Kearifan Lokal Dukung Pencapaian Swasembada Pangan

159
Ilustrasi lahan sawah - Dokumentasi CDN
TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, mengedepankan nilai kearifan lokal dalam mendukung program swasembada pangan.
“Utamanya dalam memanfaatan sumberdaya alam (SDA) secara lestari,” kata Gubernur Kaltara, Irianto Lambrie, di Tanjung Selor, Kamis (8/11/2018).
Ia mengungkapkan, nilai kearifan lokal yang tertanam pada masyarakat adat di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Kayan, terbukti mampu mendukung upaya pelestarian.
Selama ini, kebiasaan dan norma yang berkembang, bersifat menyelaraskan pemenuhan kebutuhan hidup dan kelestarian alam dalam jangka waktu panjang.
Berdasarkan laporan karakteristik DAS Kayan yang diteliti Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, terbukti nilai lokal menjadi acuan pemanfaatan seluruh sumber daya yang tersedia pada DAS Kayan.
Dari sisi teknis, hal tersebut membentuk budaya masyarakat untuk tidak mengeksploitasi secara berlebihan, dan menggunakan alat bantu yang tidak ramah lingkungan.
“Cara-cara seperti ini yang harus mendapat dukungan penuh, agar ekologi DAS Kayan bisa terus terjaga, di tengah perannya mendukung pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat,” terangnya.
Nilai kearifan lokal, kata Irianto, juga berfungsi sebagai sarana konservasi DAS Kayan, dari berbagai macam faktor yang dapat menurunkan kualitas air serta habitat di sekitarnya.
Kemampuan masyarakat ini, salah satunya juga bisa dapat dilihat dari berbagai varietas jenis tanaman yang dibudidayakan di sekitar aliran sungai.
“Salah satunya adalah varietas jenis padi yang terpelihara dan tidak memiliki efek negatif dalam kegiatan produksinya, dari penanaman hingga proses panen,” imbuh Gubernur.
Sesuai laporan yang diterima, Gubernur mengungkapkan, bahwa banyak hal menarik yang didapati di ruang lingkup masyarakat adat. Secara umum, masyarakat adat memiliki sistem ekonomi yang bersifat berkelanjutan dan mampu mewujudkan swasembada pangan untuk kelompoknya.
Di sisi lain, berdasarkan wawancara yang dilakukan pada masyarakat setempat di Desa Long Lejuh, tercatat banyak fenomena menarik yang menggambarkan eratnya hubungan antara masyarakat dengan lingkungan.
Seperti masih ada spesies macan dahan yang cenderung bersahabat dengan masyarakat.
“Bersahabat di sini dimaksudkan, adalah masyarakat setempat sudah terbiasa dalam menangani hewan ini,” ujarnya.
Kebiasaan hidup berdampingan yang saling menjaga, dikatakan masyarakat telah membentuk hubungan emosional sebagai sesama makhluk yang berada di sekitar DAS Kayan.
Kemudian yang juga menjadi ciri khas adalah habitat buaya yang dikatakan masyarakat masih kerap terlihat di tepi sungai DAS Kayan.
Menurutnya, keberadaan buaya sangat dihargai dan ada norma untuk tidak melukai sampai membunuh, ketika buaya tersebut tidak membahayakan.
Nilai kearifan lokal seperti ini muncul dari adanya bentuk adaptasi masyarakat yang sudah dilakukan dalam kurun waktu yang lama. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...