Kebersihan Dukung Pengembangan Obyek Wisata

Editor: Koko Triarko

229
LAMPUNG – Objek wisata pantai atau bahari di Kabupaten Lampung Selatan, menjadi salah satu destinasi favorit di kalangan wisatawan. Namun, upaya pengembangan seringkali menghadapi berbagai kendala, antara lain terkait faktor kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Demikian disampaikan Ketua Karang Taruna Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Budi Santoso, saat ditemiui Cendana News, Jumat (9/11/2018).
Ia mengatakan, pantai Belebuk Karang Indah yang dibentuk oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ragom Helau, dan dikelola oleh karang taruna, semula menghadapi kendala pantai yang kotor oleh sampah, tidak ada fasilitas water closet (WC) dan tempat bilas serta kotak sampah.
Lokasi wisata yang kotor oleh sampah itu merupakan pengalaman empat tahun silam. Sejumlah sampah berupa plastik, kayu, pecahan kaca serta berbagai jenis sampah lain, kerap mengotori pasir pantai di wilayah tersebut.
Budi Santoso, Ketua Karang Taruna Totoharjo. -Foto: Henk Widi
Sampah-sampah itu dominan berasal dari kiriman arus laut, yang terdampar di pantai, sehingga mengotori pantai yang membentang hingga dua kilometer tersebut.
Selain menimbulkan aroma tak sedap, merusak estetika, lokasi yang tidak bersih bahkan bisa menyebabkan pengunjung malas mandi di pantai.
Namun, pengelolaan yang sinergis antara pihak Desa Totoharjo, Pokdarwis Ragom Helau, Dinas Pariwisata Kabupaten Lampung Selatan dan Provinsi Lampung, membuat pantai lebih terkelola kebersihannya.
Terbentuknya Pokdarwis secara mandiri termasuk pengelolaan oleh masyarakat, mendorong pembersihan sampah di pantai Belebuk. Sampah disingkirkan ke lokasi pembuangan, lokasi berjualan makanan dan minuman dibuat dalam zonasi khusus serta dibuat papan larangan membuang sampah sembarangan.
“Butuh kesadaran dan dukungan dari pengelola dan pengunjung, untuk membuat lokasi wisata yang pernah dipenuhi sampah menjadi bersih, sehat, dan tentunya sesuai dengan sapta pesona, agar pengunjung betah untuk berwisata,” beber Budi Santoso.
Usulan untuk peningkatan kebersihan lingkungan pantai wisata, lanjut Budi Santoso, pun mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata Provinsi Lampung.
Puluhan sapu, serok sampah, kotak sampah portable sekaligus papan imbauan ikut mendukung upaya menjaga kebersihan lingkungan di pantai Belebuk.
Hasil pemasukan dari tiket masuk sebagian dipergunakan untuk membuat WC dan fasilitas kamar mandi bilas. Sebab, kebersihan seusai mandi di laut sangat penting dilakukan.
Keberadaan sampah di lokasi wisata, jelas Budi Santoso, bisa menyebabkan gangguan kesehatan. Sampah yang terbawa dari sungai, selanjutnya terbawa arus dominan terjadi selama musim hujan.
Beberapa jenis sampah membahayakan kesehatan tersebut, di antaranya limbah rumah tangga, limbah medis yang terbawa arus laut, dan Air laut yang kotor bisa mengakibatkan pengunjung yang mandi di pantai mengalami masalah kesehatan kulit berupa gatal-gatal.
“Upaya pembersihan terus dilakukan dengan adanya petugas khusus yang berkeliling, mengingatkan agar pengunjung membuang sampah pada tempatnya,” beber Budi Santoso.
Sementara, keberadaan sampah pecahan kaca yang tidak dibersihkan, menyebabkan luka pada kaki pengunjung, bahkan pernah terjadi. Ia pun mengimbau pengunjung, agar tidak membuang botol kaca ke pantai, meminimalisir bahaya tersebut.
“Kini, kami juga menyediakan kotak pertolongan pertama pada kecelakaan, sekaligus mendukung keberadaan penjaga pantai untuk mengawasi keselamatan pengunjung yang berenang,” beber Budi Santoso.
Kebersihan dan kesehatan lingkungan pantai juga menjadi perhatian di pantai wisata Minang Rua. Pantai yang dikelola oleh Pokdarwis Minang Rua Bahari tersebut, diakui oleh Edi Nuryadi, salah satu anggota Pokdarwis, sempat kotor oleh sampah.
Sampah yang terbawa arus laut berasal dari sungai kerap mengotori area pantai, sehingga pengelola terus melakukan upaya pembersihan setiap pekan.
Bantuan kotak sampah serta alat kebersihan lain dari Dinas Pariwisata Provinsi Lampung ikut mendukung upaya menjaga kebersihan.
“Pengelola pantai tidak pernah berhenti mengingatkan pengunjung yang membawa makanan penyebab sampah, agar membuang pada tempatnya,” beber Edi Nuryadi.
Memasuki musim hujan, kendala pengelolaan kebersihan sampah diakuinya justru berasal dari aliran sungai Kepayang dan arus laut. Sungai yang sempat mengecil debitnya saat musim hujan, kerap membawa berbagai jenis sampah rumah tangga.
Sebagian sampah bahkan berpotensi mengganggu kesehatan dan sukar terurai. Selain dari sungai terdekat, kiriman sampah dari wilayah lain diakui Edi Nuryadi kerap terjadi saat musim hujan.
Langkah pembersihan dilakukan oleh pengelola pantai dengan alat yang sudah disediakan.
Santi, salah satu pengunjung objek wisata pantai Minang Rua, menyebut kebersihan menjadi salah satu daya tarik wisata. Saat mengunjungi objek wisata, ia kerap dihadapkan dengan sampah bertebaran.
Namun, kesadaran masyarakat serta pengelola saat ini sudah cukup bagus, sehingga sejumlah objek wisata lebih bersih dan nyaman.
Fasilitas terkait kebersihan berupa WC dan penataan yang baik dilengkapi kotak sampah, membuat pantai lebih nyaman untuk dikunjungi.
Baca Juga
Lihat juga...