Kecamatan Tayu Pati, Kawasan Budi Daya Nila Salin

171
Ilustrasi kolam budi daya ikan - Foto : Dokumentasi CDN

PATI – Pemerintah Kabupaten Pati, menetapkan kawasan Kecamatan Tayu, menjadi kawasan budi daya ikan nila salin berkelanjutan. Kebijakan tersebut, sebagai respons atas jerih payah petambak yang ada di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, yang berhasil mengembangkan budi daya nila salin.

“Untuk tahap awal, kami tengah mengusulkan Surat Keputusan Bupati Pati tentang Penetapan Kawasan Nila Salin Berkelanjutan,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Edy Martanto, di Pati, Jawa Tengah, Kamis (8/11/2018).

Draf SK sudah dibuat, dan saat ini tengah disodorkan ke Bagian Hukum Sekretariat Daerah (Setda) Pati, untuk mendapatkan koreksi. Selain ditindaklanjuti dengan SK penetapan kawasan nila salin berkelanjutan, Dinas Kelautan dan Perikanan Pati, juga berencana menyusun roadmap pengembangan nila salin.

Termasuk menyiapkan rencana induk pengembangan kawasan nila salin. Budi daya nila salin di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, merupakan hasil kerja keras masyarakat setempat, yang berupaya mengembangkan nila salin.

Hasilnya, sudah bisa dilihat dengan mulai tumbuh berkembangnya budi daya tersebut. Bahkan mampu mendorong daerah lain ikut mengembangkan nila salin, yang memiliki prospek cukup besar. Luas lahan tambak untuk budi daya ikan nila salin di Kecamatan Tayu, saat ini mencapai 600 hektare. Dari lahan seluas itu, jumlah pembudidayanya mencapai 400-an orang. Daerah lain yang mulai mengikuti jejak pembudidayaan di Kecamatan Tayu, adalah warga di Kecamatan Dukuhseti serta Margoyoso.

Upaya Pemkab Pati merespons pembudidaya ikan nila salin cukup baik, karena sejumlah investor yang menghadiri Pati Business Forum juga diajak mengunjungi tempat budi daya nila salin di Desa Jepat Lor, Kecamatan Tayu.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, menobatkan Pati sebagai satu-satunya kawasan budi daya nila salin terbesar di Indonesia. Komoditas nila salin merupakan jenis nila unggul, yang sebelumnya telah melalui proses adaptasi dari semula salinitas 0 ppt (tawar), ke salinitas mencapai 20 ppt (payau). Pertumbuhan ikan nila salin lebih cepat, dan harganya juga lebih baik. Cita rasa dagingnya lebih disukai konsumen, sehingga secara ekonomi, ikan nila salin sangat menjanjikan. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...