Ikuti Ketentuan, Operator Kapal Merak-Bakauheni Mengganti Kapal

Editor: Mahadeva WS

192

LAMPUNG – Pemberlakukan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub), tentang Pengaturan Ukuran Kapal Angkutan Penyeberangan di Lintas Merak-Bakauheni, mulai membuat sejumlah perusahaan jasa angkutan ancang-ancang.

Yus Sondakh, Kepala Cabang PT. Windu Karsa, yang mengelola tiga armada kapal roll on roll off (Roro), satu diantaranya KMP Windu Karsa Dwitya, yang memiliki spesifikasi kapal 2.553 Gross Ton (GT) dipastikan tidak akan beroperasi di Selat Sunda. Hal itu dikarenakan, kapal tersebut memiliki spesifikasi kurang dari 5.000 GT.

Tercatat, dua kapal milik PT. Windu Karsa yaitu KMP Windu Karsa Pratama dan KMP Adinda Windu Karsa, yang masih bisa beroperasi di lintas Merak-Bakauheni, karena memenuhi spesifikasi ketentuan 5.000 GT.

Meski harus menghadapi kerugian, operator pelayaran tetap akan mengikuti regulasi Permenhub bernomor 88 tersebut. Sejumlah perusahaan yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) dan Indonesian National Ferryowners Association (INFA), akan mengikuti ketentuan yang berlaku.

“Sebagai salah satu operator, tentunya perusahaan harus mematuhi Peraturan Menteri Perhubungan sebagai regulator, dan kami akan meningkatkan pelayanan dengan sejumlah kapal roll on roll off yang dimiliki,” terang Yus Sondakh, saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (11/11/2018).

Yus Sondakh menyebut, sosialisasi Permenhub 88, sudah dilakukan sejak 2014. Sejumlah operator pelayaran, mendatangkan kapal Roro berbobot lebih dari 5.000 GT. Hal tersebut dilakukan hingga dimulainya ketentuan yaitu 24 Desember 2018. Saat ini tercatat, kapal yang boleh beroperasi sesuai spesifikasi terbaru, berjumlah 68 kapal.

Ananto Widodo, Kepala Cabang PT. Jembatan Nusantara, menyebut, memiliki sembilan kapal Roro di lintas Merak-Bakauheni. Sebagai operator pelayaran, yang tergabung dalam INFA, delapan kapal yang dikelola masih tetap bertahan di lintas Merak-Bakauheni.

Sebanyak satu kapal yang dipastikan akan pindah lintasan adalah, KMP Prima Nusantara, dengan spesifikasi 2.773 GT. Delapan kapal lain yang masih bertahan diantaranya, KMP Mitra Nusantara, KMP Titian Murni, KMP Mabuhay Nusantara, KMP Royal Nusantara, KMP Panorama Nusantara, KMP Safira Nusantara, KMP Safira Nusantara, KMP Farina Nusantara dan KMP Titian Nusantara. Semua kapal tersebut memiliki ukuran 5.002 GT hingga 8.915 GT. “Pembatasan ukuran kapal menjadi salah satu kesempatan operator untuk memberi pelayanan maksimal kepada pengguna jasa, jadi regulasi tetap kami ikuti,” tandas Ananto Widodo.

Calon penumpang kapal mengantri diloket pembelian tiket elektronik pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan – Foto Henk Widi

Regulasi yang diterapkan tersebut, sesuai dengan kebutuhan lancarnya arus penumpang orang, serta distribusi barang dan jasa, dari Sumatera ke Jawa maupun sebaliknya. Keberadaan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), yang telah difungsikan, meningkatkan volume kendaraan. Dan hal itu harus diimbangi dengan penyediaan infrastruktur pelabuhan, kapal yang memadai, serta jadwal yang telah diatur. Kondisi tersebut, harus didukung dengan sistem pembelian tiket secara elektronik.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (DPC Gapasdap) Bakauheni, Warsa, menyebut, selama empat tahun Permenhub 88 disosialisasikan dan sudah saatnya diterapkan. Meski ada 21 perusahaan pelayaran yang tergabung dalam Gapasdap dan Infa di lintas Merak Bakauheni, jumlah kapal yang akan diizinkan untuk beroperasi dijalur tersebut hanya 68 kapal Roro.

Dampaknya, kapal dengan ukuran kecil, sebagian harus siap pindah lintasan. “Regulasi tersebut tentunya harus diimbangi dengan perbaikan fasilitas dermaga, sehingga pelayanan bisa ditingkatkan,” beber Warsa.

Operator pelayaran yang memiliki kemampuan finansial, sudah melakukan penambahan kapal baru selama empat tahun terakhir. Operator membeli kapal dengan spesifikasi bobot di atas 5.000 GT. PT.Bukit Merapin NL dengan KMP Seira yang memiliki bobot 11.604 GT, PT Aman Lintas Samudera dengan KMP ALS Elisa dengan bobot GT 6.913. Jumlah kapal yang dibatasi hanya 68 unit, diharapkan bisa meningkatkan pelayanan jasa angkutan di lokasi tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...