Hujan Datang, Pemprov NTB Sambut Dengan Reboisasi

Editor: Mahadeva WS

171
Gubernur NTB, Zulkiflimansyah/foto : Turmuzi

MATARAM – Musim hujan mulai memasuki sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Datangnya hujan, membuat kawasan yang tadinya kering dan tandus, terutama kawasan hutan, diharap bisa menghijau kembali.

“Selama musim kemarau, kekeringan melanda, akibatnya kawasan hutan sebagai penyangga air mengalami gundul, karena itu, untuk mengembalikan fungsi kawasan hutan, Pemprov NTB akan melakukan penghijauan kembali, selama musim hujan tahun ini,” kata Gubernur NTB, Zulkiflimansyah, Rabu (7/11/2018).

Kondisi sebagian besar kawasan hutan di NTB, saat ini sangat memprihatinkan. Akibat aksi perambahan dan pembalakan liar, baik di Pulau Lombok maupun Sumbawa, kawasan hutan menjadi rusak. Hutan yang masuk di dalam kawasan hutan konservasi, terpantai tidak luput dari aksi pembalakan liar. Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, bisa mengancam kehidupan masyarakat NTB.

Gubernur NTB telah meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB, melakukan kroscek dan pendataan, kawasan hutan yang mengalami kerusakan. “Kegiatan penghijauan atau reboisasi kawasan hutan gundul, selain dilakukan pemprov dan pemda kabupaten, juga melibatkan masyarakat, aktivis dan pegiat lingkungan,” tandasnya.

Zul menyebut, persoalan pembalakan liar kawasan hutan, selain menyangkut masih rendahnya kesadaran masyarakat. Juga menyangkut persoalan sedikitnya tenaga pengawasan. Luas kawasan hutan di NTB mencapai ratusan ribu hektare, tidak mungkin diawasi secara maksimal, dengan ketersediaan tenaga personil yang ada. “Sebagai solusinya, jumlah personil tenaga pengawas di Dishut NTB harus ditambah, dimana diwaktu yang sama, tentu dilakukan reboisasi untuk penghijauan kembali hutan-hutan kita,” jelasnya.

Sebelumnya, Kepala DLHK NTB, Madani Mukarrom, menyebut, data KLHK NTB, luas lahan kritis di NTB mencapai 578.645,97 hektare. 13,19 persen kerusakan, terjadi di kawasan hutan. Kawasan hutan di NTB memiliki luas 1.071.722,83 hektare.Yang merupakan hutan lindung ada 41,91 persen, hutan produksi 41,89 persen dan hutan konservasi seluas 16,20 persen. Pembukaan lahan untuk bercocok tanam dan kebakaran hutan, baik karena faktor cuaca, maupun yang sengaja dibakar, juga menjadi penyebab terjadinya kerusakan hutan.

Baca Juga
Lihat juga...