lamsel disebutnya hanya menjadi salah satu cara meminimalisir risiko korban dan meningkatkan kesadaran penanggulangan bencana secara mandiri.

Pada simulasi penanganan bencana, digelar dengan kejadian gempa bumi disertai tsunami di Dermaga Bom Kalianda. Digambarkan sejumlah korban berjatuhan di antaranya luka-luka, meninggal dunia. Unsur tim siaga bencana, PMI, SAR, tim medis, Polri, TNI, dan unsur lain dilibatkan.

Penanganan bencana tersebut dilakukan dengan semua jenis peralatan di laut dan darat untuk melakukan pertolongan segera terhadap para korban. Simulasi sekaligus menjadi cara agar petugas selalu siap sedia dalam kondisi apa pun.

Baca Juga
Lihat juga...