Islam di Indonesia Dekat dengan Kebudayaan

Editor: Mahadeva WS

285
Muhammad AS Hikam (Foto Akhmad Sekhu)

JAKARTA – Indonesia, dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah. Hanya saja saat ini, menurut Muhammad AS Hikam, Indonesia dikenal bukan bangsa yang ramah, tetapi bangsa yang gampang marah.

Mantan menteri di era pemerintahan Gus Dur tersebut mengingatkan, Islam di Indonesia dekat dengan kebudayaan. Sehingga dalam dakwah atau ceramah, semestinya dengan menggunakan pendekatan budaya. “Di tahun politik seperti sekarang ini, ada fenomena memprihatinkan, yaitu semakin tipisnya kapasitas kita memahami orang lain,” kata Muhammad AS Hikam, dalam acara diskusi dan bedah buku bertema Islam, Pancasila dan Deradikalisasi: Meneguhkan Nilai Keindonesiaan, Senin (5/11/2018).

Lelaki kelahiran Tuban, Jawa Timur, 26 April 1958 itu membeberkan pengamatannya, tidak hanya mengenai marah yang dimiliki Indonesia. Bangsa ini juga memiliki selera humor yang tinggi. Namun saat ini, selera humornya sudah semakin hilang. “Seperti di antaranya, guyonanya Prabowo dijadikan alat untuk demo yang berlebihan, memang orang bisa tersinggung dengan joke, tapi joke memang, kalau tidak paham pasti membuat orang tersinggung,” ungkap Menteri Negara Riset dan Teknologi pada Kabinet Persatuan Nasional tersebut.

Menurutnya, femonena semakin tidak punya solidaritas, menunjukkan ada sesuatu yang salah dengan kebudayaan yang ada di tengah masyarakat. “Kalau semua orang ramai-ramai mempersalahkan joke, hanya karena tersingung, jangan-jangan, lama-lama, akan menutup sesi goro-goro dalam pertunjukan wayang,” paparnya.

Sesi goro-goro, dalam pertunjukan wayang, sebenarnya sangat menyinggung perasaan. “Tapi karena membawakan goro-goro dengan cara pendekatan kebudayaan dalam pertunjukan wayang jadi tidak ada yang tersinggung,” tandasnya.

Agama disebutnya, memiliki peran penting dalam mendekatkan masyarakat suatu daerah dengan daerah lain. Dengan agama, masyarakat dapat bersatu bersatu dan saling memahami, tanpa saling tersinggung. Islam hadir di Indonesia menurut Hikam, sebagai penengah atau berada di tengah. “Karena Islam di Indonesia memang dekat dengan kebudayaan karena Islam itu bersifat kultural,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...