Jarang Diminati, Paramitha Hioe Kembangkan Yoga Anak dan ABK

Editor: Satmoko Budi Santoso

256

JAKARTA – Mengajari anak memang harus lebih sabar, lebih kreatif dan lebih bervariasi. Karena anak zaman sekarang berbeda dengan anak zaman dulu. Sekarang teknologi sudah sedemikian canggih yang tentu sangat mempengaruhi perkembangan anak-anak.

Demikian ini sangat disadari Paramitha Hioe, instruktur yoga untuk anak usia dini, yang memang dekat dengan dunia anak-anak dan bisa memahami keinginan serta kemauan anak zaman sekarang. Baginya, memang sangat berbeda dengan dirinya sebagai anak zaman dulu.

“Saya mengajar yoga sudah sekitar 16 tahun lebih, “ kata Paramitha Hioe, instruktur yoga untuk anak usia dini, kepada Cendana News, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Senin (26/11/2018).

Mimith, sapaan akrabnya, membeberkan awal ketertarikan pada yoga, untuk diri sendiri. Tapi karena yoga anak sangat jarang sekali, kemudian ia mempelajari yoga untuk anak.

“Sebelumnya saya juga sudah dapat sertifikasi brain gym, yaitu kinesolology untuk anak, dari Australia. Saya belajar brain gym, kemudian transforhard. Semua ilmu kesehatan yang bisa dipraktikkan untuk anak-anak, orang dewasa dan juga anak-anak berkebutuhan khusus (ABK),” bebernya.

Mimith juga mengajar yoga untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

“Saya juga sering mengadakan pelatihan untuk para guru yang akan mengajar yoga untuk anak-anak. Kelebihan anak zaman sekarang, kalau kita kasih satu pertanyaan, sudah bisa menjabarkan jawabannya. Kalau zaman dulu, belajar melalui buku. Sedangkan anak sekarang lebih canggih dengan browsing, karena dibekali gadget, “ terangnya.

Sayangnya juga, anak-anak sekarang, lanjut Mimith, lebih banyak jajan kuota daripada jajan untuk makan.

“Selama pemakaian gadget itu didampingi orang tua, bukan hanya sekadar untuk main game, saya rasa bagus. Tapi harus ada manajemen waktu untuk main game, ” paparnya.

Mimith juga menyebut, budaya membaca di Indonesia masih sangat lemah maka ada kampanye menyebarkan virus membaca.

Menurut Mimith, sebaiknya memang ada program setiap hari orangtua membacakan cerita 20 menit kepada anak melalui buku.

“Kalau ke toko buku, anak juga seharusnya didampingi untuk memilih buku. Bukan membiarkan dan tinggal membayar di kasir. Bahwasanya kita harus tahu buku yang memang sesuai untuk anak. Pesan moral dan aspek pembelajarannya apa yang didapat,” tegasnya.

Mimith mengharapkan, para pengajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk lebih telaten.

“Para pengajar PAUD juga harus lebih kreatif dan membuat variasi metode pembelajaran,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...